KabarMasjid.id, Solo – Dunia literasi Islam tidak pernah lepas dari keagungan kitab Shahih Bukhari sebagai rujukan hadis paling otentik. Memahami bagaimana wahyu pertama kali turun bukan sekadar mempelajari sejarah, melainkan menyelami hakikat niat dan keteguhan hati dalam menjalankan risalah ketuhanan. Melalui kajian rutin yang mendalam, nilai-nilai luhur dari tradisi salaf ini terus dihidupkan untuk menjadi pedoman bagi umat di era modern.
Majelis Salaf Rouhah Siang ini diselenggarakan secara langsung di Masjid Riyadh, Solo, pada Senin, 26 Januari 2026. Kajian yang mengupas tuntas Kitab Shahih Bukhari ini dipandu oleh Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi, yang membedah bab permulaan wahyu (Bad’il Wahyi) dengan pendekatan yang komprehensif, mulai dari aspek sejarah, bahasa, hingga tinjauan fikih yang relevan bagi jamaah.
Mengawali kajian, Ustadz Muhammad memperkenalkan sosok di balik kitab monumental ini, yakni Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari. Menariknya, Imam Bukhari bukanlah seorang keturunan Arab, melainkan berasal dari wilayah Bukhara. Hal ini memberikan motivasi besar bagi umat Islam non-Arab bahwa penguasaan ilmu agama yang mendalam bisa dicapai oleh siapa saja melalui proses belajar yang tekun, termasuk dalam menguasai bahasa Arab sebagai kunci memahami wahyu.
Pembahasan inti dimulai dengan hadis tentang niat, “Innamal a’malu bin niyat”. Ustadz Muhammad menekankan bahwa penempatan hadis niat di awal kitab oleh Imam Bukhari adalah sebuah isyarat penting. Segala amal perbuatan, baik yang bersifat ibadah mahdhah maupun aktivitas sosial, tidak akan bernilai di sisi Allah jika tidak didasari oleh niat yang tulus dan tujuan yang benar.
Niat disebut sebagai “sepertiga dari agama” karena mencakup aspek hati, yang merupakan poros dari lisan dan perbuatan anggota badan. Dalam kajian tersebut dijelaskan bagaimana perbedaan niat menjadi pembeda antara kebiasaan rutin (adat) dan ibadah. Sebagai contoh, mandi biasa dan mandi besar secara fisik tampak sama, namun niatlah yang menentukan apakah tindakan tersebut mampu mengangkat hadas besar atau sekadar membersihkan badan.
Lebih lanjut, Ustadz Muhammad memaparkan perbedaan pandangan para ulama mengenai kedudukan niat dalam fikih. Mazhab Syafi’i memandang niat sebagai syarat sahnya suatu amal, yang berarti ibadah tidak dianggap berlaku tanpa niat. Sementara itu, dalam Mazhab Abu Hanifah, niat lebih ditekankan pada aspek kesempurnaan amal, sehingga dalam beberapa kondisi, hukumnya dipandang sebagai sunah yang menyempurnakan pahala.
Memasuki bab permulaan wahyu, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW mengawali masa kenabian melalui mimpi-mimpi yang benar (Ar-Ru’ya Ash-Shalihah). Mimpi tersebut digambarkan sangat jernih dan nyata, seperti cahaya di waktu subuh. Fenomena ini dialami Nabi selama enam bulan sebelum malaikat Jibril turun secara fisik, yang secara matematis menjadi dasar mengapa mimpi orang mukmin disebut sebagai 1/46 bagian dari kenabian.
Kajian juga menyentuh sisi kemanusiaan Rasulullah SAW saat menerima wahyu yang terasa sangat berat secara fisik. Kadang wahyu datang dengan suara denting lonceng yang sangat keras, yang merupakan proses paling berat. Bahkan dalam cuaca yang sangat dingin sekalipun, dahi Rasulullah SAW akan bercucuran keringat sesaat setelah wahyu selesai diturunkan, menunjukkan betapa besarnya beban risalah yang beliau pikul.
Momen dramatis di Gua Hira pun diceritakan kembali, saat Malaikat Jibril mendekap Nabi dan memerintahkannya untuk membaca. Peristiwa ini membawa pesan tentang pentingnya literasi dan kesiapan mental dalam menerima kebenaran. Ketakutan yang dirasakan Nabi saat pulang ke rumah disambut dengan kebijaksanaan Sayidah Khadijah, yang memberikan dukungan moral luar biasa dengan menyebutkan kebaikan-baikan sosial yang selama ini Nabi lakukan.
Tokoh Waraqah bin Naufal turut dibahas sebagai saksi sejarah yang mengonfirmasi kenabian Muhammad SAW. Waraqah, yang merupakan ahli kitab, mengenali bahwa yang datang kepada Nabi adalah Namus, pembawa rahasia langit yang sama dengan yang menemani Nabi Musa. Waraqah memberikan peringatan dini bahwa jalan dakwah tidaklah mudah; setiap pembawa kebenaran pasti akan menghadapi tantangan dan penentangan dari kaumnya sendiri.
Bagian akhir kajian menjelaskan tentang etika Nabi saat menerima wahyu, di mana Allah menurunkan ayat yang melarang Nabi terburu-buru menggerakkan lisan untuk menirukan Jibril. Allah menjamin bahwa wahyu tersebut akan dihimpun di dalam dada Nabi dan beliau akan dimampukan untuk membacanya dengan sempurna. Hal ini mengajarkan pentingnya sikap sam’an wa tha’atan atau mendengarkan dengan saksama sebelum bertindak.
Kajian Majelis Salaf Rouhah di Masjid Riyadh Solo ini diakhiri dengan doa yang syahdu dipimpin oleh Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi, memohon agar ilmu yang dipelajari menjadi cahaya dalam kehidupan. Melalui pembedahan Kitab Shahih Bukhari ini, jamaah diajak untuk tidak hanya memahami teks hadis secara harfiah, tetapi juga meneladani integritas para ulama salaf dalam menjaga otentisitas ajaran Islam hingga sampai ke generasi hari ini.
Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang yang diselenggarakan di Masjid Riyadh Solo pada tanggal 26 Januari 2026 dipandu oleh Ustadz Muhammad bin Husin Alhabsyi. yang membahas Kitab Shahih Bukhari,