Rahasia di Balik Penciptaan Manusia: Bukti Cinta Sang Khaliq yang Sering Terlupakan

Ustadz Umar Husein Assegaf
Ustadz Umar Husein Assegaf

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Kehidupan modern seringkali membuat manusia lupa akan hakikat penciptaannya dan tanda-tanda kebesaran Tuhan yang tersebar di alam semesta. Melalui kajian tafsir, kita diajak untuk kembali merenungi ayat-ayat Al-Qur’an agar iman tidak sekadar menjadi identitas, melainkan kekuatan yang menggerakkan jiwa.

Kajian Tafsir Al-Qur’an ini dilaksanakan pada Sabtu, 14 Februari 2026, bertempat di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta. Narasumber dalam kesempatan tersebut adalah Ustadz Umar Husein Assegaf, yang secara spesifik membedah awal Surah Al-Jatsiyah dan memberikan pesan-pesan moral terkait kehidupan sehari-hari bagi jamaah yang hadir maupun yang menyimak secara daring.

Pada awal pemaparannya, Ustadz Umar menjelaskan bahwa Surah Al-Jatsiyah secara umum tergolong sebagai surah Makkiyah, yang turun sebelum Rasulullah SAW berhijrah ke Madinah. Namun, terdapat pengecualian pada ayat ke-14 yang diturunkan di Madinah, menunjukkan bahwa proses turunnya Al-Qur’an terjadi secara bertahap sesuai dengan bimbingan langsung dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

Penamaan “Al-Jatsiyah” sendiri memiliki makna yang sangat menggetarkan hati, yaitu “yang berlutut”. Istilah ini menggambarkan suasana mencekam pada hari kiamat di mana seluruh manusia akan berlutut atau merangkak di atas lutut mereka karena ketakutan yang luar biasa saat menanti proses hisab, sebuah momentum yang tidak pernah terbayangkan dahsyatnya selama hidup di dunia.

Ustadz Umar juga menyoroti penggunaan huruf muqatta’ah “Ha Mim” di awal surah sebagai peringatan akan kemukjizatan Al-Qur’an. Meskipun Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf bahasa Arab yang dikenal masyarakat kala itu, tidak ada satu pun manusia yang mampu menandingi keindahan bahasa, kedalaman ilmu, maupun rahasia gaib yang terkandung di dalam ayat-ayatnya.

Lebih lanjut, narasumber menjelaskan sifat Allah sebagai Al-Aziz (Maha Perkasa) dan Al-Hakim (Maha Bijaksana). Segala rencana manusia di muka bumi ini pada hakikatnya berada dalam genggaman Allah, di mana tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang sia-sia, melainkan semuanya mengandung hikmah dan manfaat bagi ekosistem maupun kemaslahatan hamba-Nya.

Fenomena alam seperti penciptaan langit, bumi, dan bintang-bintang disebut sebagai tanda kekuasaan bagi mereka yang beriman. Ustadz Umar menekankan bahwa iman seseorang seharusnya bertambah ketika memperhatikan keteraturan semesta, karena segala sesuatu yang bergerak di langit maupun di bumi merupakan bukti nyata kehadiran Sang Pencipta.

Kajian ini juga membedah proses penciptaan manusia yang sangat detail, mulai dari air mani hingga menjadi daging dan tulang. Keajaiban biologis, seperti lunaknya tulang kepala bayi saat lahir agar bisa keluar dari rahim, disebut sebagai bukti kasih sayang Allah yang seringkali dianggap biasa oleh manusia yang mulai sombong setelah merasa dirinya kuat.

Selain urusan penciptaan manusia, tanda-tanda kekuasaan Allah juga terlihat pada siklus alam harian. Pergantian siang dan malam yang konsisten, turunnya hujan sebagai sumber rezeki, serta hembusan angin yang membawa rahmat, semuanya merupakan pelajaran bagi orang-orang yang mau menggunakan akal sehatnya untuk berpikir.

Ustadz Umar kemudian mengaitkan sejarah perjuangan para Salafus Shalih yang mendapatkan kedudukan tinggi di sisi Allah karena kesungguhan mereka. Kunci keberhasilan mereka terletak pada fokus yang kuat serta sikap wara’ atau kehati-hatian dalam menjaga diri dari hal-hal yang haram maupun yang masih bersifat syubhat (samar).

Dalam aspek sosial, narasumber memberikan nasihat yang sangat relevan tentang kesederhanaan dalam ber-muamalah. Beliau mengingatkan agar umat Islam tidak memaksakan diri dalam menyelenggarakan acara seperti pernikahan jika secara ekonomi tidak mampu, karena Allah tidak menyukai orang yang memaksakan diri melampaui batas kemampuannya.

Sebagai penutup, beliau menyampaikan pesan moral tentang pentingnya menjaga perasaan antar sesama dalam kehidupan bertetangga. Jamaah diingatkan agar tidak mudah tersinggung atau marah jika tidak diundang dalam sebuah acara, sebab setiap orang memiliki keterbatasan dan pertimbangan masing-masing yang harus dihormati dengan hati yang lapang.

Sumber: Kajian tafsir Al-Qur’an yang disampaikan oleh Ustadz Umar Husein Assegaf di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta

E-Buletin