Shalat: Langit Mikraj dan Puncak Pendakian Spiritual Seorang Mukmin

Ustadz H. Mulyani Taufiq, M.H
Ustadz H. Mulyani Taufiq, M.H

Bagikan postingan :

Kabarmasjid.id, Surabaya – Shalat sering kali dianggap sebagai rutinitas kewajiban semata, namun di balik gerakan dan bacaannya, tersimpan hakikat pendakian spiritual yang luar biasa. Bagi seorang mukmin, setiap sujud adalah sarana untuk melepaskan diri sejenak dari belenggu dunia dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Sebuah kajian mendalam baru-baru ini mengupas tuntas bagaimana shalat menjadi “Mikraj” atau perjalanan ruhani yang menentukan kualitas hidup seseorang di dunia dan akhirat.

Kajian Ahad Subuh ini dilaksanakan pada tanggal 2 Februari 2026 di Masjid Al Falah Surabaya, dengan menghadirkan Ustadz H. Mulyani Taufiq, M.HI. Dalam ceramah bertajuk “Shalat, Langit Mikraj Orang Mukmin” tersebut, beliau menekankan bahwa shalat bukan sekadar beban syariat, melainkan kebutuhan ruhani yang harus dijaga dalam kondisi apa pun. Beliau membuka kajian dengan mengingatkan keutamaan besar bagi mereka yang mampu menjaga jamaah, khususnya di waktu Subuh yang berat bagi sebagian orang.

Ustadz Mulyani menjelaskan bahwa shalat memiliki kedudukan yang sangat unik dibandingkan ibadah lain seperti haji atau zakat. Jika ibadah lain memerlukan prasyarat kemampuan finansial atau kesehatan fisik yang prima, shalat wajib dikerjakan dalam keadaan sehat maupun sakit, saat bermukim maupun musafir, selama nyawa masih ada dalam jiwa. Hal ini menunjukkan betapa krusialnya hubungan komunikasi antara hamba dan Tuhannya yang tidak boleh terputus oleh alasan duniawi apa pun.

Dalam perspektif sejarah, perintah shalat lima waktu merupakan kado istimewa dari peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Beliau memaparkan bahwa sebelum perintah shalat lima waktu turun, Rasulullah telah melaksanakan ibadah di malam hari sebagai bentuk pendekatan diri. Menariknya, saat di Masjidil Aqsa, Rasulullah mengimami ribuan nabi dan rasul, sebuah peristiwa yang mengukuhkan gelar beliau sebagai Imamul Anbiyaai wal Mursalin atau pemimpin para nabi dan utusan Allah.

Kajian ini juga menyoroti berbagai tingkatan orang dalam mendirikan shalat berdasarkan tuntunan Al-Qur’an. Ada golongan yang sangat disayangkan, yakni mereka yang masuk neraka Saqar karena meninggalkan shalat sama sekali semasa hidupnya. Selain itu, terdapat peringatan bagi mereka yang mulai mengabaikan atau menyia-nyiakan waktu shalat, serta kelompok munafik yang mengerjakan shalat namun diiringi dengan rasa malas yang mendalam sebagai bentuk tipu daya terhadap diri sendiri.

Lebih lanjut, Ustadz Mulyani membahas golongan orang yang “lalai” atau sahun dalam shalatnya. Kelalaian ini bisa berupa lupa jumlah rakaat atau bahkan lupa melaksanakan shalat karena terlalu asyik dengan aktivitas duniawi, seperti saat berada di pusat perbelanjaan atau menonton pertandingan. Beliau mengingatkan bahwa jika seseorang benar-benar lupa karena tertidur atau tidak sengaja, maka ia wajib segera melaksanakan shalat “qada” di saat ia teringat atau terbangun.

Pada tingkatan yang lebih tinggi, terdapat orang-orang yang sudah mampu memelihara shalatnya dengan baik, mulai dari bacaan, waktu, hingga kualitas berjamaahnya. Ustadz memberikan apresiasi khusus bagi jamaah yang istikamah hadir di masjid meskipun jarak rumah mereka jauh. Konsistensi ini merupakan bentuk kesetiaan hamba yang dalam bahasa agama disebut sebagai daimun, di mana seseorang menjaga shalat dan wudunya secara terus-menerus dan penuh kesadaran.

Salah satu poin menarik dalam kajian ini adalah pembahasan mengenai khusyuk. Ustadz Mulyani jujur mengakui bahwa mencapai kekhusyukan adalah perjuangan yang sangat berat bagi manusia biasa. Beliau sempat bercerita tentang pengalamannya mengikuti berbagai pelatihan shalat khusyuk, namun akhirnya menemukan hakikat bahwa khusyuk bukanlah sekadar konsentrasi teknis, melainkan anugerah yang datang saat seorang hamba benar-benar merasa sedang berhadapan dengan Allah.

Beliau membagikan metode praktis untuk meraih kekhusyukan, yakni dengan menghadirkan ingatan akan kematian saat sedang berdiri di atas sajadah. Dengan membayangkan bahwa shalat yang sedang dilakukan mungkin merupakan shalat terakhir sebelum ajal menjemput, pikiran-pikiran liar tentang utang, pekerjaan, atau urusan rumah tangga akan dengan sendirinya luruh. Mengingat kematian adalah obat paling mujarab untuk menyatukan hati dan pikiran di hadapan Sang Khalik.

Shalat yang dikerjakan dengan benar dan berkualitas niscaya akan memberikan dampak nyata berupa kemampuan untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar. Ustadz menekankan bahwa zikir kepada Allah dalam shalat adalah kekuatan yang jauh lebih besar dari apa pun. Jika seseorang rajin shalat namun tetap melakukan maksiat, maka ada kualitas dalam shalatnya yang perlu dievaluasi kembali, karena hakikat shalat seharusnya menjadi benteng moral bagi pelakunya.

Puncak dari kualitas shalat seseorang akan melahirkan buah ruhani yang disebut Hudurul Qolbi, yaitu perasaan bahwa Allah selalu hadir mengawasi setiap gerak-gerik kita. Selain itu, shalat yang baik akan menumbuhkan rasa malu dalam hati (Hayaul Qolbi) untuk berbuat dosa serta rasa takut akan siksa Allah. Orang yang shalatnya benar akan memiliki karakter yang sopan, rendah hati, dan jujur karena ia menyadari bahwa dirinya senantiasa berada dalam pantauan Ilahi.

Sebagai penutup, Ustadz Mulyani mengajak jamaah untuk senantiasa memiliki sifat Rojak atau harapan yang besar kepada Allah. Orang mukmin tidak boleh putus asa, karena apa pun penderitaan yang dialami, mereka selalu memiliki harapan untuk hidup mulia, mati syahid, dan mencapai husnul khatimah. Dengan menjaga shalat sebagai “langit mikraj” pribadi, setiap mukmin berpeluang meraih nikmat terbesar di akhirat nanti, yaitu kemampuan untuk memandang wajah Allah SWT.

Sumber: Kajian Ahad Subuh di Masjid Al Falah Surabaya yang oleh Ustadz H. Mulyani Taufiq, M.H dengan tema “Sholat, Langit Mi’raj Orang Mukmin”

E-Buletin