Kabarmasjid.id, Malang – Memasuki pengujung bulan Sya’ban, atmosfer spiritual umat Islam mulai meningkat seiring semakin dekatnya bulan suci Ramadhan. Momen ini sering kali menjadi waktu yang tepat bagi para ulama untuk mengingatkan kembali esensi persiapan batin agar tidak melewatkan keberkahan yang ditawarkan oleh bulan penuh ampunan tersebut. Salah satu pesan mendalam mengenai persiapan ini disampaikan dalam rangkaian Khutbah Jum’at yang berlangsung pada 6 Februari 2026 di Masjid Agung Jami Malang, dengan Khatib KH. Nur Hasanuddin, pengasuh Pondok Pesantren Darus Sa’adah, Gubuklakah, Malang.
Dalam khutbahnya, KH. Nur Hasanuddin menekankan bahwa kehadiran jemaah pada hari ke-18 bulan Sya’ban tersebut merupakan isyarat kuat bahwa Ramadhan sudah di depan mata. Beliau mengajak seluruh jemaah untuk merenungkan kembali doa-doa yang dipanjatkan sejak bulan Rajab, yakni memohon keberkahan hidup agar bisa dipertemukan dengan bulan Ramadhan dalam keadaan sehat dan penuh kesiapan iman.
KH. Nur Hasanuddin menjelaskan sebuah filosofi penting dari para ulama terdahulu mengenai keterkaitan antara tiga bulan mulia: Rajab, Sya’ban, dan Ramadhan. Beliau mengibaratkan bulan Rajab sebagai waktu untuk menanam benih-benih kebaikan dan niat yang tulus dalam beribadah kepada Allah SWT. Tanpa menanam di waktu yang tepat, mustahil seseorang bisa mengharapkan hasil yang maksimal di masa mendatang.
Selanjutnya, bulan Sya’ban digambarkan sebagai masa untuk menyiram dan merawat tanaman yang telah ditanam tersebut. Pada tahap inilah konsistensi ibadah diuji, di mana setiap mukmin diajak untuk mulai membiasakan diri dengan amalan-amalan sunah. Dengan perawatan yang baik di bulan Sya’ban, maka tunas-tunas keimanan akan tumbuh kuat sebelum memasuki masa puncaknya.
Puncak dari siklus spiritual ini adalah bulan Ramadhan, yang disebut oleh Abuya sebagai waktu panen raya pahala. Keberhasilan seseorang dalam memanen keberkahan di bulan suci sangat bergantung pada seberapa sungguh-sungguh mereka menanam di bulan Rajab dan menyiram di bulan Sya’ban. Tanpa persiapan yang matang, Ramadhan dikhawatirkan hanya akan berlalu sebagai rutinitas tahunan tanpa bekas spiritual yang mendalam.
Dalam khutbahnya, beliau juga menyoroti keistimewaan luar biasa yang diberikan Allah SWT khusus kepada umat Nabi Muhammad SAW. Meskipun secara usia biologis umat saat ini jauh lebih pendek dibandingkan umat nabi-nabi terdahulu, Allah memberikan kompensasi berupa lipatan pahala yang sangat besar melalui momentum-momentum tertentu, terutama di dalam bulan suci Ramadhan.
Kelebihan pahala ini dijelaskan secara rinci, di mana amalan sunah yang dikerjakan selama Ramadhan akan dicatat nilainya setara dengan amalan wajib di luar bulan tersebut. Lebih dahsyat lagi, satu amalan wajib yang ditunaikan di bulan Ramadhan akan diberikan ganjaran pahala yang setara dengan 70 kali lipat ibadah wajib di bulan-bulan lainnya.
Namun, di balik limpahan pahala tersebut, terdapat peringatan keras bagi mereka yang lalai. Abuya mengutip pesan Rasulullah SAW mengenai golongan orang-orang yang celaka. Salah satunya adalah seseorang yang mendapati bulan Ramadhan dari awal hingga akhir, namun ketika bulan itu pergi, dosa-dosanya tidak kunjung diampuni oleh Allah SWT karena ia tidak bersungguh-sungguh dalam bertaubat.
Selain itu, beliau mengingatkan tentang pentingnya memuliakan Nabi Muhammad SAW dengan memperbanyak selawat. Orang yang dianggap bakhil atau celaka adalah mereka yang mendengar nama Rasulullah disebut, namun lisan mereka berat untuk berselawat. Hal ini ditekankan sebagai bagian dari identitas umat yang mengharapkan syafaat beliau di hari akhir nanti.
KH. Nur Hasanuddin mengajak jemaah untuk menyambut Ramadhan dengan penuh sukacita dan kegembiraan. Beliau mengutip hadis yang menyatakan bahwa barang siapa yang bergembira dengan datangnya Ramadhan, maka Allah mengharamkan jasadnya tersentuh api neraka. Kegembiraan ini harus diwujudkan dengan peningkatan kualitas ibadah, baik secara kuantitas maupun kekhusyukan.
Di akhir khutbah, beliau memimpin doa agar seluruh jemaah diberikan umur yang barokah dan rezeki yang luas yang dapat menunjang ibadah. Beliau berharap agar setiap keluarga muslim dapat membimbing anak-anak mereka menjadi generasi yang saleh dan salihah, yang kelak akan menjadi investasi pahala bagi orang tuanya di alam kubur maupun di akhirat.
Sebagai penutup, ditekankan kembali bahwa tujuan akhir dari seluruh rangkaian ibadah ini adalah mencapai husnul khatimah. Dengan memakmurkan masjid dan menguatkan ibadah di sisa bulan Sya’ban ini, diharapkan umat Islam dapat memasuki gerbang Ramadhan dengan kesiapan lahir dan batin yang sempurna, sehingga benar-benar keluar sebagai pemenang yang mendapatkan ampunan total.
Sumber: Khutbah Jum’at Masjid Jami’ Malang 6 Februari 2026 dengan Khotib KH. Nur Hasanuddin