Mengenal Ghurur, Penyakit Hati yang Membuat Maksiat Terasa Benar

Habib Hadi bin Alwy Al Kaff
Habib Hadi bin Alwy Al Kaff

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Malang – Menjelang bulan suci Ramadhan, umat Islam sering kali diingatkan untuk membersihkan hati dari berbagai penyakit batin agar ibadah dapat dijalankan dengan maksimal. Salah satu penyakit hati yang sering tidak disadari namun sangat berbahaya adalah ghurur atau tipu daya setan yang membuat seseorang merasa berada dalam kebenaran, padahal sedang terperosok dalam kelalaian. Memahami tipu daya ini menjadi krusial agar kita tidak terjebak dalam rasa aman yang semu di hadapan Sang Pencipta.

Kajian mendalam mengenai penyakit hati ini disampaikan secara langsung oleh Habib Hadi bin Alwy Al Kaff di Masjid Jami Malang pada Sabtu, 7 Februari 2026. Dalam ceramahnya, beliau membedah bagaimana setan masuk melalui celah-celah halus dalam pemikiran manusia, terutama bagi mereka yang ahli maksiat namun merasa telah bertaubat. Narasumber menekankan bahwa tanpa ilmu yang benar, seseorang bisa saja merasa sudah selamat namun sebenarnya masih dalam jeratan tipu daya.

Pada awal penyampaiannya, Habib Hadi menjelaskan bahwa bentuk ghurur yang paling sering menimpa ahli maksiat adalah menganggap remeh dosa karena merasa sudah beristigfar. Banyak orang yang lisannya terus mengucap permohonan ampun, namun hatinya tidak memahami syarat-syarat taubat yang sah. Inilah titik awal di mana setan mulai menyesatkan logika manusia, seolah-olah ucapan lisan saja sudah cukup untuk menghapus noda hitam dalam catatan amal tanpa adanya perubahan perilaku yang nyata.

Habib Hadi kemudian merinci tiga syarat mutlak agar taubat seseorang diterima oleh Allah SWT. Syarat pertama adalah al-Iqli’ atau berhenti seketika dari perbuatan dosa tersebut; kedua adalah an-Nadam atau penyesalan yang mendalam; dan ketiga adalah al-Azmu yakni tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut selamanya. Jika ketiga syarat ini terpenuhi, Allah tidak hanya mengampuni dosa tersebut tetapi juga menggantinya dengan pahala kebaikan serta memberikan cinta-Nya kepada hamba tersebut.

Namun, terdapat fenomena “istigfar yang mempermainkan Allah,” di mana seseorang meminta ampun sambil tetap melakukan kemaksiatannya. Habib Hadi memberi contoh keras, seperti orang yang bermain judi atau mabuk namun lisannya tetap berdzikir. Menurutnya, dosa dari tindakan meremehkan Allah melalui istigfar semacam itu bisa lebih besar daripada dosa maksiat aslinya. Hal ini dikarenakan adanya unsur pelecehan terhadap kesucian kalimat istigfar dan ketuhanan Allah SWT.

Tipu daya setan selanjutnya adalah pembenaran melalui konsep takdir atau paham Jabariah. Habib memperingatkan tentang orang yang enggan beribadah atau terus bermaksiat dengan alasan bahwa itu sudah merupakan garis takdir yang tidak bisa diubah. Logika ini dianggap menyesatkan karena seolah-olah meniadakan ikhtiar manusia. Padahal, meskipun segala sesuatu sudah tercatat di Lauhul Mahfudz, manusia diperintahkan untuk tetap berusaha dan beramal sesuai dengan syariat yang telah ditetapkan.

Lebih lanjut, Habib Hadi membedah ghurur yang menyerang mereka yang merasa aman karena faktor keturunan atau nasab. Ada sebagian orang yang merasa pasti masuk surga karena ayahnya seorang ulama atau kakeknya adalah orang saleh, padahal dirinya sendiri tidak mengikuti jejak akhlak dan ibadah leluhurnya tersebut. Penyakit hati ini membuat seseorang malas beramal karena terlalu mengandalkan kemuliaan orang lain, sementara di hadapan Allah, setiap individu bertanggung jawab atas perbuatannya masing-masing.

Selain faktor nasab, ada pula tipu daya yang muncul dari kedekatan fisik dengan orang-orang saleh tanpa adanya implementasi nilai. Banyak orang merasa sudah cukup hanya dengan membantu atau berkhidmah kepada ulama, namun perilakunya tetap menjauh dari tuntunan agama. Habib menegaskan bahwa melihat wajah orang saleh atau melayani mereka adalah kebaikan, namun itu tidak bisa menjadi pengganti bagi kewajiban pribadi untuk menjalankan ketaatan dan menjauhi larangan-larangan Allah.

Dalam bagian lain kajiannya, Habib Hadi menyentuh argumen bahwa “Allah tidak butuh amal kita.” Secara hakikat, kalimat tersebut benar karena Allah Maha Kaya, namun setan menggunakannya untuk membuat manusia malas beribadah. Meskipun ketaatan kita tidak menambah kemuliaan Allah dan maksiat kita tidak merugikan-Nya, kitalah yang membutuhkan amal tersebut sebagai bekal di akhirat. Menggunakan argumen kemandirian Allah untuk membenarkan kelalaian adalah bentuk tipu daya intelektual yang sangat halus.

Menjelang akhir kajian, Habib Hadi juga memberikan pencerahan mengenai perbedaan metode penentuan awal Ramadan antara rukyah dan hisab yang sering memicu perdebatan. Beliau menekankan bahwa selama hidupnya, Rasulullah ﷺ selalu menggunakan metode Rukyatul Hilal dalam menentukan awal dan akhir puasa. Berdasarkan ratusan hadis, metode melihat bulan secara langsung adalah pedoman utama yang dijalankan oleh para sahabat, tabi’in, hingga empat imam mazhab sebagai bentuk kepatuhan total kepada sunnah.

Walaupun sangat menekankan pentingnya rukyah, Habib Hadi mengajak jamaah untuk tetap menjaga ukhuwah islamiyah. Beliau berpesan agar perbedaan metode dengan saudara muslim yang menggunakan hisab tidak menjadi alat bagi musuh-musuh Islam untuk mengadu domba. Jika memang hasil hisab dan rukyah berbeda, sikap saling menghormati harus tetap dijunjung tinggi agar kekompakan umat tetap terjaga dan ibadah Ramadan bisa dijalankan dengan suasana yang damai.

Sebagai penutup, Habib Hadi mengajak jamaah untuk terus berdoa di sisa bulan Syakban ini. Beliau mengingatkan untuk senantiasa mengamalkan doa agar diberkahi di bulan Syakban dan disampaikan umur hingga menemui bulan Ramadan yang penuh ampunan. Dengan membersihkan hati dari penyakit ghurur dan membekali diri dengan ilmu, diharapkan umat Islam dapat keluar dari bulan Ramadan nanti sebagai pribadi yang benar-benar bertaubat dan memperoleh derajat ketakwaan yang dijanjikan.

Sumber: Kajian Tematik Masjid Jami Malang bersama Habib Hadi bin Alwy Al Kaff yang membahas tentang penyakit hati, khususnya mengenai “Ghurur” atau tipu daya setan.

E-Buletin