Menemukan Ketenangan di Tengah Badai: Seni Rida dan Tawakal dalam Menghadapi Ujian Hidup

KH. Dr. Isroqunnajah
KH. Dr. Isroqunnajah

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Malang – Setiap manusia pasti pernah singgah dalam fase kehidupan yang penuh dengan kerikil tajam, mulai dari kesulitan ekonomi hingga duka mendalam. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali menuntut kepastian, ajaran agama hadir sebagai kompas untuk menata hati agar tetap stabil. Kajian rutin Senin ba’da Maghrib yang diselenggarakan pada 19 Januari 2026 di Masjid Agung Jami Malang menghadirkan KH. Dr. Isroqunnajah yang membedah secara mendalam strategi spiritual dalam menghadapi musibah.

Dalam pemaparannya, KH. Isroqunnajah menekankan bahwa langkah pertama yang harus diambil saat menghadapi kesulitan adalah menanamkan rasa rida terhadap ketentuan Allah. Rida bukan berarti menyerah tanpa syarat, melainkan kesadaran penuh bahwa segala sesuatu yang terjadi berada di bawah kehendak dan rencana-Nya yang sempurna. Dengan sikap ini, seseorang akan merasakan kelapangan hati yang luar biasa atau kondisi yang disebut dengan istilah “plong,” karena ia percaya tidak ada satu pun ketetapan Tuhan yang salah sasaran.

Beliau juga mengingatkan bahwa musibah sebenarnya adalah bentuk perhatian khusus dari Sang Pencipta. Berdasarkan pemikiran Imam Al-Ghazali, setiap kesulitan merupakan media bagi Allah untuk menaikkan derajat hamba-Nya dan memberikan pahala yang besar. Oleh karena itu, perspektif kita terhadap ujian harus diubah; bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai proses pembersihan diri dan sarana untuk meraih kedekatan yang lebih intim dengan Allah SWT.

Tantangan hidup yang bertubi-tubi sering kali membuat seseorang merasa lelah dan mulai mempertanyakan keadilan Tuhan. KH. Isroqunnajah memberikan nasehat agar kita melihat sejarah para nabi yang memiliki ujian jauh lebih berat dan kompleks dibandingkan manusia biasa. Jika para kekasih Allah saja diuji sedemikian hebat, maka ujian yang kita alami saat ini sebenarnya adalah bagian kecil dari skenario besar untuk memperkuat mental dan iman kita sebagai hamba.

Selanjutnya, poin penting yang dibahas adalah mengenai kesabaran yang konsisten. Sabar dalam perspektif ini berarti tetap teguh dalam rutinitas ibadah meskipun suasana hati sedang berkabung atau kondisi fisik sedang menurun. Beliau menceritakan kisah inspiratif Kiai Mahfud Sari yang tetap istikamah mengajar dan mengaji di samping jenazah istrinya yang baru saja wafat, menunjukkan bahwa duka tidak seharusnya menghentikan pengabdian kita kepada Allah.

Mengenai persoalan rezeki, kajian ini memberikan pemahaman bahwa setiap orang sudah memiliki jatahnya masing-masing yang telah dijamin oleh Allah. Kita sering kali merasa cemas saat melihat orang lain tampak lebih sukses dengan usaha yang minimal, sementara kita sudah bekerja keras namun hasilnya belum sesuai ekspektasi. Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik (husnuzan) kepada Allah, karena hanya Dia yang paling mengetahui kebutuhan hamba-Nya pada waktu yang tepat.

Tawakal atau kepasrahan total menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan mental seorang mukmin. KH. Isroqunnajah menjelaskan bahwa Allah tidak akan pernah membebani seseorang di luar kapasitasnya. Keyakinan ini harus dipegang teguh agar hati tidak terus-menerus dihantui oleh ketakutan akan masa depan. Dengan tawakal, kita menyerahkan hasil akhir dari setiap usaha kita kepada Zat yang mengatur seluruh alam semesta.

Menariknya, beliau juga mengulas tentang hukum sebab-akibat atau kausalitas dalam kehidupan sehari-hari, seperti minum obat untuk sembuh. Namun, sebagai umat beriman, kita dilarang meyakini bahwa obatlah yang menyembuhkan secara mutlak. Obat hanyalah perantara atau media, sedangkan kesembuhan sejati tetap datang dari Allah. Prinsip ini mengajarkan kita untuk tetap berikhtiar secara lahiriah namun tetap menggantungkan harapan hanya kepada Sang Khalik.

Sebuah ilustrasi menakjubkan tentang kekuatan tawakal diceritakan melalui kisah Imam Ibrahim Al-Khawwas. Di tengah padang pasir, beliau bertemu seorang pemuda yang melakukan perjalanan ke Makkah tanpa bekal maupun kendaraan. Secara logika manusia, hal tersebut mustahil, namun pemuda itu sampai lebih cepat berkat kekuatan tawakalnya yang luar biasa. Kisah ini menjadi pengingat bahwa jika Allah berkehendak, media apa pun bisa menjadi sarana untuk mencapai tujuan.

Kajian ini juga memberikan panduan praktis mengenai manajemen waktu dan pikiran agar tidak habis hanya untuk merisaukan hal-hal yang belum terjadi. Pertanyaan-pertanyaan spekulatif seperti “bagaimana jika nanti gagal” hanya akan merusak konsentrasi hati dan menguras energi. Segala sesuatu akan indah dan terjadi tepat pada waktunya, sesuai dengan ketetapan yang telah tertulis di zaman Azali, sehingga kegelisahan yang berlebihan hanya akan membawa kerugian.

Mengingat saat ini kita telah memasuki bulan Syakban, KH. Isroqunnajah mengajak jemaah untuk mulai memanaskan mesin ibadah sebagai persiapan menyambut Ramadan. Beliau menyarankan untuk memperbanyak puasa sunnah dan amal kebaikan lainnya sebagai bentuk penghormatan terhadap bulan yang mulia ini. Syakban adalah momentum untuk membersihkan hati agar saat Ramadan tiba, kita sudah siap secara spiritual untuk meraup limpahan pahala dan ampunan.

Sebagai penutup, KH. Isroqunnajah memimpin doa bersama yang sangat menyentuh hati. Beliau mendoakan agar seluruh jemaah diberikan keberkahan dalam usia, rezeki, dan keluarga, serta kemudahan dalam menggapai cita-cita. Harapan terbesarnya adalah agar kita semua senantiasa dibimbing dalam kebaikan dan dipulangkan ke haribaan Tuhan dalam keadaan husnul khotimah, meninggalkan dunia dengan membawa iman yang sempurna.

Sumber: Kajian rutin Senin ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang bersama KH. Dr. Isroqunnajah dengen tema

E-Buletin