Kabarmasjid.id, Malang – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, suasana spiritual di tengah masyarakat mulai meningkat. Masjid-masjid mulai dipenuhi jamaah yang antusias mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun batin. Salah satu persiapan yang paling krusial adalah membekali diri dengan ilmu dan pemahaman mengenai keutamaan bulan suci agar ibadah yang dijalankan tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, melainkan sarana transformasi diri yang hakiki.
Kajian rutin edisi spesial ini dilaksanakan pada Sabtu malam di Masjid Agung Jami Malang dengan menghadirkan narasumber KH. Nur Hasanudin. Dalam ceramahnya, beliau menekankan pentingnya persiapan yang matang bagi setiap muslim untuk menjemput keberkahan di bulan Ramadhan. Beliau mengawali kajian dengan memimpin doa agar seluruh jamaah diberikan kesehatan dan keistiqamahan untuk beribadah di bulan yang mulia tersebut, sembari mendoakan keberkahan di sisa bulan Syakban ini.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah mengenai ketaatan terhadap ketetapan pemerintah dalam menentukan awal puasa. KH. Nur Hasanudin mengingatkan agar jamaah mengikuti hasil sidang isbat pemerintah (Hakim) untuk menjaga kebersamaan dan ketenangan dalam beribadah. Beliau menekankan bahwa dalam hukum fikih, keputusan pemimpin atau pemerintah dalam hal penetapan 1 Ramadhan dan 1 Syawal harus menjadi rujukan utama bagi umat.
Beliau kemudian mengupas keistimewaan luar biasa dari Lailatul Qadar, sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Beliau mengisahkan bagaimana Rasulullah SAW merasa heran dan menginginkan keutamaan bagi umatnya setelah mendengar kisah seorang dari Bani Israil yang memikul senjata untuk berjihad selama seribu bulan. Allah SWT kemudian memberikan Lailatul Qadar sebagai hadiah eksklusif bagi umat Nabi Muhammad SAW agar mereka bisa meraih pahala yang melampaui usia hidup mereka.
KH. Nur Hasanudin membantah anggapan keliru yang menyatakan bahwa Lailatul Qadar hanya terjadi sekali di zaman Nabi. Berdasarkan hadis sahih, beliau menegaskan bahwa malam mulia ini turun setiap tahun pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Hal ini merupakan bentuk kasih sayang Allah agar umat Islam senantiasa bersemangat dalam berburu pahala di akhir bulan suci.
Selanjutnya, beliau menjelaskan tentang pelipatan pahala yang sangat fantastis selama Ramadhan. Setiap amal sunah yang dilakukan di bulan ini akan dihitung pahalanya seperti melaksanakan ibadah wajib di bulan lain. Sementara itu, satu ibadah wajib yang dikerjakan selama Ramadhan nilainya akan dilipatgandakan menjadi 70 kali lipat ibadah wajib, sebuah kesempatan emas yang tidak boleh disia-siakan oleh orang yang cerdas secara spiritual.
Kiai Nur juga memberikan tips praktis agar setiap detik di dalam masjid bernilai pahala wajib melalui “Nazar Itikaf”. Beliau mengajarkan jamaah untuk mengikrarkan nazar itikaf segera setelah masuk ke dalam masjid, bahkan sebelum melaksanakan salat. Dengan status ibadah “nazar”, maka itikaf tersebut menjadi wajib, sehingga ketika dilakukan di bulan Ramadhan, pahalanya akan berlipat ganda sesuai janji Allah.
Mengenai aspek sosial, beliau mendorong jamaah untuk gemar memberikan takjil atau makanan berbuka puasa kepada orang lain. Keutamaannya sangat besar, yakni pengampunan dosa bagi pemberi takjil serta mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun. Beliau menegaskan bahwa pahala ini bisa diraih meski hanya dengan memberikan sebutir kurma atau seteguk air.
KH. Nur Hasanudin juga berbagi pengalaman pribadi mengenai kebijakan di pondok pesantrennya yang tidak meliburkan santri selama Ramadhan. Tujuannya adalah agar santri tetap dalam lingkungan yang terjaga dan memberikan kesempatan bagi para dermawan untuk meraih pahala melalui pemberian takjil kepada ribuan santri yang sedang menuntut ilmu.
Dalam kajian tersebut, beliau secara khusus mengajarkan sebuah doa yang sangat dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya untuk dibaca menjelang berbuka puasa. Doa tersebut berbunyi: “Ya Adhimu Ya Adhim, Anta Ilahi la ilaha ghairuk, igfirlidzanbil adhim, fainnahu la yaghfirudzdzanbal adhim illal adhim”. Beliau berpesan agar doa ini diajarkan kepada anak cucu karena memiliki keutamaan menghapus dosa-dosa besar.
Lebih lanjut, beliau merinci empat perkara yang harus diperbanyak selama Ramadhan sesuai anjuran Rasulullah SAW. Dua perkara pertama adalah untuk meraih ridha Allah, yaitu bersyahadat dan beristigfar. Dua perkara berikutnya adalah permohonan yang sangat dibutuhkan manusia, yaitu meminta surga dan memohon perlindungan dari siksa api neraka.
Sebagai penutup, KH. Nur Hasanudin mengajak seluruh jamaah untuk meresapi setiap kalimat dalam doa-doa tersebut dengan penuh kesadaran akan banyaknya dosa yang telah diperbuat. Beliau berharap agar Ramadhan tahun ini menjadi momentum bagi semua umat Islam untuk keluar dari bulan suci dalam keadaan bersih dari dosa, layaknya bayi yang baru dilahirkan.
Sumber: Kajian Rutin Edisi Spesial Persiapan Menyambut Bulan Ramadhan yang diselenggarakan di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Nur Hasanudin.