Investasi Amal Saleh sebagai Jalan Keluar dari Kesulitan Hidup

Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan
Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari ujian dan kesulitan yang datang silih berganti. Dalam ajaran Islam, setiap hambatan yang dirasa buntu seringkali membutuhkan “kunci” langit untuk membukanya. Salah satu kunci paling ampuh adalah dengan membangun jembatan spiritual melalui amal-amal kebaikan yang dilakukan secara konsisten dan ikhlas sebelum masa sulit itu tiba.

Kajian Mimbar Dzuhur yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Jumat, 6 Februari 2026, menghadirkan narasumber Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan. Dalam tausiyahnya, beliau membedah tema mendalam mengenai urgensi memperbanyak amal saleh sebagai wasilah atau perantara untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta menjadi jalan keluar atas segala problematika hidup.

Ustadz Nadjih mengawali kajian dengan merujuk pada Surah Al-Maidah ayat 35. Ayat ini memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan mencari wasilah agar mendapatkan keberuntungan. Beliau menekankan bahwa setiap individu harus memiliki jalur khusus atau “jalur nembus” ke hadirat Allah melalui produktivitas amal kesalehan yang dilakukan semaksimal mungkin.

Menariknya, beliau menjelaskan perbedaan istilah wasilah yang sering didengar umat Islam. Selain sebagai jalan pendekatan melalui amal, istilah ini juga muncul dalam doa setelah azan. Namun, dalam konteks doa azan, wasilah merujuk pada kedudukan paling mulia dan spesial di surga yang hanya diperuntukkan bagi Nabi Muhammad SAW sebagai bentuk penghormatan atas kemanusiaan beliau yang agung.

Ustadz Nadjih kemudian memaparkan konsep “barter” spiritual dengan Allah SWT. Beliau menjelaskan bahwa saat manusia menghadapi masyaqat atau kesulitan yang tidak bisa diselesaikan dengan logika manusia, maka amal saleh yang telah diinvestasikan sebelumnya dapat digunakan sebagai wasilah dalam doa untuk memohon pertolongan langsung dari Sang Pencipta.

Sebagai ilustrasi nyata, beliau mengangkat hadis populer mengenai tiga pemuda yang terjebak di dalam gua karena tertutup batu besar. Dalam kondisi kritis di mana tenaga manusia tidak lagi mampu mendorong batu tersebut, salah satu pemuda mengingatkan rekan-rekannya bahwa hanya doa dengan perantara amal saleh yang ikhlaslah yang mampu menyelamatkan mereka.

Pemuda pertama dalam kisah tersebut ber-wasilah dengan amalan baktinya kepada orang tua. Ia pernah menunggu orang tuanya bangun dari tidur hingga fajar menyingsing hanya untuk memberikan segelas susu, meski anak-anaknya sendiri merengek kehausan. Berkat keikhlasan menjaga adab terhadap orang tua, batu besar yang menutup pintu gua tersebut bergeser untuk pertama kalinya.

Pemuda kedua menunjukkan wasilah melalui integritas moral yang luar biasa. Ia berhasil melawan hawa nafsu dan membatalkan niat berzina di saat kesempatan sudah terbuka lebar, semata-mata karena diingatkan untuk takut kepada Allah. Beliau menegaskan bahwa meninggalkan kemaksiatan (tarkul maasi) di saat mampu melakukannya adalah amal saleh yang sangat spektakuler di mata Allah.

Adapun pemuda ketiga menggunakan wasilah berupa kejujuran dan amanah dalam urusan harta. Ia mengelola gaji karyawannya yang tertinggal hingga berkembang menjadi ternak yang banyak, lalu menyerahkan semuanya tanpa kurang sedikit pun saat si karyawan kembali. Kejujuran di atas rata-rata inilah yang akhirnya membuat batu gua tersebut bergeser sepenuhnya hingga mereka bisa keluar dengan selamat.

Selain dari hadis, Ustadz Nadjih juga mengambil pelajaran dari kisah Nabi Yunus AS dalam Al-Qur’an. Beliau menjelaskan bahwa keselamatan Nabi Yunus dari perut ikan bukanlah kebetulan. Allah SWT berfirman bahwa seandainya Nabi Yunus bukan termasuk orang yang gemar bertasbih dan beribadah di masa lalu, niscaya ia akan tetap berada di perut ikan hingga hari kiamat.

Melalui deretan kisah tersebut, pesan moral yang disampaikan adalah pentingnya menabung “investasi” amal saat kondisi lapang. Amal saleh yang kita kumpulkan, baik berupa bakti sosial, kejujuran, maupun keteguhan iman, akan menjadi pembela kita di saat-saat paling gelap dalam hidup, karena Allah-lah yang memegang kendali atas segala solusi.

Sebagai penutup, Ustadz Nadjih mengingatkan bahwa Islam bukan sekadar agama langit atau keyakinan semata, melainkan agama amal dan agama bumi. Dampak dari amal saleh tidak hanya dirasakan oleh pelakunya secara spiritual, tetapi juga membawa ketertiban dan kebaikan bagi masyarakat luas jika nilai-nilai kejujuran dan amanah tersebut diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sumber: Mimbar Dzuhur Masjid Al Falah Bersama Ustadz Drs. H. Nadjih Ihsan dengan tema “Perbanyak Amal Saleh, Dekatkan diri Pada Allah”

E-Buletin