KabarMasjid.id, Surabaya.id – Seringkali kita merasa hidup begitu menyesakkan, penuh amarah, dan hubungan antarmanusia terasa retak layaknya tanah di musim kemarau. Mengapa hati manusia bisa menjadi begitu gersang dan bagaimana cara memulihkannya? Jawaban atas kegelisahan ini dikupas tuntas dalam kajian Tadabbur Qur’an yang menarik, di mana fenomena alam dijadikan cermin untuk memahami kondisi spiritual kita sendiri.
Kajian bertajuk “Bumi Kering dan Gersang” ini dilaksanakan pada Jumat, 16 Januari 2026, bertempat di Masjid Diponegoro, Surabaya. Menghadirkan Ustadz Amrullah Muzayyin, beliau membedah makna tersirat di balik ayat-ayat Al-Qur’an dengan gaya penyampaian yang ringan, interaktif, dan penuh dengan analogi kehidupan sehari-hari yang menyentuh hati para jamaah.
Ustadz Amrullah membuka kajian dengan merujuk pada Surah Fussilat ayat 39, yang menggambarkan kekuasaan Allah dalam menghidupkan bumi yang kering dan gersang melalui perantara air. Beliau menekankan bahwa manusia, yang diciptakan dari tanah, memiliki keterkaitan erat dengan sifat-sifat bumi. Jika bumi bisa mati karena kekeringan, maka hati manusia pun bisa mengalami “kematian” serupa jika kehilangan sumber kehidupan spiritualnya.
Dalam paparannya, tanah yang retak-retak diibaratkan sebagai gambaran hubungan manusia yang penuh keributan dan permusuhan. Penyebab utama dari “keretakan” ini adalah panasnya hati yang dipicu oleh ego dan kesalahan yang terus dipertahankan. Ketika seseorang terlalu sombong dan enggan mengakui kesalahan, hatinya menjadi gersang, persis seperti tanah yang tidak lagi mampu menumbuhkan tanaman.
Solusi untuk menyatukan tanah yang retak hanyalah satu: merendamnya dengan air. Dalam dimensi spiritual, air dimaknai sebagai simbol kehidupan dan kebenaran yang bersumber dari Allah SWT. Ustadz menjelaskan bahwa tanpa “siraman” kebenaran dan rasa takut kepada Tuhan, hati manusia akan tetap keras dan sulit untuk menyatu kembali dengan sesamanya dalam harmoni.
Menariknya, kajian ini juga menyoroti peran penting seorang ibu dalam keluarga melalui analogi tanah yang subur. Jika tanahnya baik, maka benih yang ditanam akan tumbuh dengan indah. Sebaliknya, jika sang “tanah” (ibu) sering marah atau hatinya tidak tenang, maka pertumbuhan karakter anak-anak di dalamnya pun akan terganggu. Hal ini menekankan betapa krusialnya menjaga kesejukan hati dalam rumah tangga.
Beliau juga membedah filosofi sujud melalui tanda-tanda yang ada pada tubuh manusia, yakni gigi. Secara unik, Ustadz mengaitkan jumlah gigi manusia (32 buah) dengan Surah ke-32 dalam Al-Qur’an, yaitu Surah As-Sajdah (Sujud). Sebagaimana fungsi gigi adalah untuk menghaluskan makanan yang kasar, maka ibadah sujud seharusnya memiliki fungsi untuk menghaluskan hati manusia yang kasar dan keras.
Lebih lanjut, posisi sujud di mana kepala berada di bawah merupakan simbol tertinggi dari kerendahan hati (tawadhu). Ustadz mengibaratkan manusia seperti gelas; gelas yang bersih adalah gelas yang mau ditelungkupkan atau ditaruh bagian atasnya di bawah. Jika seseorang selalu merasa tinggi dan enggan “menunduk” kepada aturan Allah, itu tandanya hati orang tersebut masih kotor dan penuh kesombongan.
Ibadah zikir kemudian diperkenalkan sebagai cara untuk menjaga lisan dan hati agar tetap “basah”. Mengutip hadis Nabi, Ustadz Amrullah mengingatkan bahwa perbedaan antara orang yang berzikir dan yang tidak, seperti perbedaan antara orang yang hidup dan orang yang mati. Hati yang senantiasa dibasahi dengan mengingat Allah tidak akan mudah retak oleh ujian hidup dan akan tetap fleksibel dalam menghadapi perbedaan.
Dalam perspektif yang lebih luas, hidup ini dijelaskan sebagai rangkaian “bolak-balik” yang harus diterima dengan lapang dada. Ustadz memberikan rumus sederhana tentang keseimbangan hidup, yaitu “Gas dan Rem”. Gas adalah simbol dari rasa syukur saat mendapatkan nikmat, sementara rem adalah simbol dari kesabaran saat menghadapi ujian. Keduanya harus berfungsi seimbang agar perjalanan hidup seseorang tidak terperosok dalam celaka.
Kajian ini juga mengajak jamaah untuk memperhatikan tanda-tanda kecil di sekitar mereka, mulai dari mesin cuci hingga ambulans, sebagai bahan tadabbur. Misalnya, pakaian yang kotor harus berani melewati proses “putaran” yang keras dan rasa detergen yang pahit agar bisa kembali bersih dan tertata. Begitu pula manusia, kadang harus melewati ujian pahit untuk membersihkan dosa dan memperbaiki karakter.
Sebagai penutup, Ustadz Amrullah Muzayyin menegaskan bahwa satu-satunya solusi agar hubungan antarmanusia menjadi akrab dan penuh cinta adalah dengan kembali kepada Allah. Ketika hati sudah tertata dan bersih, maka sifat-sifat mulia seperti mudah memaafkan, sabar, dan ikhlas akan tumbuh dengan sendirinya. Hati yang hidup adalah hati yang selalu merasa butuh akan “air” hidayah-Nya setiap waktu.
Sumber: Kajian bertajuk “Tadabbur Qur’an: Bumi Kering dan Gersang” yang disampaikan oleh Ustadz Amrullah Muzayyin di Masjid Diponegoro, Surabaya.