Puasa sebagai Obat Jiwa: Tips Menjaga Kejernihan Batin di Tengah Hiruk Pikuk Dunia

Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.
Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Dunia yang semakin bising sering kali membuat jiwa manusia merasa lelah dan kehilangan arah. Di tengah rutinitas yang serba cepat, siraman rohani menjadi oase penting untuk menata kembali niat dan menjernihkan hati. Salah satu rujukan klasik yang terus relevan dalam membimbing etika dan spiritualitas Muslim adalah kitab Nashoihul Ibad karya Syekh Nawawi Al-Bantani.

Kajian rutin kitab Nashoihul Ibad ini dilaksanakan pada hari Senin, 12 Januari 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya dengan Menghadirkan Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag., kajian ba’da Maghrib ini mengupas tuntas maqalah ke-12 yang bersumber dari pemikiran mendalam ulama besar, Syekh Yahya bin Muad Ar-Razi.

Dalam pembukaannya, Prof. Saiful Jazil memperkenalkan sosok Yahya bin Muad Ar-Razi sebagai figur ulama luar biasa dari wilayah Roy, Iran. Meski beliau wafat dalam usia yang relatif muda, yakni 41 tahun, namun kedalaman ilmunya membuat beliau dijuluki sebagai “Lautan Kebenaran”. Beliau adalah contoh nyata bagaimana kualitas hidup tidak ditentukan oleh panjangnya usia, melainkan oleh kebermanfaatan bagi sesama.

Salah satu kisah inspiratif yang diangkat dalam kajian ini adalah tentang integritas spiritual Yahya bin Muad saat terbelit hutang sebesar 100.000 dirham. Menariknya, hutang tersebut bukan digunakan untuk kemewahan pribadi, melainkan habis dibagikan kepada fakir miskin, para pencari ilmu di pesantren, dan membantu orang-orang yang hendak berangkat haji. Kisah ini mengajarkan bahwa kedermawanan seorang ulama terkadang melampaui logika ekonomi manusia biasa.

Kegelisahan Yahya bin Muad dalam melunasi hutang tersebut membawanya pada sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa, yakni bermimpi bertemu Rasulullah SAW. Dalam mimpi itu, Rasulullah memberikan ketenangan dengan menyatakan bahwa jika Yahya bersedih, maka Rasulullah pun ikut bersedih. Beliau kemudian diperintahkan untuk melakukan perjalanan ke Khurasan untuk menemukan solusi atas beban finansialnya.

Pesan penting dari mimpi tersebut adalah perintah Rasulullah agar Yahya bin Muad terus memberikan nasihat kepada umat di setiap kota yang ia singgahi. Rasulullah menegaskan bahwa ucapan dan nasihat Yahya memiliki kekuatan untuk menjadi penyembuh bagi jiwa-jiwa yang sedang sakit atau bimbang. Hal ini menegaskan bahwa dakwah bukan sekadar bicara, tapi merupakan bentuk pelayanan batin bagi masyarakat.

Prof. Saiful Jazil kemudian menjelaskan hakikat mimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Berdasarkan hadis, siapa pun yang bermimpi melihat Rasulullah, maka ia benar-benar telah melihatnya, karena setan tidak mampu menyerupai rupa suci beliau. Ini menjadi pengingat bagi jamaah di Masjid Al Akbar akan kemuliaan para kekasih Allah yang selalu berada dalam bimbingan spiritual secara langsung.

Setelah melintasi berbagai kota, Yahya bin Muad akhirnya tiba di Nisapur dan disambut meriah oleh penduduk setempat. Namun, di atas mimbar, beliau dengan jujur mengakui bahwa keindahan kata-katanya saat itu terhalang oleh beban hutang yang belum lunas. Kejujuran ini justru menggerakkan hati masyarakat Nisapur untuk bergotong-royong membantu melunasi hutang sang ulama sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu.

Masuk ke inti nasihat fisik dan batin, Prof. Saiful Jazil mengupas kaitan erat antara pola makan dengan kesehatan jiwa. Beliau menekankan bahwa salah satu kunci utama kesehatan adalah dengan memperbanyak puasa atau minimal mengurangi porsi makan. Perut yang selalu kenyang cenderung membuat hati menjadi keras dan sulit menerima cahaya kebenaran atau nasihat baik.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa perut yang terlalu penuh dapat membangkitkan syahwat yang berlebihan, yang pada gilirannya dapat menjerumuskan manusia ke dalam perbuatan dosa. Urutan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa disiplin terhadap apa yang masuk ke dalam mulut adalah langkah awal dalam disiplin rohani. Banyak ulama dan wali Allah yang menempuh jalan “sedikit makan” untuk menjaga kejernihan pikiran mereka.

Kajian ini juga memberikan perspektif mengenai situasi dunia saat ini yang penuh dengan ketegangan geopolitik dan konflik antarnegara. Prof. Saiful Jazil mengingatkan bahwa tanpa adanya sifat mengalah dan pengendalian diri dari para pemimpin dunia, kehancuran besar bisa saja terjadi. Hal ini menjadi analogi makro bahwa kekerasan hati, baik di tingkat personal maupun global, selalu membawa dampak kerusakan.

Sebagai penutup, jamaah diajak untuk mulai mempraktikkan puasa sunah Senin dan Kamis sebagai bentuk latihan paling sederhana. Meskipun tantangan di era modern sangat besar—seperti godaan kuliner yang melimpah—usaha untuk memberikan jeda bagi perut adalah investasi bagi kesehatan lahir dan batin. Dengan hati yang lembut melalui tirakat, diharapkan manusia dapat menjalani hidup dengan lebih tenang dan berkah.

Sumber: Kajian kitab Nashoihul Ibad yang diselenggarakan di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya bersama Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.

E-Buletin