Lebih dari Sekadar Pindah Tempat, Inilah Makna Hijrah yang Sebenarnya

Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi
Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Keilmuan Islam klasik selalu menawarkan oase spiritual yang menyejukkan, terutama ketika dibedah melalui kitab-kitab otoritatif seperti Shahih Bukhari. Dalam sebuah majelis yang penuh kekhusyukan, untaian hadist Nabi tidak hanya dibaca sebagai teks sejarah, tetapi juga sebagai pedoman etika dan keimanan yang relevan hingga saat ini. Tulisan ini merangkum sari pati keilmuan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut.

Kajian Majelis Salaf Rouhah ini dilaksanakan pada siang hari, tepatnya tanggal 2 Februari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi. Beliau memandu pembacaan Kitab Shahih Bukhari dengan membedah transisi penting dari bab permulaan wahyu menuju bab tentang iman. Suasana masjid yang bersejarah menambah kedalaman makna dalam setiap penjelasan yang disampaikan kepada para jamaah yang hadir maupun yang menyimak melalui siaran langsung.

Pada awal penyampaiannya Ustadz Ahmad Syakir menyoroti sifat kedermawanan Rasulullah SAW yang luar biasa. Beliau digambarkan sebagai manusia yang paling dermawan, namun kedermawanannya mencapai puncaknya pada bulan Ramadan. Momentum tersebut terjadi saat beliau bertemu dengan Malaikat Jibril untuk melakukan tadarus Al-Qur’an, yang menunjukkan bahwa kedekatan dengan kalam Ilahi seharusnya berbanding lurus dengan kepedulian sosial terhadap sesama.

Sifat dermawan Nabi diibaratkan lebih cepat dan luas jangkauannya daripada hembusan angin. Beliau memberikan bantuan tanpa sedikit pun rasa takut akan kemiskinan, sebuah teladan yang sangat berat namun esensial bagi setiap mukmin. Kedermawanan ini bukan sekadar tentang materi, melainkan tentang keluasan hati dalam menebar manfaat bagi seluruh umat manusia tanpa memandang latar belakang.

Kajian kemudian beralih pada kisah historis yang sangat menarik mengenai dialog antara Raja Heraklius dari Romawi dengan Abu Sufyan. Dialog ini menunjukkan bagaimana kejujuran adalah nilai universal yang dipegang teguh bahkan oleh mereka yang saat itu belum memeluk Islam. Abu Sufyan, meskipun saat itu merupakan lawan politik Nabi, tidak berani berbohong mengenai kepribadian Rasulullah karena takut akan aib sebagai seorang penipu.

Melalui pertanyaan Heraklius, terungkap bahwa Rasulullah SAW berasal dari nasab yang mulia dan memiliki rekam jejak integritas yang tidak terbantahkan. Hal ini membuktikan bahwa risalah kenabian didukung oleh latar belakang karakter yang kuat sejak masa muda. Heraklius sendiri mengakui bahwa tanda-tanda kenabian Muhammad SAW telah tertulis dalam kitab-kitab terdahulu dan diakui oleh para cendekiawan masa itu.

Salah satu poin penting yang digarisbawahi adalah profil para pengikut awal Nabi yang mayoritas berasal dari kalangan dhuafa atau orang-orang lemah. Heraklius mencatat bahwa secara historis, para Nabi memang selalu diikuti oleh mereka yang tertindas sebelum akhirnya kebenaran tersebut diterima secara luas. Hal ini menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai pembela bagi mereka yang tidak memiliki kekuatan sosial.

Memasuki pembahasan Kitab Iman, Ustadz Ahmad Syakir menjelaskan bahwa iman bukanlah sesuatu yang statis. Iman bersifat dinamis, dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Penjelasan ini mengajak para jamaah untuk selalu menjaga konsistensi dalam beribadah dan terus memupuk rasa takut serta harap kepada Allah SWT agar kualitas keimanan tetap terjaga.

Dalam konteks rukun Islam, salat diletakkan sebagai pilar utama setelah syahadat. Kajian menekankan bahwa salat adalah kunci surga dan menjadi amal pertama yang akan dihisab di akhirat kelak. Jika salat seseorang diperbaiki, maka urusan-urusan lainnya dalam kehidupan juga akan ikut menjadi baik. Ini merupakan pengingat keras bagi setiap muslim untuk tidak meremehkan ibadah wajib ini.

Selain itu, sifat malu (haya’) juga dibahas sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari iman. Seseorang yang kehilangan rasa malu akan kehilangan kendali atas perilakunya, sehingga berpotensi melakukan tindakan apa pun tanpa mempertimbangkan norma agama maupun sosial. Rasa malu bertindak sebagai rem spiritual yang menjaga martabat seorang mukmin di hadapan pencipta dan sesama manusia.

Definisi seorang muslim sejati juga dipertegas dalam kajian ini, yaitu mereka yang mampu memberikan rasa aman bagi orang lain. Seorang muslim yang baik adalah yang tangan dan lisannya tidak menyakiti orang lain. Pesan ini sangat relevan di era digital, di mana lisan kini bertransformasi menjadi tulisan di media sosial yang sering kali digunakan untuk menyakiti atau menebar fitnah.

Sebagai penutup, Ustadz Ahmad Syakir menjelaskan hakikat hijrah yang sesungguhnya di masa sekarang. Hijrah bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan komitmen untuk meninggalkan segala sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. Dengan menjauhi maksiat dan berpegang teguh pada syariat, seorang mukmin telah dianggap melakukan hijrah spiritual yang hakiki menuju keridaan Ilahi.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah di Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ahmad Syakir bin Ali Alhabsyi

E-Buletin