Kehancuran Firaun dan Warisan bagi Kaum Tertindas: Catatan Tafsir Surah Ad-Dukhan

Ustadz Umar Husein Assegaf
Ustadz Umar Husein Assegaf

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Kisah perjuangan para nabi dalam menyampaikan risalah tauhid selalu menyisakan pelajaran mendalam bagi umat manusia di setiap zaman. Salah satu narasi yang paling ikonik adalah pertentangan antara kebenaran yang dibawa Nabi Musa AS dengan kesombongan absolut Firaun di Mesir. Melalui kajian tafsir terbaru, kita diajak untuk menggali makna tersirat di balik runtuhnya sebuah kekuasaan yang zalim dan bagaimana alam semesta merespons kematian pelakunya.

Kajian Tafsir Al-Qur’an ini disampaikan oleh Ustadz Umar Husein Assegaf yang berlangsung di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta, pada Sabtu, 17 Januari 2026. Dalam sesi tersebut, pembahasan difokuskan pada Surah Ad-Dukhan ayat 17 hingga 29, yang merinci fase-fase krusial dakwah Nabi Musa AS hingga detik-detik tenggelamnya Firaun beserta bala tentaranya di Laut Merah.

Ustadz Umar menjelaskan bahwa Allah SWT telah memberikan ujian kepada kaum Firaun jauh sebelum kaum musyrikin Makkah diuji dengan kedatangan Rasulullah SAW. Ada kesatuan risalah di antara para nabi, di mana setiap utusan Allah pasti akan menghadapi penentangan dari penguasa yang sombong. Nabi Musa datang sebagai rasul yang mulia, membawa misi utama untuk membebaskan Bani Israil dari belenggu perbudakan yang menyiksa.

Dalam dakwahnya, Nabi Musa AS menampilkan karakter sebagai pemimpin yang terpercaya (amin) dan pemberi nasihat yang tulus. Beliau memperingatkan Firaun agar tidak berlaku sombong di hadapan Allah SWT. Namun, kekuasaan yang besar seringkali membutakan mata hati, sehingga Firaun justru merasa dirinya adalah tuhan yang paling tinggi dan menolak kebenaran meski hujah yang nyata telah dipaparkan di depannya.

Kajian ini juga menyoroti berbagai mukjizat yang diperlihatkan Nabi Musa, mulai dari tongkat yang berubah menjadi ular hingga tangan yang bercahaya. Semua tanda kekuasaan Allah itu seharusnya cukup bagi orang yang berakal untuk tunduk. Namun, bagi Firaun dan pengikutnya, mukjizat tersebut dianggap sebagai sihir belaka, menunjukkan betapa kerasnya hati yang telah tertutup oleh kesombongan.

Ancaman pembunuhan terhadap Nabi Musa pun muncul saat Firaun merasa kekuasaannya terancam. Menghadapi situasi genting ini, Nabi Musa memohon perlindungan kepada Allah SWT. Beliau sempat menawarkan jalan damai dengan meminta Firaun agar tidak mengganggunya dan membiarkannya pergi bersama Bani Israil, namun permintaan tersebut tetap tidak diindahkan oleh sang penguasa Mesir.

Puncak dari penolakan tersebut adalah perintah Allah kepada Nabi Musa untuk membawa kaumnya pergi meninggalkan Mesir pada waktu malam secara diam-diam. Ust. Umar menceritakan bagaimana strategi ini menjadi awal dari kehancuran total Firaun. Allah menjanjikan bahwa Firaun dan tentaranya akan mengejar mereka, dan itulah saat di mana jebakan ilahi mulai bekerja untuk membinasakan kezaliman.

Keajaiban besar terjadi saat laut terbelah demi memberikan jalan bagi Bani Israil. Setelah Nabi Musa dan kaumnya sampai di seberang, beliau awalnya berniat memukulkan kembali tongkatnya agar laut menutup. Namun, Allah memerintahkan untuk membiarkan laut tetap tenang (rahwa) untuk memberi ruang bagi Firaun dan tentaranya masuk hingga ke tengah, sehingga tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyelamatkan diri saat air kembali menyatu.

Menariknya, kajian ini mengungkap bahwa setelah Firaun binasa, kemewahan Mesir yang luar biasa—mulai dari kebun-kebun, mata air, hingga bangunan megah—diwariskan kepada kaum yang sebelumnya dianggap lemah, yakni Bani Israil. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Allah sanggup memutarbalikkan nasib suatu kaum; penguasa yang sombong dihancurkan, sementara rakyat yang tertindas namun bersabar diangkat derajatnya.

Satu poin mendalam dalam ayat ini adalah pernyataan bahwa “langit dan bumi tidak menangisi kematian mereka”. Ustadz Umar menjelaskan perbedaan mencolok antara kematian pelaku maksiat dan orang saleh. Bagi penguasa zalim seperti Firaun, alam semesta justru merasa lega dengan kepergiannya, karena tidak ada amal saleh yang naik ke langit dan tidak ada sujud yang membekas di bumi dari dirinya.

Sebaliknya, kematian orang saleh akan diratapi oleh tempat-tempat di bumi yang biasa digunakannya untuk beribadah dan pintu-pintu di langit yang biasa dilalui oleh amal salehnya. Hal ini menjadi pengingat bagi setiap individu untuk memperbanyak jejak kebaikan di berbagai tempat. Perpindahan tempat saat melakukan salat sunah, misalnya, bertujuan agar semakin banyak bagian bumi yang kelak menjadi saksi kebaikan dan menangisi kepergian kita.

Sebagai penutup, Ustadz Umar mengingatkan pentingnya meneladani adab para ulama dalam menuntut dan menyebarkan ilmu. Ilmu harus dicari dengan niat yang ikhlas semata-mata karena Allah, bukan untuk menyombongkan diri atau mencari kedudukan. Dengan hati yang tawadu dan rasa kasih sayang terhadap sesama, ilmu yang dipelajari akan menjadi cahaya yang menyelamatkan, baik bagi sang pengajar maupun orang yang diajarnya.

Sumber: Kajian tafsir Al-Qur’an yang dipimpin oleh Ustadz Umar Husein Assegaf di Masjid Jami’ Assagaf, Surakarta

E-Buletin