Kabarmasjid.id, Surabaya – Kepemimpinan bukan sekadar jabatan yang dikejar, melainkan amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Di tengah dinamika sosial yang kian kompleks, nilai keadilan menjadi jangkar utama bagi seorang pemimpin dalam menyejahterakan masyarakat. Melalui kajian kitab suci dan hadis, kita diingatkan kembali bahwa setiap keputusan yang diambil memiliki dampak luas, baik bagi dunia maupun di akhirat kelak.
Kajian kitab Riyadus Shalihin ini dilaksanakan pada Rabu malam, 4 Februari 2026, bertempat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Menghadirkan KH. Muhammad Saleh Drehem, Lc., M.Ag. sebagai narasumber, pembahasan kali ini berfokus pada bab ke-79 yang mengupas tuntas profil pemimpin yang adil. Acara yang dihadiri jamaah lintas generasi ini juga disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Masjid Al-Akbar TV.
Dalam pemaparannya, Kyai Saleh menegaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya adalah seorang pemimpin. Hal ini merujuk pada hadis Nabi yang menyatakan bahwa setiap manusia akan diminta pertanggungjawabannya atas apa yang dipimpinnya. Mulai dari seorang suami yang memimpin rumah tangga hingga seorang istri yang menjaga amanah di rumah, semuanya memiliki beban tanggung jawab yang setara di hadapan Allah SWT.
Lebih lanjut, Kyai Saleh menjelaskan bahwa cakupan kepemimpinan formal meliputi struktur terkecil seperti RT dan RW hingga level tertinggi yakni kepala negara. Semakin tinggi kedudukan seseorang, maka semakin besar pula kewajibannya untuk menghadirkan kedamaian dan kesejahteraan bagi rakyatnya. Pemimpin tidak boleh hanya memikirkan diri sendiri, melainkan harus fokus pada pengawalan kebijakan yang bermanfaat bagi kemanusiaan.
Mengutip Surah An-Nahl ayat 90, Kyai Saleh mengingatkan pentingnya sikap ihsan atau berbuat baik dalam menjalankan roda kepemimpinan. Seorang pemimpin seringkali terjebak dalam godaan wewenang yang luas, sehingga rentan terperosok dalam kekejian dan kemungkaran. Oleh karena itu, zikir dan kedekatan kepada Sang Pencipta menjadi benteng utama agar pemimpin tetap berada di jalur yang benar.
Salah satu poin menarik dalam kajian ini adalah pembahasan mengenai tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah di hari kiamat. Golongan pertama yang disebut oleh Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang adil. Keutamaan ini diberikan karena satu hari kepemimpinan yang dijalankan dengan adil memiliki nilai ibadah yang sangat luar biasa, bahkan diibaratkan setara dengan ibadah selama seribu tahun.
Keadilan dalam kepemimpinan juga harus dimulai dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Kyai Saleh menyoroti fenomena pemimpin yang sibuk mengurus urusan publik namun mengabaikan kebutuhan dan pendidikan anak istri. Keadilan yang sejati bersifat proporsional, di mana seorang pemimpin mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada mereka yang berhak menerimanya.
Selain pemimpin, golongan kedua yang mendapatkan perhatian besar dalam kajian ini adalah sosok pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah. Pemuda memiliki kekuatan fisik dan nalar yang luar biasa untuk berkontribusi bagi bangsa. Kyai Saleh menekankan bahwa sejarah besar dunia selalu digerakkan oleh tangan-tangan pemuda yang cerdas dan beriman, sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS dan para sahabat Nabi.
Beliau juga memberikan peringatan keras mengenai tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini, mulai dari ancaman narkoba hingga pengaruh konten digital yang negatif. Tanggung jawab untuk menjaga moralitas pemuda berada di pundak orang tua dan para pemimpin melalui kebijakan yang tegas. Jika generasi mudanya rusak, maka masa depan sebuah bangsa akan menjadi suram dan kehilangan arah.
Poin ketiga yang ditekankan adalah pentingnya keterikatan hati dengan masjid. Masjid harus menjadi rumah kedua bagi umat Islam untuk mencari ketenangan dan bimbingan spiritual. Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid akan terjaga dari perbuatan maksiat karena ia selalu merasa berada dalam jaminan dan pengawasan Allah SWT. Hal ini menjadi krusial dalam membentuk karakter individu yang jujur.
Menjelang bulan suci Ramadan, Kyai Saleh mengajak jamaah untuk mulai membiasakan diri memakmurkan masjid dengan ibadah-ibadah wajib maupun sunah. Beliau berharap masjid dapat menjadi tempat pemersatu umat tanpa perlu memperdebatkan perbedaan-perbedaan kecil dalam tata cara ibadah. Fokus utama umat seharusnya adalah meningkatkan kualitas ketakwaan dan mempererat tali persaudaraan antar sesama.
Sebagai penutup, Kyai Saleh menekankan pentingnya kaderisasi atau penyiapan generasi penerus. Seorang pemimpin yang bijak adalah mereka yang tidak hanya sukses memimpin saat ini, tetapi juga berhasil mencetak pengganti yang lebih baik di masa depan. Dengan kolaborasi antara pemimpin yang adil, pemuda yang taat, dan lingkungan masjid yang makmur, keberkahan akan turun bagi seluruh masyarakat dan negeri.
Sumber: Kajian Rabu Malam oleh KH. Muhammad Saleh Drehem, Lc., M.Ag. dengan membahas bab ke-79 Kitab Riyadus Shalihin