KabarMasjid.id, Surabaya – Dunia sering kali memandang kemuliaan hanya dari tumpukan harta dan kemewahan materi. Namun, dalam kacamata spiritual, kebahagiaan sejati justru sering ditemukan dalam kesederhanaan yang mendalam. Sebuah kajian mendalam baru-baru ini mengupas tuntas mengenai pilihan hidup yang menentukan ketenangan jiwa manusia, baik saat berada dalam kondisi kekurangan maupun kecukupan.
Hal tersebut dibahas dalam Kajian kitab Nashaihul Ibad edisi Rabu 19 Januari 2026 di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya dengan menghadirkan Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz. Dalam ceramah yang berlangsung khidmat tersebut, Ustdaz Muzakki membedah maqalah ke-13 karya Syekh Nawawi al-Bantani yang mengutip pemikiran ulama besar Sofyan Ats-Tsauri mengenai perbedaan mendasar antara sifat orang fakir yang rida dan orang kaya yang mencintai dunia.
Pada awal penyampaianya Ustadz Muzakki menekankan bahwa pilihan sifat yang diambil seseorang akan menentukan kualitas hidupnya di dunia dan akhirat. Orang fakir yang dimaksud di sini bukanlah mereka yang sekadar tidak punya, melainkan mereka yang rida dengan ketetapan Allah. Sebaliknya, orang kaya yang disinggung adalah mereka yang terobsesi pada harta hingga melupakan hakikat pengabdian kepada Sang Pencipta.
Ustadz Muzakki menjelaskan bahwa orang fakir yang rida memilih lima sifat terpuji, yang pertama adalah kelapangan jiwa atau rohatun nafsi. Dalam penjelasannya, orang yang tidak memiliki banyak keterikatan harta cenderung lebih santai dan tidak dibebani rasa khawatir yang berlebihan. Mereka bisa tidur dengan nyenyak tanpa harus memikirkan pengamanan aset atau fluktuasi nilai harta yang mereka miliki.
Sifat kedua adalah kelonggaran hati dari beban kehidupan. Beban mental manusia sering kali muncul dari keinginan untuk menjaga dan menambah apa yang sudah ada. Bagi orang fakir yang hatinya terpaut pada Allah, mereka merasa longgar karena tidak ada “beban berat” yang harus dipanggul ke mana pun mereka pergi. Kebebasan inilah yang membuat mereka lebih lincah dalam menjalani hari demi hari.
Selanjutnya, sifat ketiga adalah fokus pada ibadah kepada Tuhan. Ustadz Muzakki memberikan ilustrasi menarik mengenai bagaimana keterbatasan materi justru sering kali mendekatkan seseorang kepada sujud yang lebih lama dan doa yang lebih khusyuk. Tanpa banyak distraksi urusan bisnis atau rapat yang padat, waktu yang dimiliki bisa dialokasikan sepenuhnya untuk memperdalam hubungan spiritual dengan Allah.
Sifat keempat yang sangat krusial adalah ringannya proses hisab di hari kiamat. Secara logika agama, semakin sedikit harta yang dimiliki, semakin sedikit pula pertanyaan yang harus dijawab di hadapan Allah kelak. Orang fakir tidak perlu mempertanggungjawabkan ribuan aset, sehingga perjalanan mereka menuju kebahagiaan abadi di akhirat cenderung lebih cepat dan tanpa hambatan yang berarti.
Sifat terpuji yang kelima adalah mengejar derajat yang tinggi di surga. Karena telah merasakan “penjara” kekurangan di dunia dengan penuh kesabaran, Allah menjanjikan kedudukan yang mulia bagi mereka. Derajat ini merupakan kompensasi atas keridaan mereka dalam menerima takdir, sekaligus pengingat bahwa kemiskinan di dunia bukanlah penghalang untuk menjadi “miliarder” pahala di akhirat.
Di sisi lain, kajian ini juga memberikan peringatan bagi orang kaya yang hatinya tertutup oleh cinta dunia. Mereka sering kali terjebak dalam keletihan jiwa yang tak berujung karena harus terus memikirkan cara memuaskan ambisi. Hati mereka menjadi sibuk dan tidak tenang, bahkan saat melaksanakan ibadah sekalipun, karena pikiran mereka tetap melayang pada urusan transaksi dan keuntungan materi.
Ustadz Muzakki juga menyoroti bahaya menjadi “budak dunia”. Ketika seseorang terlalu mencintai harta, ia akan menghabiskan seluruh waktunya untuk melayani harta tersebut, bukan harta yang melayani dirinya. Hal ini berujung pada beratnya proses hisab di hari akhir, di mana setiap rupiah akan dituntut pertanggungjawabannya, yang bahkan dalam sejarah diceritakan membuat nabi terkaya sekalipun menjadi yang terakhir masuk surga.
Meskipun memaparkan keutamaan sifat fakir, narasumber menegaskan bahwa Islam tidak melarang penganutnya untuk menjadi kaya. Inti dari kajian ini adalah mengenai posisi hati terhadap dunia. Kekayaan yang dikelola dengan rasa syukur dan digunakan untuk kemaslahatan umat justru akan menjadi wasilah kemuliaan, sebagaimana yang dicontohkan oleh para sahabat Nabi yang dermawan.
Sebagai penutup, Ustadz Muzakki mengajak jemaah untuk memiliki sifat qanaah atau merasa cukup dengan apa yang ada. Baik dalam kondisi lapang maupun sempit, keridaan atas ketetapan Allah adalah kunci utama kebahagiaan. Dengan hati yang rida, setiap individu dapat menikmati hidupnya tanpa terbebani oleh bayang-bayang dunia yang fana.
Sumber: Kajian Kitab Nashaihul Ibad (Maqalah ke-13) yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya