Bukan Orang Jauh, Inilah Urutan Prioritas Sedekah yang Sering Terlupakan

Gus Abdullah Zahir
Gus Abdullah Zahir

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Seringkali kita merasa sudah menjadi pribadi yang baik hanya karena rajin beribadah di masjid atau rutin berbagi kepada orang asing di jalanan. Namun, dalam Islam, kebaikan bukan sekadar tentang seberapa banyak yang kita beri, melainkan kepada siapa kebaikan itu pertama kali diberikan. Memahami skala prioritas dalam beramal adalah kunci agar ibadah kita tidak hanya bernilai ritual, tetapi juga memiliki dampak sosial yang tepat sasaran.

Kajian mendalam mengenai etika beramal ini disampaikan dalam pembacaan Kitab Risalatul Mu’awanah karya Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang berlangsung di Masjid Kemayoran Surabaya. Acara yang dilaksanakan pada Kamis, 5 Februari 2026 tersebut menghadirkan Gus Abdullah Zahir, yang mengupas tuntas bab tentang silaturahmi dan hak-hak tetangga. Kajian ini menjadi pengingat penting, terutama menjelang bulan suci Ramadan yang tinggal menghitung hari.

Pesan utama yang ditekankan oleh Gus Abdullah Zahir adalah pentingnya memahami “skala prioritas” dalam berbuat baik. Banyak orang terjebak pada kesalahan urutan; mereka sangat royal kepada orang yang jauh, namun justru mengabaikan atau bersikap pelit kepada keluarga sendiri. Padahal, Syekh Abdullah Al-Haddad dalam kitabnya menekankan bahwa setiap hubungan darah memiliki hak yang berbeda-beda, di mana semakin dekat hubungan darah seseorang, maka semakin besar pula hak mereka atas diri kita.

Urutan pertama yang wajib diprioritaskan adalah kedua orang tua, baru kemudian kerabat dekat atau saudara. Gus Abdullah menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an Surah An-Nisa ayat 36, Allah SWT menggandangkan perintah tauhid dengan perintah berbuat baik kepada orang tua dan kerabat. Hal ini menunjukkan bahwa kesalehan seorang hamba tidak hanya diukur dari sujudnya di atas sajadah, tetapi juga dari bagaimana ia memuliakan orang-orang yang berada di dalam rumah dan lingkaran keluarga intinya.

Beliau juga memaparkan bahwa bersedekah kepada kerabat dekat memiliki keistimewaan yang luar biasa dibandingkan bersedekah kepada orang lain. Berdasarkan hadis Rasulullah SAW, sedekah kepada keluarga memiliki dua nilai pahala sekaligus: pahala sedekah itu sendiri dan pahala menyambung tali silaturahmi. Inilah yang sering dilupakan oleh masyarakat yang lebih memilih mengejar eksistensi sosial di luar, sementara saudara kandungnya sendiri mungkin sedang kesulitan.

Setelah urusan keluarga dan kerabat tuntas, barulah perhatian dialihkan kepada tetangga. Definisi tetangga dalam Islam sangatlah luas, mencakup tetangga yang memiliki hubungan kerabat maupun yang tidak ada ikatan darah sama sekali. Menariknya, Gus Abdullah menyebutkan bahwa ukuran kedekatan tetangga secara syariat dilihat dari jarak fisik pintu rumah, bukan berdasarkan tingkat kekayaan atau status sosial mereka.

Lebih jauh, kajian ini membedah hubungan antara tauhid dan akhlak sosial. Kesalehan ritual seperti salat, zakat, dan zikir dianggap tidak sempurna jika seseorang mengabaikan hubungan baik dengan sesama. Gus Abdullah mengingatkan tentang adanya umat yang “bangkrut” di akhirat; mereka datang membawa pahala ibadah yang melimpah, namun pahala tersebut habis diambil oleh orang-orang yang pernah mereka sakiti atau zalimi selama di dunia.

Terkait interaksi sosial, Gus Abdullah mengutip resep dari Syekh Abdullah Al-Haddad mengenai tiga tingkatan dalam bermasyarakat. Tingkatan paling dasar atau minimal adalah Kafful Adza, yaitu menjaga diri agar tidak menyakiti orang lain. Jika kita belum mampu memberi bantuan materi, minimal kita tidak menjadi beban atau sumber masalah bagi tetangga dan orang-orang di sekitar kita.

Tingkatan kedua yang lebih tinggi adalah Ihtimalul Adza, yaitu kesabaran dalam menerima perlakuan buruk dari orang lain. Seringkali dalam hidup bertetangga, muncul gesekan atau kebisingan yang mengganggu. Seorang muslim yang baik adalah mereka yang mampu menahan amarah dan bersabar atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan oleh tetangganya, tanpa harus membalas dengan keburukan yang sama.

Adapun tingkatan tertinggi dalam akhlak sosial adalah Badlul Ma’ruf, yakni ringan tangan dan selalu mencurahkan kebaikan kepada orang lain sesuai kemampuan. Orang pada level ini tidak menunggu diminta untuk membantu, melainkan aktif mencari peluang untuk memberikan manfaat. Inilah puncak dari kedewasaan spiritual seorang hamba yang telah mampu mengaplikasikan nilai-nilai iman ke dalam tindakan nyata.

Satu poin penting lainnya yang ditekankan Gus Abdullah adalah mengenai “Kemandirian Akhlak”. Rasulullah SAW mengajarkan agar kita tidak menjadi pribadi yang mukafi atau hanya membalas kebaikan jika diberi kebaikan. Islam menuntut kita memiliki prinsip: tetaplah berbuat baik meskipun orang lain berbuat jahat, dan tetaplah menyambung silaturahmi meskipun orang lain berusaha memutusnya.

Sebagai penutup, Gus Abdullah mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang seimbang antara Hablum Minallah dan Hablum Minannas. Memasuki bulan Ramadan, mari kita tata kembali prioritas amal kita mulai dari lingkaran terdekat. Semoga dengan mengamalkan ilmu ini, hubungan sosial kita semakin harmonis dan ibadah kita diterima oleh Allah SWT.

Sumber: Kajian Kitab Risalatul Mu’awanah karya Syekh Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang disampaikan di Masjid Kemayoran Surabaya oleh Gus Abdullah Zahir

E-Buletin