KabarMasjid.id, Malang.id – Dinamika kehidupan modern seringkali membuat manusia terjebak dalam rutinitas lahiriah yang melelahkan. Banyak yang merasa telah menjalankan kewajiban agama secara rutin, namun batin tetap merasa hampa dan kering. Fenomena ini menjadi kegelisahan kolektif bagi mereka yang mendambakan ketenangan sejati di tengah hiruk-pikuk dunia.
Kajian rutin Jumat ba’da Shubuh yang dilaksanakan pada 23 Januari 2026 di Masjid Agung Jami Malang menghadirkan KH. Achmad Mudjayyid sebagai narasumber utama. Dalam ceramahnya yang disiarkan secara langsung, beliau mengupas tuntas urgensi menata batin untuk mencapai tingkat makrifat kepada Allah SWT. Beliau menekankan bahwa hubungan dengan Sang Pencipta tidak boleh terputus dalam kondisi apa pun, baik saat sedang beraktivitas maupun dalam keadaan istirahat.
Kiai Mudjayyid menjelaskan bahwa zikir yang hakiki bukanlah sekadar gerak lisan, melainkan aktivitas hati yang terus menerus tersambung. Hati harus tetap “kontak” dengan Allah, bahkan saat raga sedang tertidur. Menurut beliau, urusan hati bersifat abadi dan tidak akan terputus meskipun ruh telah berpisah dari jasad. Inilah esensi dari kehidupan batin yang seharusnya menjadi fokus utama setiap hamba dalam menjalani kesehariannya.
Dalam tatanan spiritual, terdapat perbedaan mendasar antara syariat dan makrifat. Syariat merupakan aturan lahiriah yang wajib dijalankan, namun sasaran akhir dari hidup seorang mukmin adalah makrifat, yaitu pengenalan mendalam kepada Allah. Kiai Mudjayyid mengingatkan agar manusia tidak hanya berhenti pada formalitas ibadah. Tanpa makrifat, kerja keras lahiriah seringkali tidak membuahkan ketenangan batin yang diinginkan.
Beliau juga menyoroti bagaimana kebersihan hati dapat terpancar melalui fisik seseorang. Seseorang yang hatinya senantiasa rukuk dan sujud kepada Allah akan memiliki aura wajah yang cerah dan bersinar. Cahaya ini bukan berasal dari warna kulit atau riasan fisik, melainkan pancaran dari energi spiritual yang kuat. Sebaliknya, batin yang kotor akan membuat raut wajah tampak redup meski secara fisik terlihat rupawan.
Peristiwa Isra Mikraj nabi Muhammad SAW diambil sebagai pelajaran tentang penguatan mental dan batin. Perjalanan agung tersebut bukan sekadar berpindah tempat secara fisik, melainkan simbol komunikasi intens antara hamba dan Tuhannya. Nabi diperlihatkan berbagai tanda kebesaran Allah agar hatinya semakin mantap dan tidak gentar menghadapi tantangan dakwah di Mekah yang saat itu sangat berat.
Lebih lanjut, Kiai Mudjayyid mengisahkan pengalaman Nabi Musa AS yang ingin melihat Allah secara langsung. Pelajaran penting dari kisah ini adalah bahwa mata lahiriah manusia memiliki keterbatasan yang sangat nyata. Untuk bisa “melihat” atau merasakan kehadiran Allah, diperlukan mata batin yang tajam. Mata batin inilah yang harus terus diasah dan dibersihkan dari berbagai penyakit hati seperti iri, dengki, dan sombong.
Penyakit hati seperti ria dan takabur disebut sebagai penghambat utama masuknya energi ketuhanan ke dalam jiwa. Beliau mengimbau jamaah untuk membuang jauh-jauh sifat ingin pamer dan merasa besar. Manusia hanyalah makhluk kecil di hadapan keagungan Allah. Dengan menata batin dan membuang sifat-sifat buruk tersebut, seseorang akan lebih mudah mencapai kondisi wusul atau sampai kepada Allah.
Kiai Mudjayyid menekankan bahwa ibadah seperti doa, wirid, dan salat membutuhkan sistem batin yang bernama khusyuk. Khusyuk adalah gerak alam bawah sadar yang melibatkan keyakinan dan ketenangan hati yang mendalam. Tanpa khusyuk, ibadah mungkin tetap sah secara syariat dan mendatangkan pahala, namun getarannya tidak akan mampu mengubah keadaan jiwa seseorang secara seketika di dunia.
Beliau juga menceritakan kembali kisah Nabi Adam sebagai pengingat akan tipu daya Iblis. Iblis seringkali menggunakan logika syariat untuk mengaburkan makrifat manusia, sebagaimana ia membujuk Adam agar mendekati pohon terlarang dengan argumen yang seolah-olah rasional. Hal ini menjadi peringatan bagi kita agar tidak mudah tertipu oleh kepentingan duniawi yang seringkali dikemas dengan alasan yang masuk akal namun menjauhkan kita dari Tuhan.
Dampaknya, banyak manusia saat ini mengalami kekacauan dalam rumah tangga, rezeki yang terasa sempit, dan kehidupan yang tidak karuan karena meninggalkan aspek makrifat. Ketika syariat didahulukan hanya untuk kepentingan materi dan mengorbankan hubungan batin dengan Allah, maka tatanan hidup akan hancur. Kiai Mudjayyid mengajak jamaah untuk melakukan evaluasi diri dan kembali memperbaiki tatanan hatinya.
Sebagai penutup, beliau menegaskan bahwa solusi dari segala keruwetan hidup adalah kembali kepada Allah melalui istighfar yang tulus. Istighfar bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan bentuk pengakuan dosa yang mendalam dan kerinduan untuk kembali ke jalan yang benar. Dengan batin yang bersih dan tersambung kepada Allah, segala urusan hidup akan terasa lebih ringan dan penuh dengan keberkahan.
Sumber: Kajian Rutin Jumat Ba’da Shubuh di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Achmad Mudjayyid.