Seni Menata Hati: Mengapa Memaafkan Jauh Lebih Utama daripada Membalas Dendam?

Ustadz Ali Bin Hasan Al Habsyi
Ustadz Ali Bin Hasan Al Habsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Menghadapi perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain sering kali memicu gejolak emosi untuk membalas dengan hal yang serupa, atau bahkan lebih parah. Namun, Islam telah memberikan panduan yang sangat detail mengenai bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap saat dizalimi. Melalui kajian tafsir Kitab Shafwatuttafasir, kita diajak menyelami kembali pesan-pesan mendalam yang terkandung di akhir Surah An-Nahl mengenai moderasi dalam membalas keburukan dan keutamaan memaafkan.

Kajian rutin Majelis Salaf Rouhah ini diselenggarakan pada Sabtu, 31 Januari 2026, bertempat di Masjid Riyadh, Solo, dengan menghadirkan Ustadz Ali Bin Hasan Al Habsyi sebagai narasumber. Dalam kesempatan tersebut, beliau menyampaikan materi yang menitikberatkan pada arahan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW mengenai strategi dakwah dan cara menyikapi penolakan serta kezaliman dari kaum musyrikin. Penjelasan ini menjadi sangat relevan sebagai kompas moral bagi umat dalam berinteraksi sosial di era modern yang penuh dinamika.

Pada awal penyampaiannya Ustadz Ali menekankan bahwa tugas utama seorang pengemban dakwah hanyalah menyampaikan risalah dengan cara yang terbaik. Allah SWT memerintahkan penggunaan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog yang santun dalam mengajak manusia kembali ke jalan-Nya. Fokus utama bukan pada hasil akhir berupa banyaknya pengikut, melainkan pada proses penyampaian yang sesuai dengan syariat, karena hidayah sepenuhnya merupakan hak prerogatif Allah SWT.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah batasan dalam membalas kezaliman sebagaimana termaktub dalam ayat ke-126 Surah An-Nahl. Ayat ini memberikan kelonggaran bagi mereka yang teraniaya untuk memberikan balasan yang setimpal. Prinsip keadilan ini menjaga agar manusia tidak melampaui batas saat menuntut haknya, namun di saat yang sama, Allah SWT segera menyambungnya dengan anjuran untuk bersabar sebagai pilihan yang jauh lebih mulia.

Sejarah mencatat bahwa ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa memilukan pada Perang Uhud, yakni syahidnya Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib. Paman Rasulullah tersebut tidak hanya gugur, tetapi jasadnya dimutilasi secara keji oleh musuh. Melihat kondisi pamannya yang sangat memprihatinkan, Rasulullah SAW sempat merasa sangat terpukul dan secara spontan berucap ingin membalas perlakuan tersebut kepada 70 orang musyrikin di kemudian hari.

Namun, Allah SWT langsung memberikan teguran halus melalui wahyu agar balasan tidak boleh melebihi kadar kezaliman yang diterima. Jika yang dizalimi satu orang, maka tidak boleh membalas kepada banyak orang atau dengan cara yang lebih kejam. Ustadz Ali menjelaskan bahwa arahan ini menjadi pelajaran bagi seluruh umat Islam bahwa emosi sesaat, sekalipun didasari oleh rasa cinta yang besar, tidak boleh menabrak batasan-batasan keadilan yang telah ditetapkan agama.

Lebih jauh lagi, beliau memaparkan bahwa meski membalas secara setimpal itu diperbolehkan, memaafkan adalah tingkatan yang lebih tinggi (afdal). Memaafkan bukan berarti kalah atau lemah, melainkan sebuah bentuk kemenangan melawan hawa nafsu. Rasulullah SAW sendiri akhirnya memilih jalan kesabaran ini, yang kemudian menjadi karakter utama beliau dalam menaklukkan hati manusia tanpa harus menggunakan kekerasan yang berlebihan.

Contoh nyata dari keluhuran budi pekerti ini terlihat saat peristiwa Fathu Makkah. Ketika Rasulullah SAW memiliki kekuasaan penuh untuk membalas dendam kepada penduduk Makkah yang telah menyiksa dan mengusirnya selama bertahun-tahun, beliau justru memilih untuk memerdekakan mereka. Tidak ada harta yang dirampas secara paksa dan tidak ada dendam yang dituntaskan, sebuah manifestasi nyata dari ayat “bersabar itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.”

Ustadz Ali juga menyinggung tentang pentingnya menjaga kesehatan mental dan spiritual seorang pejuang dakwah. Allah SWT mengingatkan Nabi agar tidak terlalu bersedih atas penolakan atau tipu daya musuh. Kesedihan yang berlebihan dapat melemahkan semangat dalam berbuat baik. Dengan menyerahkan hasil akhir kepada Allah, seorang Muslim dapat tetap fokus pada tugasnya tanpa terbebani oleh respons negatif dari lingkungan sekitar.

Kunci dari segala ketenangan dalam menghadapi badai kehidupan adalah ketakwaan. Ustadz Ali mengingatkan bahwa pertolongan Allah selalu menyertai mereka yang bertakwa dan berbuat ihsan. Kemenangan sejati tidak selalu datang dari kekuatan materi atau senjata yang canggih, melainkan dari kedekatan spiritual kepada Sang Pencipta. Hal ini dibuktikan dalam sejarah Perang Badar, di mana pasukan yang sedikit dapat menang karena kuatnya sandaran mereka kepada Allah.

Selain itu, etika dalam berdiskusi atau jidal juga menjadi sorotan. Dalam berdialog, tujuan utamanya bukanlah untuk menjatuhkan lawan bicara atau memenangkan argumen pribadi. Sebaliknya, dialog harus menjadi sarana untuk mencari kebenaran bersama-sama. Jika kebenaran itu muncul dari pihak lawan, maka seorang Muslim yang bijak harus berlapang dada menerimanya karena esensi dari diskusi adalah mencari rida Allah, bukan pengakuan ego.

Ustadz Ali Bin Hasan Al Habsyi ini memberikan pesan kuat bahwa kebersamaan Allah SWT hanya akan dirasakan oleh mereka yang mampu menjaga hatinya dari penyakit dendam. Dengan mengedepankan sifat muhsin (berbuat baik) bahkan kepada mereka yang berniat buruk, seorang hamba akan mendapatkan perlindungan dan pemeliharaan langsung dari Allah. Kajian ini mengakhiri bahasan Surah An-Nahl dan bersiap menyongsong hikmah baru dalam Surah Al-Isra’ pada pertemuan mendatang.

Sumber: Kajian Majelis Salaf Rouhah di Masjid Riyadh Solo Bersama Ustadz Ali Bin Hasan Al Habsyi membahas tafsir Kitab Shafwatuttafasir yang berfokus pada akhir Surah An-Nahl

E-Buletin