KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam hiruk-pikuk dunia yang sering kali mengalihkan perhatian, menjaga ketenangan hati dan kejernihan iman menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi setiap Muslim. Penting bagi kita untuk kembali merujuk pada tuntunan syariat yang menawarkan solusi spiritual melalui amalan-amalan ringan namun berbobot besar di sisi Allah. Menanamkan kebiasaan baik dalam beribadah bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya membangun benteng diri dari pengaruh negatif yang kian masif di era modern ini.
Kajian mendalam mengenai hal ini disampaikan oleh Ustadz Isa Sholeh Kuddeh, M.Pd.I. dalam sesi pembahasan kitab Shahih At-Targhib wa At-Tarhib pertemuan ke-43. Kegiatan ini berlangsung secara langsung di Masjid Al-Irsyad Surabaya pada Jumat, 9 Januari 2026. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah hadis-hadis nabi yang menekankan pada pentingnya bersuci, kekuatan zikir, serta amalan-amalan yang mampu menghapuskan dosa secara menyeluruh.
Poin pertama yang ditekankan adalah mengenai hakikat bersuci atau ath-thuhuru. Mengutip hadis ke-189, Ustadz Isa menjelaskan bahwa bersuci merupakan separuh dari iman. Secara teknis, para ulama memaknai bahwa wudu adalah bagian integral dari salat, di mana salat seseorang tidak akan diterima tanpa adanya kesucian. Ini menunjukkan bahwa kesiapan fisik melalui air wudu merupakan cerminan dari kesiapan batin dalam menghadap Sang Pencipta.
Lebih lanjut, narasumber mengajak jamaah untuk merenungkan kekuatan kalimat zikir Alhamdulillah. Kalimat yang sering diucapkan secara spontan ini ternyata memiliki bobot yang sangat luar biasa hingga mampu memenuhi timbangan kebaikan (mizan) di hari kiamat kelak. Namun, zikir yang paling sempurna adalah yang diucapkan dengan penuh kesadaran hati bahwa seluruh nikmat, mulai dari napas hingga kemampuan berbicara, murni berasal dari Allah SWT.
Tidak hanya Alhamdulillah, kombinasi zikir Subhanallah walhamdulillah juga dibahas sebagai amalan yang memenuhi ruang antara langit dan bumi. Ini merupakan bentuk kemurahan Allah, di mana amalan yang sangat ringan di lisan memiliki balasan pahala yang begitu luas. Ustadz Isa menyayangkan bagaimana saat ini banyak orang lebih fasih melantunkan nyanyian atau musik dibandingkan berzikir, padahal hiburan duniawi tersebut tidak mendatangkan pahala bagi pelakunya.
Dalam kajian tersebut, salat juga didefinisikan sebagai nur atau cahaya. Salat bukan hanya kewajiban, melainkan sumber hidayah yang akan membimbing manusia di jalan kebenaran selama di dunia. Lebih jauh lagi, salat yang dijaga dengan baik akan menjadi cahaya yang menerangi alam barzakh serta menjadi penerang saat setiap manusia harus melewati jembatan shirat di hari kiamat nanti.
Selain salat, sedekah disebut sebagai burhan atau bukti nyata keimanan seseorang. Ustadz Isa menjelaskan bahwa kerelaan seseorang mengeluarkan harta di jalan Allah menunjukkan keyakinannya pada janji Allah di atas bisikan setan yang sering menakut-nakuti dengan kemiskinan. Sedekah menjadi alat uji apakah seseorang lebih percaya pada jaminan Tuhan atau pada hitungan matematis hartanya yang bersifat sementara.
Aspek kesabaran juga menjadi bahasan penting, di mana sabar disebut sebagai sinar terang yang menyingkap kegelapan. Orang yang sabar dalam menjalankan perintah, menjauhi larangan, dan menerima takdir Allah pasti akan mendapatkan pertolongan. Meskipun sabar dirasa berat karena sifat manusia yang tergesa-gesa, namun hasil dari kesabaran adalah kemenangan yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Ustadz Isa kemudian mengingatkan pentingnya menyelesaikan urusan antarmanusia, terutama terkait dosa lisan seperti fitnah dan ghibah. Beliau menekankan bahwa ibadah-ibadah yang menggugurkan dosa umumnya hanya berlaku untuk dosa kepada Allah. Jika seseorang telah menyakiti atau memfitnah orang lain, maka ia wajib meminta maaf secara langsung. Jika orang yang bersangkutan sudah meninggal, maka memperbanyak istigfar untuk orang tersebut menjadi jalan keluar yang dianjurkan.
Menjelang akhir kajian, beliau memaparkan tiga amalan khusus yang mampu mencuci dosa sebersih-bersihnya. Pertama adalah menyempurnakan wudu meskipun dalam kondisi sulit, seperti saat cuaca sangat dingin yang membuat kulit enggan menyentuh air. Usaha ekstra untuk tetap menjaga kesempurnaan wudu di tengah ketidaknyamanan tersebut memiliki nilai yang sangat tinggi di sisi Allah.
Amalan kedua adalah melangkahkan kaki menuju masjid. Mengutip kebiasaan sahabat Abdullah bin Umar, beliau menceritakan bagaimana para sahabat sengaja memperpendek langkah kaki saat ke masjid agar jumlah langkahnya semakin banyak. Hal ini dilakukan karena setiap satu langkah kaki menuju rumah Allah akan mengangkat satu derajat dan menghapus satu dosa bagi pelakunya.
Terakhir, amalan yang sangat ditekankan adalah menunggu waktu salat setelah selesai melaksanakan salat sebelumnya, seperti duduk di majelis ilmu antara waktu Magrib dan Isya. Orang yang berdiam diri di masjid untuk menunggu waktu ibadah akan didoakan oleh para malaikat agar mendapatkan ampunan dan rahmat. Dengan menjalankan amalan-amalan ini, seorang Muslim diharapkan dapat menjaga cahaya imannya tetap terang hingga akhir hayat.
Sumber: Kitab Shahih At-Targhib Wa At-Tarhib di Masjid Al Irsyad Surabaya oleh Ustadz Isa Sholeh Kuddeh, M.Pd.I