KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam menjalani kehidupan yang penuh dinamika, manusia sering kali terjebak dalam pergulatan batin antara menuruti ego atau berserah diri kepada Sang Pencipta. Memahami karakter spiritual melalui simbolisme malaikat ternyata dapat menjadi kompas untuk menentukan ke arah mana kaki kita melangkah. Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Amrullah Muzayyin pada Selasa, 27 Januari 2026, bertempat di Masjid Diponegoro, Surabaya, dengan mengangkat tema menarik bertajuk “Rahasia di Balik Malik dan Ridwan”.
Ustadz Amrullah membuka kajian dengan mengajak jemaah merenungi makna di balik nama malaikat penjaga surga dan neraka. Menurut beliau, nama-nama tersebut bukanlah sekadar label, melainkan mengandung rahasia karakter yang mencerminkan kondisi hati manusia selama di dunia. Ridwan melambangkan keridaan dan kerendahan hati, sementara Malik melambangkan kekuasaan yang cenderung membawa pada kesombongan jika tidak dikelola dengan iman.
Dalam tinjauan filosofisnya, Ridwan identik dengan sifat air yang selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Hal ini menggambarkan perilaku tawadhu atau rendah hati, di mana seseorang merasa dirinya kecil di hadapan Allah. Sebaliknya, Malik diibaratkan seperti api yang sifatnya selalu menyala dan menjulang ke atas. Api ini merepresentasikan nafsu manusia yang selalu ingin meninggi, merasa lebih hebat, dan enggal untuk tunduk pada aturan Sang Pencipta.
Lebih lanjut, Ustadz Amrullah menjelaskan bahwa setiap sikap yang kita ambil sehari-hari sebenarnya adalah “latihan” untuk bertemu dengan salah satu dari kedua malaikat tersebut. Seseorang yang terbiasa bersyukur, lemah lembut, dan rida terhadap ketentuan Allah, secara tidak langsung sedang membangun kedekatan dengan karakter Ridwan. Di sisi lain, mereka yang sering mengeluh, keras hati, dan suka merendahkan sesama, secara batiniah sedang membiasakan diri dengan frekuensi malaikat Malik.
Ustadz Amrullah juga menyoroti perbedaan mendasar antara konsep “memilih” dan “dipilihkan”. Dalam perspektif syariat atau Islam, manusia memang diberi akal untuk memilih dan berikhtiar secara logis dalam urusan duniawi. Namun, dalam wilayah iman, seorang hamba harus sampai pada derajat menyadari bahwa segala sesuatu pada akhirnya adalah pilihan terbaik yang telah ditetapkan oleh Allah untuknya.
Sikap ridho atau rela dikuasai dan diatur oleh Allah merupakan inti dari karakter penghuni surga. Ketika seseorang sudah merasa tidak memiliki apa-apa karena menyadari semuanya adalah titipan, maka ego dan kesombongan akan menurun dengan sendirinya. Inilah yang kemudian melahirkan pribadi yang lemah lembut, sebuah sifat yang menurut Rasulullah SAW sangat dicintai oleh Allah dan membawa keberkahan dalam hidup.
Dalam kajian tersebut, ditekankan pula pentingnya zikir sebagai sarana untuk mempermudah syukur. Dzikir adalah aktivitas mengingat Allah yang akan melunakkan hati yang keras. Ustadz Amrullah menegaskan bahwa tidak ada perintah untuk “berpikir sebanyak-banyaknya” di dalam Al-Qur’an, melainkan perintah untuk “berdzikir sebanyak-banyaknya”, karena pikiran yang berlebihan tanpa landasan dzikir sering kali hanya membuahkan pusing dan penyakit hati.
Analisis unik juga disampaikan melalui tadabur angka dan huruf hijaiah. Beliau mengaitkan rukun iman yang berjumlah enam dengan angka pada jam dinding dan urutan surah dalam Al-Qur’an. Penjelasan ini memberikan pemahaman bahwa iman dan syukur adalah dua hal yang tak terpisahkan. Jika seseorang benar-benar beriman, maka mata hatinya akan terbuka untuk melihat limpahan nikmat Allah yang tak terbatas, bahkan dalam hal-hal kecil seperti keberadaan air mata yang bening.
Ustadz Amrullah kemudian memberikan kritik sosial mengenai fenomena “ibadah lahiriah” yang belum menyentuh batin. Banyak orang yang rajin salat secara fisik, namun hatinya masih sering “ngamukan” atau mudah marah. Beliau mengibaratkan hal ini seperti seseorang yang makan tetapi tidak mendapatkan nutrisi, karena hatinya sedang sakit atau mengalami “diare spiritual” sehingga kebaikan ibadah tidak membekas pada akhlaknya.
Bagi mereka yang sedang diuji dengan rasa sakit atau musibah, kajian ini memberikan perspektif yang menyejukkan. Sakit bukan sekadar penderitaan fisik, melainkan mekanisme Allah untuk menghapuskan dosa-dosa hamba-Nya. Dengan memandang sakit sebagai bentuk kasih sayang dan penghapusan dosa, seorang mukmin akan tetap mampu bersyukur dan bersabar, sehingga ia tetap berada dalam jalur keridaan atau jalur Ridwan.
Ustadz Amrullah mengingatkan jemaah bahwa dunia ini adalah tempat persinggahan yang akan ditinggalkan, atau dalam istilah Jawa disebut “meninggal dunia”. Karena posisi dunia berada di belakang dan akhirat berada di depan, maka manusia yang hanya mengejar dunia sebenarnya sedang berjalan mundur. Cahaya iman seharusnya membimbing manusia untuk terus melangkah maju menuju masa depan yang abadi di akhirat kelak.
Ustadz Amrullah memberikan pesan kuat bahwa setiap detik kehidupan adalah pilihan untuk membentuk karakter hati. Dengan memperbanyak syukur dan mengurangi keluhan, kita sedang melapangkan jalan menuju surga yang penuh dengan kesejukan. Semoga setiap jemaah yang hadir mampu mentransformasikan diri dari pribadi yang keras seperti kerikil menjadi pribadi yang lembut dan penuh keridaan di bawah naungan rahmat Allah SWT.
Sumber: Kajian Tematik Masjid Diponegoro Surabaya Bersama Ustadz Amrullah Muzayyin membawakan tema “Rahasia di Balik Malik dan Ridwan”.