Manisnya Iman dalam Ingatan: Rahasia Menjemput Pertolongan Allah Lewat Zikir

Ustadz H. Achmad Sulton Rofii
Ustadz H. Achmad Sulton Rofii

Bagikan postingan :



KabarMasjid.id, Malang
– Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang sering kali membuat hati terasa hampa, banyak orang mencari pelarian dalam materi yang fana. Namun, sebuah kajian mendalam mengingatkan kita bahwa ketenangan sejati tidak terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada sejauh mana hati kita terhubung dengan Sang Pencipta. Melalui untaian hikmah dari kitab klasik, kita diajak menyelami samudera zikir sebagai obat bagi jiwa yang lelah.

Kajian rutin Ba’da Maghrib yang berlangsung pada hari Selasa, 14 Januari 2026, di Masjid Agung Jami Malang menghadirkan Ustadz H. Achmad Sulton Rofii sebagai narasumber utama. Dalam sesi tersebut, beliau membedah kitab Risalatul Muawanah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, dengan fokus utama pada bab keutamaan zikir. Suasana masjid yang khusyuk menjadi saksi bagaimana jemaah diajak untuk kembali menghidupkan hati melalui mengingat Allah SWT.

Ustadz Sulton mengawali penjelasannya dengan menegaskan bahwa zikir adalah rukun paling pokok dalam perjalanan seorang hamba menuju Tuhannya. Zikir bukan sekadar aktivitas lisan, melainkan kunci pembuka bagi tingkatan hakikat dan senjata ampuh untuk menundukkan musuh-musuh batin, seperti hawa nafsu dan godaan setan. Ketika seseorang diberikan kemudahan untuk berzikir, itu adalah sinyal kuat bahwa ia sedang mendapatkan rahmat dan penjagaan khusus dari Allah.

Salah satu poin krusial yang dibahas adalah pentingnya husnudzon atau berbaik sangka kepada Allah dalam segala situasi. Merujuk pada hadis qudsi yang menyatakan bahwa Allah bertindak sesuai persangkaan hamba-Nya, Ustadz Sulton menekankan bahwa sikap mental ini adalah ibadah yang sangat tinggi nilainya. Dengan selalu berbaik sangka, seorang mukmin akan tetap tenang meskipun tengah menghadapi badai ujian yang berat.

Beliau juga menjelaskan bahwa ujian hidup yang dialami seorang mukmin bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan bukti cinta. Sebagaimana disebutkan dalam hadis, jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya untuk menghapus dosa dan meningkatkan derajatnya. Sebaliknya, kemudahan yang diberikan kepada orang yang tidak beriman sering kali merupakan istidraj atau jebakan yang justru menjauhkan mereka dari rahmat-Nya.

Lebih lanjut, kajian ini menyoroti janji Allah untuk menyertai hamba-Nya yang sedang berzikir. “Aku bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku,” demikian kutipan hadis qudsi yang dijelaskan oleh Ustadz Sulton. Kebersamaan ini bermakna perlindungan, pertolongan, dan kemudahan dalam segala urusan hidup, sehingga seorang ahli zikir tidak akan pernah merasa sendirian dalam menghadapi tantangan dunia.

Ada perbedaan istimewa antara berzikir sendirian dan berzikir dalam sebuah majelis atau kumpulan. Jika seseorang mengingat Allah dalam kesunyian, Allah akan mengingatnya dalam Zat-Nya yang suci. Namun, jika ia berzikir dalam sebuah perkumpulan, Allah akan menyebut-nyebut namanya di hadapan kumpulan makhluk yang jauh lebih mulia, yaitu para malaikat di langit.

Ustadz Sulton juga memberikan catatan penting mengenai “ruh” dari sebuah ibadah, yaitu adab. Tanpa adab yang benar, zikir atau ibadah lainnya hanya akan menjadi gerakan fisik yang tidak memberikan hasil nyata. Dua adab utama yang harus dijaga adalah keikhlasan yang murni hanya karena Allah dan hudur atau hadirnya hati secara penuh saat berkomunikasi dengan Sang Khalik.

Bagi mereka yang telah mencapai derajat zikir dengan adab yang sempurna, akan lahir sebuah perasaan yang disebut “manisnya iman.” Kelezatan spiritual ini dijelaskan sebagai sesuatu yang jauh melampaui segala bentuk kenikmatan duniawi. Sering kali, para ahli zikir merasa begitu cukup dengan Allah sehingga mereka tidak lagi bergantung pada pandangan atau bantuan makhluk lain.

Ketenangan hati yang dihasilkan dari zikir (tathmainnul qulub) menjadi senjata utama bagi setiap mukmin. Di saat harta dan jabatan tidak mampu memberikan rasa aman, zikir hadir sebagai jangkar yang menjaga jiwa agar tetap stabil. Ustadz Sulton mengingatkan bahwa rasa tentram sejati hanya bisa dicapai dengan mengingat Allah, sebagaimana yang ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ra’d.

Sebagai bentuk edukasi praktis, beliau membagikan doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW agar kita selalu diberi kekuatan untuk berzikir, bersyukur, dan beribadah dengan baik. Doa tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan untuk menggerakkan lidah dalam zikir pun merupakan taufik dan pertolongan dari Allah yang harus disyukuri setiap waktu.

Kajian ditutup dengan harapan agar para jemaah dapat istikamah dalam berzikir hingga akhir hayat. Ustadz Sulton mendoakan agar setiap langkah ibadah yang dilakukan menjadi bekal untuk meraih husnul khatimah. Dengan zikir yang terjaga, diharapkan transisi menuju kehidupan akhirat nantinya akan dipenuhi dengan cahaya dan kenikmatan yang abadi.

Sumber: Kajian Rutin Ba’da Maghrib di Masjid Agung Jami Malang oleh Ustadz H. Achmad Sulton Rofii membahas kitab Risalatul Muawanah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad

E-Buletin