Refleksi Kehidupan: Memaknai Pesan “Lima Sebelum Lima” dalam Kajian Nashoihul Ibad

Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.
Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag.

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Seringkali kita terjebak dalam hiruk-pikuk duniawi hingga melupakan esensi waktu yang terus bergulir tanpa henti. Kesempatan yang kita miliki saat ini bukanlah sesuatu yang abadi, melainkan titipan yang harus dikelola dengan bijak sebelum masa itu benar-benar hilang. Sebuah pengingat mendalam hadir untuk menyentuh kembali sisi spiritual kita melalui kajian kitab klasik yang sangat relevan dengan dinamika kehidupan modern saat ini.

Kajian kitab Nashoihul Ibad ini dilaksanakan pada hari Senin, 5 Januari 2026, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, dengan menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag. Dalam pemaparannya yang disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube Masjid Al Akbar TV, beliau membedah maqalah ke-11 tentang nasihat menjaga lima perkara sebelum datangnya lima perkara lainnya.

Prof. Saiful Jazil mengawali kajiannya dengan mengutip hadis populer yang diriwayatkan oleh Imam Hakim dan Imam Baihaqi. Hadis ini menjadi sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia karena pernah digubah menjadi sebuah lagu legendaris oleh Bang Haji Rhoma Irama pada tahun 90-an. Pesan utamanya adalah perintah untuk menjaga masa muda sebelum tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, luang sebelum sempit, dan hidup sebelum mati.

Prof. Saiful Jazil menekankan bahwa kelima hal ini sering kali dianggap remeh saat masih dimiliki. Beliau menceritakan sebuah kisah inspiratif tentang seorang pemuda cerdas yang selalu menunda amal saleh dengan alasan masih muda. Namun, ketika penyakit parah tiba-tiba menyerang, pemuda tersebut baru menyadari betapa berharganya masa muda dan kesehatan yang telah ia sia-siakan selama ini.

Pesan ini diperkuat dengan pandangan ulama kontemporer, Syekh Al-Albani, yang menyebutkan bahwa hadis ini bertujuan memotivasi manusia untuk memanfaatkan anugerah rezeki dari Allah sebelum nikmat tersebut lenyap. Begitu pula Syekh Al-Munawi yang mengingatkan bahwa nilai dari kesehatan, kekayaan, dan waktu luang baru akan terasa harganya justru setelah semuanya hilang dari genggaman kita.

Menariknya, Prof. Saiful Jazil juga menarik relevansi pesan agama ini dengan refleksi tokoh dunia modern, Steve Jobs. Beliau menceritakan bagaimana pendiri Apple tersebut, di detik-detik kematiannya, menyadari bahwa kesuksesan material dan kekayaan tanpa batas tidak mampu memberikan bantuan apa pun saat ia terbaring di ranjang rumah sakit yang dingin.

Steve Jobs, dalam catatannya, menyebut bahwa mengejar kekayaan tanpa batas adalah seperti “monster yang mengerikan.” Ia menyadari bahwa harta secukupnya sudah memadai untuk hidup, dan selebihnya yang lebih penting adalah memupuk cinta kasih yang murni. Pelajaran ini sejalan dengan sabda Rasulullah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Dalam kajian tersebut, ditekankan bahwa ranjang termahal di dunia adalah ranjang rumah sakit bagi orang yang sakit. Seseorang mungkin bisa menyewa supir untuk mengemudikan mobilnya atau karyawan untuk bekerja baginya, namun tidak ada satu pun orang yang bisa disewa untuk menggantikan rasa sakit atau menghadapi kematian kita.

Selanjutnya, narasumber membawakan nasihat dari Syekh Hatim bin Al-Asham tentang konsep “kekasih sejati.” Dalam perjalanannya, manusia memiliki banyak hal yang dicintai, mulai dari anak, istri, hingga harta. Namun, ketika maut menjemput dan jasad masuk ke dalam liang kubur, tidak ada satu pun dari kekasih duniawi itu yang ikut menemani.

Oleh karena itu, Syekh Hatim memilih untuk menjadikan amal saleh sebagai kekasih sejatinya. Beliau berkeyakinan bahwa hanya amal saleh yang akan setia menemani di dalam kubur, menjadi cahaya yang menerangi kegelapan, dan memberikan penghiburan di saat semua orang yang dicintai di dunia telah kembali ke rumah masing-masing.

Prof. Saiful Jazil mengingatkan jamaah bahwa hidup ini ibarat panggung sandiwara. Kita semua sedang berjalan di atas panggung dan suatu saat tirai akan tertutup secara tiba-tiba ketika masa kita telah habis. Tidak ada gunanya tangisan air mata jika kereta kencana kematian sudah datang menjemput, karena yang tersisa hanyalah kepasrahan di hadapan Sang Pencipta.

Sebagai penutup, kajian ini mengajak kita semua untuk merefleksikan kembali sisa umur yang ada. Dengan menjaga lima perkara sebelum datangnya lima kesempitan, diharapkan kita tidak akan menjadi orang yang merugi di akhirat nanti. Doa bersama pun dipanjatkan agar setiap langkah kita dicatat sebagai amal saleh dan kelak kita semua dipanggil dalam keadaan husnul khatimah.

Sumber: Kajian kitab Nashoihul Ibad yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag. di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

E-Buletin