KabarMasjid.id, Surabaya – Keimanan seringkali dianggap sebagai konsep abstrak yang hanya bersemayam dalam pikiran, padahal sejatinya ia adalah energi yang menggerakkan seluruh sendi kehidupan. Memahami rukun iman bukan sekadar menghafal urutannya, melainkan menggali dampak nyata yang dihasilkan terhadap pembentukan karakter dan ketenangan batin seorang Muslim. Salah satu aspek krusial adalah bagaimana keimanan kepada kitab-kitab Allah mampu menjadi kompas moral di tengah disrupsi nilai zaman sekarang.
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Achmad Mudzoffar Jufri, Lc. dalam sesi kajian rutin ba’da subuh yang berlangsung di Masjid Al Falah Surabaya pada Senin, 19 Januari 2026. Dalam pemaparannya yang bertajuk “Buah Keimanan kepada Kitab Allah”, beliau menekankan bahwa iman kepada kitab-kitab suci, khususnya Al-Qur’an, memiliki pengaruh besar atau asar yang seharusnya dapat dirasakan langsung oleh setiap mukmin dalam keseharian mereka.
Selanjutnya Ustadz Mudzoffar menjelaskan bahwa keimanan memiliki tingkatan yang bermula dari pengetahuan akal atau makrifah. Ustadz Mudzoffar juga mengingatkan bahwa jika iman hanya berhenti pada level teori dan pengakuan intelektual, maka efek yang dirasakan dalam kehidupan akan sangat kecil. Iman yang berkualitas adalah iman yang turun dari kepala ke dalam rasa di hati, sehingga mampu melahirkan kepribadian yang tangguh dan stabil.
Selanjutnya, beliau memaparkan bahwa indikator utama keberhasilan iman adalah munculnya rasa lezat atau manisnya iman (halawatul iman). Rasa ini bukan sekadar kiasan, melainkan kenikmatan batin yang dirasakan saat seseorang telah rida menjadikan Allah sebagai Tuhannya dan Islam sebagai jalan hidupnya. Tanpa adanya rasa rida ini, ibadah akan terasa sebagai beban yang memberatkan alih-alih sebagai sarana komunikasi yang nikmat dengan Sang Pencipta.
Buah pertama dari iman kepada kitab Allah adalah pengakuan akan kesempurnaan hikmah Ilahi. Melalui petunjuk kitab suci, seorang hamba akan menyadari bahwa Allah adalah Al-Hakim, Dzat yang Maha Bijaksana. Segala aturan yang tertuang dalam kitab-Nya, baik berupa perintah maupun larangan, tidak ada yang sia-sia dan semuanya bertujuan untuk memuliakan manusia agar tidak jatuh lebih rendah daripada derajat binatang.
Lebih jauh, kajian ini menekankan bahwa Al-Qur’an adalah jawaban atas segala tanda tanya besar dalam kehidupan. Ketika manusia menghadapi berbagai persoalan rumit, keimanan kepada kitab seharusnya menuntun mereka untuk kembali membuka dan mencari solusi di dalamnya. Al-Qur’an bukan hanya pajangan, melainkan pedoman operasional bagi setiap mukmin untuk keluar dari kegelapan jahiliah menuju cahaya hidayah.
Dampak kedua yang muncul adalah kesadaran akan kesatuan risalah para nabi. Dengan mengimani kitab-kitab Allah, kita memahami bahwa pesan yang dibawa oleh seluruh utusan Allah sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad adalah satu, yakni tauhid. Hal ini memperkuat prinsip bahwa Islam adalah agama yang koheren dan konsisten dalam membimbing umat manusia di berbagai zaman dan situasi.
Kemudian Ustadz Mudzoffar menyoroti aspek rahmat yang terkandung dalam setiap syariat. Ustadz memberikan perspektif menarik bahwa hukum-hukum Allah yang terkadang dianggap keras oleh sebagian orang, seperti hukum qisas, sebenarnya adalah bentuk kasih sayang Allah untuk menjaga kelangsungan hidup manusia. Hukum tersebut hadir untuk mencegah kejahatan yang lebih besar dan memberikan rasa aman bagi masyarakat luas.
Namun, kenyataan pahit yang sering terjadi adalah banyaknya mukmin yang masih terjebak pada iman formalitas. Beliau menyentil fenomena di mana banyak orang mengaku percaya bahwa Al-Qur’an adalah sumber berkah, namun sangat jarang meluangkan waktu untuk “ngalap berkah” dengan membaca atau mendengarkannya. Padahal, mendekat pada wahyu adalah cara paling utama untuk menjemput ketenangan jiwa.
Oleh karena itu, diperlukan pergeseran pendekatan dalam beragama, dari sekadar pendekatan fikih yang hanya mengejar sah atau tidaknya suatu ibadah, menuju pendekatan iman yang melibatkan rasa. Pendekatan rasa ini akan membuat seseorang lebih peka terhadap hal-hal yang kurang bermanfaat, seperti terlalu lama menghabiskan waktu dengan gawai, meskipun hal tersebut tidak secara vulgar dikategorikan haram secara fikih.
Memasuki bagian akhir, kajian ini mengajak jemaah untuk melakukan evaluasi mandiri atau muhasabah atas kualitas iman masing-masing. Jika dalam salat atau tilawah kita belum merasakan ketenangan, maka bisa jadi ada yang perlu diperbaiki dalam cara kita mengimani kitab-kitab-Nya. Kualitas iman seseorang dapat diukur dari sejauh mana petunjuk kitab tersebut mampu mengubah cara pandang dan perilakunya menjadi lebih baik.
Sebagai penutup, Ustadz Mudzoffar menegaskan bahwa enam rukun iman adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Memperbaiki iman kepada kitab secara otomatis akan memperkuat iman kepada Allah, malaikat, rasul, hari akhir, serta takdir. Dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai rujukan utama, seorang mukmin akan mampu menjalani kehidupan dengan penuh optimisme dan ketenangan di bawah naungan rahmat Allah SWT.
Sumber: Kajian rutin ba’da subuh di Masjid Al Falah Surabaya bersama Ustadz Achmad Mudzoffar Jufri, Lc., dengan tema “Buah Keimanan kepada Kitab-kitab Allah