KabarMasjid.id, Surabaya – Kajian mendalam mengenai sosok Nabi Isa AS sering kali menjadi jembatan untuk memahami titik temu dan titik perbedaan antara agama-agama Abrahamik. Melalui pendekatan sejarah dan literatur klasik, kita diajak untuk melihat bagaimana Islam mendudukkan figur mulia ini di tengah berbagai klaim teologis yang kontroversial.
Kajian bertajuk “Natal Nabi Isa dalam Perspektif Qur’an” ini diselenggarakan pada Minggu pagi, 4 Januari 2026, bertempat di Masjid Al Falah, Surabaya. Acara yang merupakan bagian dari program Muslim Choice Forum (MCF) ini menghadirkan narasumber pakar filologi dan perbandingan agama, Ustadz Menachem Ali, yang mengupas tuntas sejarah figur Nabi Isa dari berbagai naskah kuno.
Ustadz Menachem membuka kajian dengan menjelaskan bahwa Nabi Isa adalah tokoh yang sangat kontroversial dalam sejarah dunia. Hal ini disebabkan karena tiga agama besar—Islam, Kristen, dan Yahudi—memiliki cara pandang yang sangat kontras dalam memahami identitas beliau, mulai dari sosok hamba Allah, anak Tuhan, hingga tuduhan yang sangat buruk.
Dalam perspektif Islam, sebagaimana termaktub dalam Surah Maryam, Nabi Isa adalah Abdullah atau hamba Allah yang diberikan kitab dan dijadikan Nabi. Islam mengambil jalan tengah yang lurus, tidak ekstrem seperti kaum Yahudi yang menuduhnya sebagai anak zina, namun juga tidak menuhankannya sebagaimana keyakinan dalam tradisi Kristiani.
Menariknya, narasumber memaparkan fakta historis mengenai tuduhan keji kaum Yahudi terhadap Maryam yang ternyata terekam dalam kitab Talmud. Ustadz Menachem menegaskan bahwa validitas Al-Qur’an terbukti karena mampu merekam fakta sejarah yang telah ada di dalam literatur Yahudi sejak abad ke-5 Masehi, jauh sebelum Al-Qur’an diturunkan.
Pembahasan kemudian beralih pada keunikan penamaan Nabi Isa yang selalu disandingkan dengan nama ibunya, Ibn Maryam. Dalam tradisi Arab yang biasanya menggunakan nama ayah (patronimik), penyebutan “Putra Maryam” ini merupakan penegasan mukjizat bahwa beliau lahir tanpa sentuhan laki-laki, sebuah poin yang disepakati baik oleh Islam maupun Kristen.
Ustadz Menachem juga mengaitkan kajian ini dengan sosok istri Rasulullah SAW, Maria al-Qibtiyah, yang berasal dari komunitas Kristen Koptik Mesir. Beliau menjelaskan bahwa Rasulullah tetap mempertahankan nama “Maria” dan tidak mengubahnya menjadi “Maryam”, menunjukkan penghormatan terhadap dialek dan asal-usul bahasa istrinya.
Lebih lanjut, dipaparkan adanya “Rencana Besar Ilahi” (Grand Design) dalam sejarah Arab dan Mesir. Sebagaimana Nabi Ibrahim memiliki istri dari Mesir yaitu Sayidah Hajar, Nabi Muhammad pun memiliki istri dari Mesir yaitu Maria al-Qibtiyah, yang seolah-olah menjadi sebuah napak tilas sejarah yang mempererat hubungan antara kedua bangsa tersebut.
Terkait dengan fenomena Natal, narasumber menjelaskan perbedaan besar dalam perayaan kelahiran Nabi Isa di dunia Kristen sendiri. Umat Katolik merayakannya pada 25 Desember, sementara umat Kristen Ortodoks Koptik di Mesir dan Ortodoks di Rusia merayakannya pada 7 Januari berdasarkan sistem kalender yang berbeda.
Pemaparan ini memberikan wawasan bahwa perbedaan waktu perayaan Natal yang mencapai dua minggu saja bisa diterima dengan tenang dalam komunitas tersebut. Hal ini dijadikan teladan bagi umat Islam agar tidak terlalu memperdebatkan perbedaan kecil, seperti selisih satu hari dalam penentuan Idul Fitri, yang seharusnya bisa disikapi dengan lebih bijak.
Ustadz Menachem juga memberikan contoh-contoh linguistik antara bahasa Arab dan bahasa Ibrani yang memiliki banyak kemiripan akar kata. Pengetahuan bahasa ini dianggap penting agar umat memiliki cakrawala berpikir yang luas dan tidak mudah terjebak dalam fanatisme sempit yang bersumber dari ketidaktahuan.
Sebagai penutup, kajian ini menekankan prinsip penting: “Apa yang sama jangan dibuat beda, dan apa yang beda jangan dibuat sama.” Ustadz Menachem mengajak jamaah untuk tetap istiqamah dalam keislaman namun tetap mampu berdiskusi dengan penuh kearifan dan berdasarkan data fakta historis saat berinteraksi dengan komunitas non-muslim.
Sumber: Kajian Mualaf Center Al Falah Bersama Ustadz Menachem Ali dengan tema “Natal Nabi Isa dalam Prespektif Al-Qur’an”