Ridha Allah dalam Ridha Orang Tua: Menghindari Dosa Lisan dan Kedurhakaan

Ustadz Agung Cahyono
Ustadz Agung Cahyono

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya –  Majelis Taklim Muslimah Masjid Al Falah Surabaya kembali menggelar kajian rutin yang menyejukkan hati di tengah kesibukan duniawi. Pada hari Sabtu, 7 Februari 2026, narasumber Ustadz Agung Cahyono menyampaikan materi mendalam bertajuk “Berkata Kotor & Keji serta Durhaka kepada Orang Tua” yang berlangsung khidmat di ruang utama masjid.

Mengawali ceramahnya, Ustadz Agung mengingatkan jamaah bahwa saat ini kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban. Beliau menekankan pentingnya menyiapkan hati dengan sepenuh jiwa, bukan setengah hati, untuk menyambut bulan suci Ramadan yang sudah di depan mata sebagai momentum penggugur dosa.

Salah satu fokus utama kajian ini adalah mengenai bencana lisan. Beliau menjelaskan bahwa lisan merupakan nikmat besar yang bisa menjadi ladang pahala sekaligus sumber bencana. Setiap kata yang meluncur, baik disadari maupun tidak, selalu berada dalam pengawasan malaikat Raqib dan Atid yang mencatat setiap detail ucapan manusia.

Dalam paparannya, dijelaskan bahwa berkata kotor dan keji sering kali dianggap remeh, padahal dampaknya sangat merusak. Ucapan yang buruk tidak hanya menyakiti perasaan pendengar, tetapi juga mencoreng kehormatan dan kualitas agama orang yang mengucapkannya, serta mampu memicu permusuhan yang berkepanjangan.

Beliau kemudian mengutip sebuah kaidah penting bahwa rasa malu adalah hiasan bagi iman. Sebaliknya, perkataan yang kasar dan keji adalah bentuk degradasi akhlak yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam api neraka. Seorang mukmin sejati dicirikan dari kemampuannya menjaga lisan dari mencaci dan melaknat.

Memasuki pembahasan mengenai akhlak, Ustadz Agung menyoroti fenomena durhaka kepada orang tua atau uququl walidain. Beliau menegaskan bahwa dosa ini merupakan salah satu dosa besar yang kedudukannya disandingkan langsung setelah larangan berbuat syirik kepada Allah SWT.

Sering kali dalam kehidupan sehari-hari, seorang anak tanpa sadar menyakiti hati orang tuanya. Bentuk kedurhakaan tidak melulu soal kekerasan fisik, tetapi bisa berupa membentak, berbicara dengan nada lebih tinggi, atau sekadar mengucapkan kata “ah” yang mampu melukai perasaan mereka secara mendalam.

Kajian ini juga mengingatkan para ibu dan perempuan untuk menjadi teladan bagi anak-anak mereka. Sebagai “kaca” bagi generasi penerus, seorang ibu harus mampu menunjukkan tutur kata yang lembut agar kelak tidak menuai penyesalan saat melihat anak cucunya meniru perilaku buruk yang pernah dilakukan orang tuanya.

Ustadz Agung membagikan kisah inspiratif tentang para ulama terdahulu, seperti Imam Malik yang lebih mengutamakan berbakti kepada orang tua daripada shalat sunnah seribu rakaat. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada orang tua memiliki nilai ibadah yang sangat tinggi dan luar biasa di sisi Allah.

Lebih lanjut, ditekankan bahwa ridha Allah sangat bergantung pada ridha orang tua. Keberkahan hidup, kemudahan rezeki, dan ketenangan hati sering kali bermuara pada doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh orang tua yang merasa bahagia dan dihormati oleh anak-anaknya.

Bagi mereka yang masih memiliki orang tua yang sudah lanjut usia, Ustadz mengingatkan agar kesempatan ini dimanfaatkan sebaik mungkin sebagai pintu surga. Melayani orang tua di masa senja mereka adalah tantangan sekaligus karunia besar yang tidak boleh disia-siakan hanya karena kesibukan pribadi.

Sebagai penutup, kajian ini mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa beristigfar dan memohon perlindungan dari lisan yang dusta. Dengan memperbaiki akhlak dan memperkuat bakti kepada orang tua, diharapkan setiap muslimah dapat memasuki bulan Ramadan dalam keadaan hati yang bersih dan siap meraih derajat takwa.

Sumber: Kajian Muslimah Masjid Al Falah Surabaya yang disampaikan oleh Ustadz Agung Cahyono dengan tema “Berkata Kotor & Keji, Durhaka Kepada Orang Tua”

E-Buletin