Ramadhan Tinggal Menghitung Hari, Sudahkah Kita Mencapai Target Ketakwaan?

Ustadz Dr. K.H. Muhammad Khairul Anwar, M.E.I.
Ustadz Dr. K.H. Muhammad Khairul Anwar, M.E.I.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, atmosfer spiritual di tengah masyarakat mulai meningkat, terutama saat memasuki bulan Syakban. Persiapan bukan sekadar tentang pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan bagaimana menata hati agar ibadah yang dilakukan tidak terjebak dalam rutinitas tahunan yang hampa makna. Memahami hakikat puasa sebagai sarana transformasi diri menjadi kunci agar target ketakwaan dapat diraih dengan sempurna.

Kajian spiritual ini dilaksanakan pada hari Rabu malam, 21 Januari 2026, bertempat di ruang tengah Masjid Al Akbar Surabaya. Kegiatan yang rutin digelar setelah waktu Magrib ini menghadirkan narasumber Ustadz Dr. K.H. Muhammad Khairul Anwar, M.E.I. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya memanfaatkan sisa waktu di bulan Syakban sebagai masa “pemanasan” spiritual sebelum memasuki bulan Ramadhan yang tinggal menghitung hari.

Pada awal pemaparannya, Ustadz Khairul Anwar mengingatkan bahwa iman dan takwa manusia bersifat dinamis, terkadang naik dan terkadang turun. Hal ini terjadi karena adanya godaan setan yang sangat masif dari segala penjuru, mulai dari depan, belakang, kanan, hingga kiri. Oleh karena itu, persiapan yang matang sangat diperlukan agar semangat ibadah tetap terjaga dan tidak mudah goyah oleh rasa malas saat Ramadhan tiba.

Beliau juga menyoroti fenomena puasa yang sering kali hanya dianggap sebagai ritual rutin. Banyak orang yang sudah berpuasa puluhan kali sejak kecil, namun jarang melakukan evaluasi apakah ibadah tersebut telah membawa dampak nyata bagi perubahan perilakunya. Padahal, tujuan akhir dari perintah puasa sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an adalah agar setiap mukmin mencapai derajat takwa yang lebih tinggi.

Hakikat puasa secara syariat adalah al-imsak atau menahan diri dari segala hal yang membatalkan sejak fajar hingga terbenamnya matahari. Namun secara filosofis, puasa melatih manusia untuk menahan keinginan atau syahwat yang sebenarnya dibolehkan, seperti makan dan minum. Logikanya, jika hal yang halal saja mampu kita tahan demi perintah Allah, maka seharusnya kita lebih kuat lagi dalam menahan diri dari hal-hal yang diharamkan.

Ustadz Khairul Anwar juga menyentuh aspek ekonomi Islam dalam perilaku masyarakat saat bulan puasa. Beliau mengkritik fenomena “balas dendam” saat berbuka yang justru membuat pengeluaran rumah tangga membengkak melebihi bulan biasa. Semangat puasa seharusnya mampu melatih pengendalian diri dalam berbelanja, sehingga prinsip menahan diri juga tecermin dalam pola konsumsi yang lebih bijak dan hemat.

Lebih lanjut, Ustadz Khairul Anwar memaparkan empat hal penting yang akan dipertanyakan oleh Allah pada hari kiamat nanti. Pertama adalah mengenai umur, untuk apa saja waktu selama hidup di dunia dihabiskan. Apakah umur tersebut diisi dengan kemanfaatan dan ibadah, atau justru terbuang sia-sia hanya untuk mengejar kesenangan duniawi yang bersifat sementara tanpa nilai ukhrawi.

Hal kedua yang akan dipertanggungjawabkan adalah jasad atau seluruh anggota tubuh. Ustaz menjelaskan bahwa kelak mulut akan dikunci, sementara tangan dan kaki akan bersaksi atas apa yang telah dilakukan. Mata, telinga, dan setiap inci tubuh kita akan melaporkan secara detail kepada sang Pencipta tentang semua aktivitas yang pernah dikerjakan selama hidup di dunia.

Pertanyaan ketiga berkaitan dengan ilmu yang dimiliki oleh seseorang. Ilmu bukan sekadar untuk dikoleksi atau dibanggakan, melainkan untuk diamalkan. Ustaz mengingatkan bahwa orang yang berilmu namun tidak mengamalkannya justru memiliki risiko dosa yang lebih besar. Pengetahuan yang kita dapatkan dari setiap kajian harus mampu bertransformasi menjadi aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Hal terakhir yang tidak kalah berat adalah pertanggungjawaban mengenai harta benda. Berbeda dengan tiga poin sebelumnya, harta akan ditanyakan dari dua arah, yaitu dari mana harta tersebut diperoleh dan untuk apa harta itu dibelanjakan. Ustaz menekankan pentingnya memastikan setiap rupiah yang kita miliki berasal dari sumber yang halal dan digunakan pada jalan yang diridai Allah.

Dalam perspektif waktu, beliau mengingatkan bahwa kehidupan dunia ini sangatlah singkat dan cepat berlalu. Beliau mengutip perumpamaan bahwa hidup di dunia hanyalah seperti “mampir minum” atau pengembara yang singgah sebentar. Satu hari di akhirat setara dengan seribu tahun di dunia, sehingga waktu produktif kita sebenarnya sangat terbatas jika dibandingkan dengan kekekalan di masa depan.

Sebagai penutup, Ustadz Khairul Anwar mengajak jemaah untuk menyongsong Ramadhan dengan niat yang tulus dan semangat untuk meningkatkan amal ibadah. Harapannya, Ramadhan tahun ini menjadi momentum yang sukses secara spiritual, di mana setiap individu mampu lulus sebagai pribadi yang lebih bertakwa, lebih jujur dalam mengelola harta, dan lebih bijaksana dalam memanfaatkan sisa usia yang masih diberikan oleh Allah.

Sumber: Kajian Rabu Malam di Masjid Al Akbar Surabaya oleh Ustadz Dr. K.H. Muhammad Khairul Anwar, M.E.I.

E-Buletin