Bukan Hanya Karena Dosa, Ini Alasan Mengapa Kita Harus Terus Beristigfar

Kajian Rutin Jumat Ba'da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Achmad Mudjayyid
Kajian Rutin Jumat Ba'da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Achmad Mudjayyid

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Dunia modern sering kali memaksa kita untuk menyelesaikan segala sesuatu hanya dengan logika dan perhitungan matematis. Namun, ada kalanya hidup menghadirkan persoalan yang begitu rumit hingga akal tak lagi mampu menemukan jalan keluar. Dalam titik inilah, manusia membutuhkan kekuatan spiritual untuk menjembatani keterbatasan nalar dengan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas.

Kajian rutin Jumat ba’da Shubuh yang berlangsung pada 12 Februari 2026 di Masjid Agung Jami Malang menghadirkan KH. Achmad Mudjayyid sebagai narasumber. Dalam ceramah yang berlangsung khidmat tersebut, beliau mengupas tuntas tentang pentingnya menyelaraskan energi batin dengan realitas ilmiah dalam menghadapi dinamika kehidupan.

Kiai Mudjayyid membuka kajian dengan menjelaskan bahwa dasar dari ketakwaan adalah kepercayaan pada hal yang gaib. Salat dan ibadah lainnya adalah bentuk pencarian terhadap kekuatan besar yang sering kali tidak rasional di mata logika manusia. Beliau menegaskan bahwa akal memiliki batas, dan di sanalah peran batin dimulai untuk mengambil alih keyakinan.

Beliau kemudian mengambil ibrah dari kisah Nabi Ibrahim AS yang mempertanyakan cara Allah menghidupkan orang mati. Pertanyaan tersebut bukan karena Nabi Ibrahim tidak percaya, melainkan karena otak beliau sedang “berontak” mencari penjelasan ilmiah. Di sini, Allah menunjukkan bahwa bukti visual dapat membantu mendamaikan gejolak akal agar batin tetap tenang dan mantap.

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah tentang sinkronisasi antara zikir dan pikir. Seseorang yang hanya mengandalkan pikirannya akan mudah merasa buntu saat usahanya tidak membuahkan hasil. Sebaliknya, dengan zikir, seseorang mampu mengakses kekuatan non-ilmiah yang berasal dari Allah, sehingga batinnya tetap kuat meski keadaan fisik terasa sangat sulit.

Tawakal menjadi solusi praktis yang ditawarkan Kiai Mudjayyid ketika seseorang menemui jalan buntu. Beliau mengingatkan agar kita tidak terus-menerus membebani otak dengan masalah yang memang di luar jangkauan kemampuan manusia. Menyerahkan segala urusan kepada Allah (tawakal) adalah langkah cerdas agar energi positif kembali tumbuh dalam diri kita.

Kajian ini juga membahas posisi istigfar yang sering kali disalahpahami hanya sebagai permohonan ampun atas dosa. Menurut beliau, bagi para pencari hakikat, istigfar adalah kunci sukses untuk membuka pintu pertolongan Allah. Bahkan Nabi Muhammad SAW yang terjaga dari dosa pun beristigfar lebih dari 70 hingga 100 kali sehari sebagai bentuk etika dan rasa syukur.

Beliau memberikan contoh nyata melalui kisah Nabi Yunus AS di dalam perut ikan. Dengan kalimat “La ilaha illa anta subhanaka inni kuntu minadzolimin”, Nabi Yunus tidak langsung meminta keluar, melainkan merendahkan diri dan memuji kesucian Tuhan. Inilah bahasa moral dan etika tingkat tinggi yang seharusnya dicontoh manusia saat tertimpa musibah besar.

Lebih lanjut, Kiai Mudjayyid menyinggung soal Nabi Adam AS yang juga menggunakan bahasa serupa saat diusir dari surga. Kesopanan dalam berkomunikasi dengan Tuhan (tata krama) sering kali lebih menentukan terkabulnya doa daripada banyaknya permintaan. Mengakui kezaliman diri sendiri adalah bentuk kejujuran batin yang sangat dicintai oleh Allah SWT.

Tantangan terbesar dalam ibadah, menurut beliau, adalah menjaga kekhusyukan atau sinkronisasi antara fisik dan batin. Banyak orang yang salat secara fisik, namun pikirannya melayang ke pasar atau urusan dunia lainnya. Beliau menyebut fenomena ini sebagai ketidaksiapan batin dalam menghadap Sang Pencipta secara utuh.

Melatih batin untuk tetap sinkron dengan tindakan fisik memerlukan perjuangan yang disebut sebagai jalan tarekat. Beliau memotivasi jamaah untuk terus berlatih, meski awalnya terasa berat dan melelahkan. Kebiasaan baik yang dilakukan secara konsisten nantinya akan menjadi hukum alam dalam diri, sehingga ibadah akan terasa ringan dan membawa ketenangan.

Kajian diakhiri dengan pesan mendalam bahwa setiap ujian hidup adalah “sentuhan perhatian” dari Allah agar manusia kembali mendekat. Dengan memperbanyak istigfar dan menjaga energi positif dalam batin, segala keruwetan hidup diharapkan dapat terurai. Beliau pun menutup sesi dengan doa bersama untuk keberkahan seluruh jamaah yang hadir.

Sumber: Kajian Rutin Jumat Ba’da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Achmad Mudjayyid

E-Buletin