Seni Berdiskusi dalam Islam: Mengedepankan ‘Mujadalah’ yang Ahsan dan Beradab

Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi
Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Dunia dakwah kontemporer sering kali terjebak pada angka-angka statistik, mulai dari jumlah pengikut hingga viralitas konten. Namun, sebuah kajian mendalam di Surah An-Nahl memberikan perspektif yang berbeda tentang esensi dakwah yang sesungguhnya. Meneladani figur Nabi Ibrahim A.S. sebagai “bapak para Nabi” menjadi kunci untuk memahami bagaimana seharusnya nilai-nilai kebaikan disebarkan di tengah masyarakat.

Majelis Salaf Rouhah Siang yang rutin diadakan di Masjid Riyadh Solo pada Sabtu, 24 Januari 2026, kembali membedah Kitab Sofwatuttafasir. Dalam sesi tersebut, Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi menjelaskan secara rinci tafsir Surah An-Nahl yang berkaitan dengan kepribadian Nabi Ibrahim A.S. dan instruksi Allah kepada Rasulullah SAW mengenai metode komunikasi dalam berdakwah.

Nabi Ibrahim digambarkan oleh Al-Qur’an sebagai sosok “Ummah”, yang berarti seorang pemimpin yang menjadi teladan sempurna. Uniknya, meskipun beliau adalah seorang individu, kebaikan yang terkumpul dalam dirinya setara dengan kebaikan satu umat manusia. Beliau menjadi standar moral bagi setiap pencari kebenaran dari berbagai latar belakang keyakinan.

Sifat utama lainnya yang ditekankan dalam kajian adalah “Qonitan Lillah”, yakni ketaatan yang mutlak kepada Sang Pencipta. Beliau bukan sekadar menjalankan perintah, melainkan melakukannya dengan ketundukan jiwa yang total. Hal inilah yang membuat posisi beliau begitu istimewa, bahkan mendapatkan gelar Khalilullah atau kekasih Allah.

Selain itu, Nabi Ibrahim dikenal dengan sifat “Hanif”, sebuah kecenderungan yang tak tergoyahkan menuju jalan yang lurus. Beliau secara sadar menjauh dari segala bentuk kebatilan dan kemusyrikan sejak usia dini. Integritas iman ini menjadi fondasi utama mengapa ajaran beliau tetap relevan dan dihormati oleh berbagai agama samawi hingga saat ini.

Satu hal yang sering terlupakan dalam kehidupan modern adalah rasa syukur, dan Nabi Ibrahim adalah teladan dalam hal “Syakiran lian’umih”. Beliau mensyukuri setiap nikmat, mulai dari kesehatan anggota tubuh hingga harta benda, dengan cara menggunakannya sesuai kehendak Allah. Syukur inilah yang kemudian mengundang tambahan nikmat dan kemuliaan dari Allah SWT.

Allah kemudian memerintahkan Rasulullah SAW—dan secara tidak langsung kepada kita semua—untuk mengikuti “Millah Ibrahim”. Salah satu bentuk implementasinya adalah melalui metode dakwah yang bijaksana. Dalam kajian dijelaskan bahwa dakwah haruslah dimulai dengan “Hikmah”, yakni menempatkan sesuatu pada tempatnya dengan penuh kearifan.

Metode kedua yang ditekankan adalah “Mauidzatil Hasanah” atau nasihat yang baik. Dakwah bukanlah ajang untuk menghakimi atau menyudutkan orang lain dengan kata-kata kasar. Sebaliknya, penyampaian harus dilakukan dengan penuh kelembutan (lutuf) agar pesan yang disampaikan dapat menyentuh hati tanpa menimbulkan resistensi.

Jika dalam perjalanannya terjadi perbedaan pendapat atau dialektika, Al-Qur’an memberikan panduan “Mujadalah billati hiya ahsan”. Artinya, dialog atau diskusi harus dilakukan dengan cara yang paling santun dan beradab. Argumentasi harus dibangun di atas hujah yang kuat, namun tetap dibungkus dengan etika komunikasi yang tinggi tanpa merendahkan lawan bicara.

Kajian ini juga memberikan pesan kuat bagi para aktivis dakwah mengenai hasil akhir. Tugas manusia hanyalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang benar, sedangkan hidayah adalah urusan mutlak Allah SWT. Kita tidak dibebani tanggung jawab atas diterima atau tidaknya sebuah ajakan, karena Allah lebih mengetahui siapa yang layak menerima petunjuk.

Seorang pendakwah tidak perlu merasa gagal atau menyalahkan diri sendiri jika pengikutnya sedikit. Kesuksesan dakwah tidak diukur dari jumlah audiens, melainkan dari sejauh mana metode yang digunakan selaras dengan tuntunan syariat. Fokus utama adalah pada proses penyampaian yang berkualitas, bukan pada ambisi untuk mengubah orang lain secara instan.

Sebagai penutup, , Ustadz Ali bin Hasan mengingatkan bahwa mengikuti jalan Nabi Ibrahim adalah tentang menjaga kemurnian tauhid dan menyebarkannya dengan cinta. Dengan mengadopsi sifat-sifat mulia dan cara berkomunikasi yang santun, diharapkan pesan-pesan Islam dapat menjadi rahmat bagi semesta alam, membawa ketenangan bagi siapa saja yang mendengarnya.

Sumber: Majelis Salaf Rouhah Siang di Masjid Riyadh Solo oleh Ustadz Ali bin Hasan Alhabsyi yang membahas  Tafsir Kitab Sofwatuttafasir

E-Buletin