KabarMasjid.id, Surabaya – Banyak manusia seringkali terjebak dalam rutinitas duniawi yang melelahkan hingga lupa bahwa setiap detik yang terlewati adalah bagian dari amanah besar. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang serba cepat, penting bagi kita untuk sejenak berhenti dan merenungkan kembali tujuan hakiki keberadaan kita di dunia ini. Melalui sebuah kajian yang mendalam, kita diingatkan bahwa di dalam lipatan waktu yang kita miliki, sebenarnya terdapat peluang besar untuk membangun istana di surga.
Khutbah Jumat yang penuh inspirasi ini disampaikan oleh Khotib, Ustadz Drs. H. M. Taufiq, AB. pada tanggal 9 Januari 2026. Kegiatan ibadah tersebut berlangsung dengan khidmat di Masjid Al Falah, Surabaya, yang menjadi pusat syiar Islam di kota pahlawan. Dalam kesempatan itu, beliau mengangkat tema krusial mengenai “Di Dalam Waktu Ada Surga Kita,” sebuah pengingat bagi jamaah untuk lebih bijak dalam memanfaatkan sisa usia yang diberikan oleh Sang Pencipta.
Ustadz Taufiq mengawali khutbahnya dengan mengingatkan bahwa saat ini umat Islam sedang berada di bulan Rajab. Beliau mengutip pendapat para ulama yang menyebut Rajab sebagai bulan pembibitan atau Syahrul Giras. Momentum ini harus dijadikan waktu untuk menanam benih-benih kebaikan, agar nantinya bisa disiram pada bulan Syakban dan akhirnya dipanen hasilnya saat memasuki bulan suci Ramadan yang penuh berkah.
Dalam penyampaiannya, beliau menyoroti fenomena kurangnya rasa syukur di kalangan manusia. Banyak orang yang justru menzalimi dirinya sendiri dan alam sekitar karena keserakahan, tanpa menyadari bahwa nikmat yang paling tinggi nilainya adalah waktu. Waktu disebut sebagai salah satu nikmat yang paling berharga karena ia merupakan amanat langsung dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannya secara mendalam.
Ustadz Taufiq menjelaskan secara filosofis bahwa waktu adalah “bejana amal.” Jika seseorang menggunakan waktu dengan baik untuk beribadah dan menebar manfaat, maka di sanalah ia sedang merajut jalan menuju surga. Namun, ironisnya, banyak orang sering beralasan tidak memiliki waktu untuk shalat berjamaah atau membaca Al-Qur’an, padahal sebenarnya mereka hanya tidak mau “memberi waktu” untuk urusan akhirat di tengah kesibukan duniawi.
Ustadz Taufiq juga memberikan perumpamaan yang sangat tajam mengenai pemborosan waktu. Beliau menyebut bahwa jika seseorang membakar uang di depan masjid, orang lain akan menganggapnya tidak normal atau bodoh. Namun, banyak dari kita yang justru “membakar waktu” dengan melakukan hal-hal sia-sia, seperti duduk berjam-jam tanpa arah atau berbicara tanpa manfaat, tanpa merasa bahwa itu adalah kerugian yang jauh lebih besar daripada kehilangan harta.
Pentingnya waktu juga ditegaskan melalui sumpah-sumpah Allah di dalam Al-Qur’an, seperti Demi Masa, Demi Waktu Fajar, dan Demi Waktu Dhuha. Sumpah-sumpah ini menunjukkan bahwa setiap dimensi waktu memiliki kekuatan atau power yang luar biasa. Dengan waktu yang singkat, seseorang bisa mendapatkan rida Allah, namun dengan waktu yang sama pula, seseorang bisa terjerumus ke dalam kesengsaraan jika tidak berhati-hati dalam menjaganya.
Salah satu kunci untuk menghargai waktu adalah dengan menjaga sikap istiqamah dalam menjalankan agama. Istiqamah merupakan hakikat kehidupan seorang mukmin yang berkualitas. Beliau mendorong jamaah untuk selalu merasa sibuk dengan Allah dalam setiap aktivitasnya, baik saat bekerja, makan, maupun berolahraga, sehingga setiap detik kehidupan memiliki “kredit poin” atau nilai pahala di akhirat kelak.
Lebih lanjut, Ustadz Taufiq menekankan bahwa amalan yang paling utama dalam menjaga waktu adalah shalat. Beliau merasa prihatin dengan kondisi akhir zaman di mana kekhusyukan mulai diangkat oleh Allah dari muka bumi. Banyak orang yang hadir di masjid hanya sekadar menggugurkan kewajiban tanpa persiapan lahir dan batin, padahal shalat yang dilakukan dengan benar adalah kunci utama untuk meraih rahmat-Nya.
Beliau juga memotivasi jamaah dengan kisah Bilal bin Rabah, seorang mantan budak yang suara terompahnya sudah terdengar di surga bahkan sebelum ia meninggal dunia. Rahasia Bilal bukanlah amalan yang berat, melainkan konsistensi dalam menjaga wudu dan mendirikan shalat sunnah setelahnya. Hal ini membuktikan bahwa penghargaan terhadap kesucian dan waktu ibadah yang kecil namun konsisten dapat membuahkan hasil yang luar biasa.
Menjelang akhir kajian, beliau mengingatkan sebuah hakikat penting bahwa amalan manusia setinggi apa pun tidak bisa secara otomatis “membeli” surga. Kita masuk surga semata-mata karena rahmat Allah SWT. Oleh karena itu, ibadah seperti shalat, sedekah, dan haji yang kita lakukan sebenarnya adalah upaya untuk menarik rahmat Allah agar Dia berkenan memasukkan kita ke dalam jannah-Nya.
Sebagai penutup, narasumber mengajak jamaah untuk senantiasa berakhlak mulia kepada sesama manusia. Islam bukan hanya tentang hubungan formal dengan Tuhan, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai orang lain, menepati janji, dan menjauhi kesombongan. Dengan memadukan manajemen waktu yang baik, ibadah yang khusyuk, dan akhlak yang luhur, diharapkan kita dapat menjadi muslim yang berkualitas dan selamat di dunia maupun akhirat.
Sumber: Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Ustadz Drs. H. M. Taufiq, AB. di Masjid Al Falah Surabaya