Mengenal Dua Pilar Utama Tasawuf: Kebersihan Hati dan Kedermawanan Jiwa

Halaqoh Maghrib yang membahas Kitab Manhajussawiy oleh Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf di Masjid Jami' Assagaf Surakarta
Halaqoh Maghrib yang membahas Kitab Manhajussawiy oleh Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf di Masjid Jami' Assagaf Surakarta

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Solo – Dunia modern sering kali membuat manusia terjebak pada aspek lahiriah semata, hingga terkadang melupakan kedalaman spiritual yang menjadi ruh dalam beragama. Memahami agama bukan sekadar menghafal dalil, melainkan bagaimana mentransformasikan nilai-nilai tersebut ke dalam perilaku nyata. Melalui kajian kitab Manhajussawiy, kita diajak untuk kembali menata niat dan membersihkan batin agar setiap ibadah yang dilakukan memiliki bobot di sisi Tuhan.

Kajian mendalam ini dilaksanakan pada hari Jumat, 13 Februari 2026, bertempat di Masjid Jami’ Assagaf, Solo. Menghadirkan narasumber Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf dalam tajuk “Halaqoh Maghrib”, beliau mengupas tuntas bab tasawuf yang menjadi inti dari perjalanan seorang hamba menuju Sang Pencipta. Suasana masjid yang khidmat menjadi saksi bagi para jamaah yang antusias menyimak penjelasan mengenai bagaimana menjadi seorang sufi yang sejati di era kontemporer.

Dalam pemaparannya, Ustadz Abubakar menegaskan bahwa definisi sufi yang paling mendasar adalah seseorang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya dengan penuh keikhlasan. Beliau menyoroti fenomena banyaknya orang yang pandai berbicara tentang agama namun tindakannya bertolak belakang dengan ucapannya. Baginya, ilmu tanpa amal adalah sebuah kesia-siaan, sementara amal tanpa ilmu adalah sebuah kesesatan, sehingga keduanya harus berjalan beriringan dalam bingkai keikhlasan.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa seorang mukmin dituntut untuk waspada terhadap jebakan hawa nafsu dan tipu daya setan. Beliau memberikan contoh konkret tentang larangan ghibah atau menggunjing orang lain; banyak orang menguasai teori tentang dosanya ghibah, namun lisannya tetap sulit terjaga dalam keseharian. Di sinilah peran tasawuf hadir untuk membentengi diri agar lisan dan hati selalu selaras dengan ketentuan syariat yang telah dipelajari.

Ustadz Abubakar juga membagi ilmu menjadi dua kategori besar yang wajib dipahami umat Islam, yaitu ilmu Wajib ‘Ain dan ilmu Fardhu Kifayah. Ilmu Wajib ‘Ain adalah pengetahuan yang wajib dimiliki setiap individu terkait ibadah kesehariannya seperti salat, puasa, dan tata cara bersuci. Beliau mengingatkan bahwa seseorang tidak bisa berdalih “tidak tahu” untuk melepaskan diri dari dosa jika ia sengaja meninggalkan kewajiban belajar ilmu-ilmu dasar tersebut.

Sementara itu, ilmu Fardhu Kifayah seperti ilmu waris (faraid) atau keahlian tertentu di masyarakat, kewajibannya gugur bagi individu lain jika sudah ada yang menguasainya di suatu daerah. Namun, bagi para pelaku profesi tertentu, seperti pedagang, mereka memiliki kewajiban khusus untuk memahami hukum muamalah. Hal ini penting agar aktivitas ekonomi yang mereka jalani terhindar dari praktik riba, penipuan, maupun sumpah palsu yang merusak keberkahan harta.

Inti dari ajaran tasawuf, menurut kitab yang dibahas, bersandar pada dua pilar utama: Salamatus Shadr (hati yang bersih) dan Sakhawatun Nafs (jiwa yang dermawan). Hati yang selamat dari penyakit seperti iri, dengki, dan sombong adalah wadah bagi cahaya Tuhan. Jika hati seseorang bersih, maka setiap kata yang keluar dari lisannya akan mampu “mengetuk” dan menggetarkan hati orang lain yang mendengarnya, karena cahaya hanya bisa terpancar dari sesuatu yang terang.

Sifat dermawan juga menjadi identitas yang tak terpisahkan dari para wali Allah dan ulama terdahulu. Ustadz Abubakar menceritakan kisah inspiratif tentang kedermawanan para ulama besar seperti Al-Habib Salim Asy-Syatiri dan Habib Saleh Tanggul yang tidak pernah ragu memberikan harta mereka dalam jumlah besar kepada fakir miskin. Kedermawanan ini bukan sekadar tentang uang, melainkan tentang kerelaan berbagi ilmu, tenaga, dan pikiran demi kemaslahatan umat manusia.

Selain itu, kajian ini mengungkap pandangan Imam Junaid Al-Baghdadi yang menyebutkan bahwa tasawuf dibangun di atas delapan sifat mulia para nabi. Beberapa di antaranya adalah sifat murah hati Nabi Ibrahim, keridhaan Nabi Ishaq, kesabaran luar biasa Nabi Ayub, hingga sifat kefakiran atau merasa selalu butuh kepada Allah yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW. Gabungan sifat-sifat inilah yang membentuk karakter sempurna seorang peniti jalan spiritual.

Beliau juga membagikan tips untuk mengangkat derajat seorang hamba di sisi Allah meskipun amalannya mungkin tidak terlihat banyak. Empat kunci utamanya adalah kebijaksanaan (al-hilmu), rendah hati (tawadhu), kedermawanan, dan akhlak yang baik. Kebijaksanaan membuat seseorang tidak terburu-buru dalam bertindak, karena keterburuan sering kali berasal dari setan, kecuali dalam urusan bertaubat dan kebaikan yang mendesak.

Menjelang akhir kajian, Ustadz Abubakar memberikan nasihat khusus terkait persiapan menyambut bulan suci Ramadan yang sudah di depan mata. Beliau mengibaratkan Ramadan sebagai hidangan besar dan anugerah tak ternilai dari Allah SWT. Kita diajak untuk menyiapkan “wadah” batin yang luas agar mampu menampung segala pahala dan ampunan yang disediakan selama bulan suci tersebut, mengingat tidak semua orang mendapatkan kesempatan umur untuk bertemu kembali dengan Ramadan.

Sebagai penutup, Ustadz Abubakar beliau mengajak jamaah untuk berniat menjadikan Ramadan tahun ini sebagai yang terbaik sepanjang hidup. Kajian diakhiri dengan pembacaan doa dan zikir bersama, memohon agar hati senantiasa ditetapkan dalam ketaatan dan diberikan keselamatan baik di dunia maupun di akhirat. Pesan mendalam dari Masjid Jami’ Assagaf ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa agama adalah tentang perbaikan akhlak dan kebersihan nurani.

Sumber: Halaqoh Maghrib yang membahas Kitab Manhajussawiy oleh Ustadz Abubakar Fahmi Assegaf di Masjid Jami’ Assagaf Surakarta

E-Buletin