Bukan Sekadar Tahan Lapar, Ini 5 Kunci Sukses Maksimalkan Ibadah Ramadhan Agar Tidak Sia-sia

Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos
Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Bulan Ramadhan segera tiba menyapa umat Islam di seluruh penjuru dunia. Namun, seringkali kita terjebak dalam rutinitas tahunan tanpa persiapan yang matang, sehingga keberkahan yang didapat tidak maksimal. Melalui kajian mendalam yang diselenggarakan di Masjid Al Falah Surabaya, Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos. memaparkan bekal-bekal esensial agar setiap mukmin tidak hanya sekadar menahan lapar, tetapi benar-benar meraih predikat takwa.

Dalam ceramahnya yang bertajuk “Berbahagialah! Bekal Penting Sukses Ramadhan”, Ustadz Ahmad Habibul Muiz menekankan bahwa persiapan adalah kunci utama keberhasilan. Beliau mengibaratkan Ramadhan sebagai tamu agung yang sangat terhormat. Jika seorang tamu penting hendak berkunjung ke rumah kita, tentu kita akan membersihkan ruangan, menyiapkan hidangan terbaik, dan menyambutnya dengan penuh sukacita. Hal yang sama seharusnya berlaku dalam menyambut bulan suci ini.

Salah satu poin krusial yang disampaikan adalah pentingnya mengubah pola pikir (mindset) terhadap Ramadhan. Jangan sampai kita menganggap puasa sebagai beban yang memberatkan aktivitas sehari-hari. Sebaliknya, kita harus menumbuhkan rasa rindu dan bahagia sebagaimana para ulama terdahulu yang telah memanjatkan doa agar dipertemukan dengan Ramadhan sejak enam bulan sebelumnya. Kegembiraan ini merupakan cerminan dari iman yang hidup di dalam dada.

Merujuk pada Surat Al-Baqarah ayat 183, Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa “input” utama puasa adalah keimanan. Panggilan Ya ayyuhalladzina amanu menunjukkan bahwa hanya mereka yang memiliki iman yang mampu menjalankan ibadah ini dengan ringan. Iman yang kokoh akan menjadi bahan bakar bagi seorang muslim untuk tetap produktif dan semangat meskipun sedang dalam kondisi perut kosong dari terbit fajar hingga terbenam matahari.

Selain iman, ilmu merupakan bekal yang tidak boleh diabaikan. Banyak orang menjalankan puasa hanya berdasarkan kebiasaan tanpa memahami aspek fikih yang benar. Kita perlu mempelajari kembali hal-hal yang membatalkan puasa, sunah-sunah yang dianjurkan, hingga hal-hal makruh yang dapat mengurangi pahala. Tanpa ilmu, dikhawatirkan ibadah yang kita lakukan menjadi sia-sia dan tidak mencapai standar yang diinginkan syariat.

Ustadz juga mengingatkan tentang filosofi puasa sebagai sarana pengendalian diri. Manusia memiliki dua potensi dalam dirinya, yaitu sifat malaikat yang mendorong ketaatan dan sifat setan yang mendorong kemaksiatan. Puasa hadir untuk menekan syahwat dan potensi buruk tersebut. Inilah mengapa Nabi SAW memperingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga karena gagal menjaga lisan dan perbuatannya.

Dalam aspek fisik, kesehatan menjadi modal utama agar kita bisa beribadah secara maksimal. Beliau menyarankan umat Islam untuk mengikuti sunah Rasulullah dalam hal makan, seperti tidak melewatkan makan sahur karena di dalamnya terdapat keberkahan. Selain itu, menyegerakan berbuka dengan kurma adalah bagian dari ittibak atau mengikuti teladan Nabi yang memberikan dampak positif bagi kebugaran tubuh selama menjalankan ibadah.

Manajemen waktu juga menjadi sorotan dalam kajian ini. Ustadz Ahmad mengajak jamaah untuk membuat program ibadah yang terencana selama 30 hari, terutama pada sepuluh malam terakhir. Kita harus berani mengurangi kegiatan yang tidak produktif, seperti nongkrong berlebihan di warung kopi, dan menggantinya dengan iktikaf atau tadarus Al-Qur’an. Waktu di bulan Ramadhan sangatlah mahal untuk disia-siakan begitu saja.

Aspek sosial tidak luput dari pembahasan, di mana Ramadhan adalah bulan kedermawanan. Nabi Muhammad SAW adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanannya meningkat berkali-kali lipat di bulan Ramadhan. Memberi makan orang yang berbuka puasa adalah peluang emas untuk mendapatkan pahala yang sama dengan orang yang berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.

Lingkungan yang kondusif turut memegang peranan penting dalam menjaga kualitas ibadah. Kita perlu membangun suasana religius mulai dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. Ketika suami, istri, dan anak-anak memiliki frekuensi yang sama dalam beribadah, maka tantangan selama Ramadan akan terasa lebih ringan. Saling mengingatkan dalam kebaikan adalah ciri masyarakat mukmin yang ingin sukses bersama.

Goal akhir dari seluruh rangkaian ibadah ini adalah ketakwaan (la’allakum tattaquun). Ustadz Ahmad menjelaskan bahwa orang yang sukses meraih takwa akan diberikan banyak kemudahan oleh Allah, mulai dari jalan keluar atas setiap persoalan hidup hingga rezeki yang datang dari arah yang tidak diduga-duga. Takwa adalah investasi terbaik yang dampaknya akan terasa baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh jamaah untuk memperbanyak istigfar dan tobat sebelum memasuki pintu Ramadhan. Mari kita luruskan niat dan memohon kekuatan kepada Allah agar diberikan umur yang berkah untuk menuntaskan ibadah Ramadhan tahun ini dengan sebaik-baiknya. Semoga setelah Ramadhan berlalu, kita keluar sebagai pribadi yang fitrah, diampuni segala dosanya, dan menjadi pemenang yang sesungguhnya.

Sumber: Kajian Maghrib Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz Ahmad Habibul Muiz, Lc., M.Sos dengan tema “Berbahagialah! Bekal Penting Sukses Ramadhan”

E-Buletin