Bukan Sekadar Menahan Lapar, Inilah Strategi Memaksimalkan Ibadah Jelang Ramadhan

KH. Nur Hasanudin
KH. Nur Hasanudin

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Menjelang tibanya bulan suci Ramadhan, umat Muslim dianjurkan untuk mempersiapkan diri tidak hanya secara fisik, tetapi juga secara keilmuan dan spiritual. Memahami hakikat ibadah yang akan dijalani menjadi kunci agar Ramadan tahun ini tidak sekadar menjadi rutinitas menahan lapar dan dahaga, melainkan menjadi sarana transformasi diri yang maksimal. Melalui pembekalan yang tepat, setiap detik di bulan mulia tersebut dapat dikonversi menjadi pahala yang berlipat ganda.

Kajian rutin edisi spesial persiapan menyambut bulan Ramadhan ini dilaksanakan pada Minggu malam, 8 Februari 2026, bertempat di Masjid Agung Jami Malang. Hadir sebagai narasumber utama adalah KH. Nur Hasanudin, yang memberikan tausiyah mendalam mengenai urgensi membekali diri dengan ilmu sebelum memasuki bulan suci. Kajian ini diikuti dengan khidmat oleh jamaah baik yang hadir secara langsung maupun yang menyimak melalui siaran digital.

Pada awal pemaparannya, KH. Nur Hasanudin menekankan pentingnya menguasai ilmul hal, yaitu ilmu tentang ibadah yang akan segera dilakukan. Beliau menjelaskan bahwa mencari ilmu hukumnya wajib bagi setiap Muslim, terutama ilmu yang berkaitan dengan kewajiban di depan mata. Oleh karena itu, mempelajari fikih dan keutamaan Ramadan sebelum bulannya tiba adalah sebuah keharusan agar ibadah yang dijalankan sesuai dengan tuntunan syariat.

Mengutip hadist yang diriwayatkan oleh sahabat Salman al-Farisi, narasumber menjelaskan bahwa Rasulullah SAW sering memberikan khotbah khusus di akhir bulan Syakban. Rasulullah menyebut Ramadan sebagai Syahrun Adzim (bulan yang agung) dan Syahrun Mubarak (bulan yang penuh berkah). Keagungan ini ditandai dengan adanya satu malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, yaitu Lailatul Qadar, sebuah hadiah istimewa bagi umat Nabi Muhammad yang memiliki umur relatif pendek.

KH. Nur Hasanudin juga menyoroti bagaimana Allah SWT membedakan status ibadah di bulan ini, di mana puasa siang hari ditetapkan sebagai kewajiban (faridah), sementara salat malam atau qiyamulail menjadi kesunahan yang sangat dianjurkan. Pembagian ini menunjukkan struktur ibadah yang harmonis antara pembersihan jiwa melalui lapar di siang hari dan pendekatan diri kepada sang Khalik melalui sujud di malam hari.

Satu poin menarik yang ditekankan dalam kajian ini adalah tentang efisiensi dalam beribadah atau yang beliau istilahkan dengan menjadi “pedagang yang cerdas” di hadapan Allah. Beliau menjelaskan bahwa di bulan Ramadan, satu amal sunah akan diberikan pahala setara dengan amal wajib di luar Ramadan. Sementara itu, satu amal wajib akan dilipatgandakan pahalanya menjadi setara dengan 70 kali amal wajib di waktu lainnya.

Berdasarkan prinsip pelipatgandaan tersebut, narasumber memberikan tips praktis berupa pemanfaatan nazar untuk meningkatkan status ibadah sunah menjadi wajib. Sebagai contoh, seorang Muslim dapat melakukan nazar iktikaf saat memasuki masjid. Dengan berucap nazar, ibadah iktikaf yang asalnya sunah berubah menjadi wajib, sehingga saat dilakukan di bulan Ramadan, pahalanya akan melonjak hingga 70 kali lipat dibandingkan iktikaf biasa.

Selain strategi nazar, jamaah diajak untuk memperbanyak niat dalam setiap aktivitas ibadah yang dilakukan. Satu perbuatan bisa diniatkan untuk banyak hal sekaligus, seperti niat thalabul ilmi, bersilaturahim, menunggu waktu salat, hingga niat menyenangkan hati Rasulullah SAW. Semakin banyak niat baik yang ditanamkan dalam satu amal, maka semakin besar pula keberkahan dan pahala yang akan dipetik oleh pelakunya.

Kajian ini juga mengingatkan bahwa Ramadan adalah Syahrul Quran atau bulannya Al-Qur’an. KH. Nur Hasanudin menceritakan bagaimana para ulama besar terdahulu, seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i, mengubah fokus kegiatan mereka saat Ramadan tiba. Mereka menangguhkan sementara pengajaran ilmu lainnya demi mencurahkan waktu sepenuhnya untuk berinteraksi, membaca, dan mentadabburi ayat-ayat suci Al-Qur’an.

Beliau juga menyelipkan pesan agar umat tidak terjebak pada pemahaman yang keliru mengenai hadis yang menyebutkan bahwa “tidurnya orang berpuasa adalah ibadah.” Meskipun secara tekstual benar, jangan sampai hal ini dijadikan alasan untuk bermalas-malasan sepanjang hari dan melewatkan kesempatan emas untuk beramal. Tidur yang bernilai ibadah adalah tidur yang diniatkan untuk menjaga stamina agar kuat menjalankan ketaatan, bukan tidur yang menghabiskan waktu produktif.

Di akhir kajian, KH. Nur Hasanudin mengajak jamaah untuk menyambut kedatangan Ramadan dengan perasaan sukacita dan gembira. Kegembiraan hati dalam menyambut bulan suci merupakan tanda keimanan dan menjadi motivasi kuat untuk menjalani ibadah puasa dengan penuh keikhlasan. Beliau mendoakan agar seluruh jamaah diberikan kesehatan dan umur yang berkah sehingga dapat dipertemukan kembali dengan Ramadan dalam keadaan terbaik.

Sumber: Kajian rutin edisi spesial persiapan menyambut bulan Ramadan di Masjid Agung Jami Malang, yang dipimpin oleh KH. Nur Hasanudin

E-Buletin