KabarMasjid.id, Yogyakarta – Memasuki pergantian tahun sering kali hanya dimaknai sebagai seremoni kembang api dan perayaan semu. Namun, di tengah hiruk-pikuk dunia yang semakin cepat dan melelahkan, kita memerlukan momen untuk berhenti sejenak dan menengok ke dalam diri. Sebuah kajian mendalam mengajak kita untuk tidak hanya menghitung angka yang berubah, tetapi memaknai kembali hakikat keberadaan kita sebagai manusia di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.
Kajian bertajuk “Ngaji Filsafat 498: Muhasabah Menuju 2026” ini disampaikan oleh Dr. Fahruddin Faiz pada Minggu malam, 4 Januari 2026, bertempat di Masjid Jendral Sudirman (MJS), Yogyakarta. Dalam suasana yang khidmat namun santai, narasumber yang merupakan pakar filsafat tersebut mengajak jamaah dan penonton daring untuk melakukan refleksi mendalam mengenai posisi manusia di tahun yang baru. Beliau menekankan bahwa waktu bukan sekadar perputaran jam, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.
Pada bagian awal kajian dimulai dengan pemaknaan tahun baru dalam tiga dimensi: sunatullah, rahmatullah, dan amanatullah. Sebagai sunatullah, pergantian waktu adalah hukum alam yang menuntut keridaan kita untuk menerimanya. Sebagai rahmatullah, ia adalah bukti kasih sayang Tuhan yang masih memberi kita napas. Sementara sebagai amanatullah, tahun baru membawa beban tugas dan tanggung jawab moral yang tidak boleh diabaikan begitu saja di tengah kenikmatan dunia.
Dr. Fahruddin Faiz membedah bahwa kebahagiaan sejati di tahun 2026 hanya bisa dicapai jika kita mampu menyeimbangkan lima unsur dalam diri. Unsur pertama adalah rogo atau fisik, di mana kuncinya adalah kecukupan; tidak kurang namun tidak berlebihan. Fisik yang terjaga merupakan fondasi awal bagi manusia untuk menjalankan aktivitas dan pengabdiannya secara optimal tanpa terganggu oleh penyakit akibat gaya hidup yang tidak terkontrol.
Selanjutnya, akal manusia membutuhkan “keluasan” untuk merasa bahagia. Pikiran yang tertutup dan sempit cenderung mudah gelisah saat menghadapi ketidaktahuan. Oleh karena itu, di tahun yang baru, kita ditantang untuk terus belajar dan mencari wawasan seluas mungkin agar akal mendapatkan pencerahan (eureka). Tanpa pengetahuan yang luas, manusia akan mudah tersesat dalam banjir informasi yang sering kali menyesatkan di era digital ini.
Aspek hati dan nafsu juga menjadi sorotan utama dalam muhasabah ini. Hati akan merasa tenang jika dijaga tetap bersih dari penyakit moral seperti iri, dengki, dan sombong yang hanya akan membuat hidup terasa berat. Di sisi lain, nafsu atau karso harus dikendalikan agar tetap realistis dan tidak melanggar norma. Kebahagiaan bukan berarti mengikuti semua keinginan, melainkan kemampuan untuk mengontrol keinginan tersebut di bawah kendali kesadaran.
Memasuki tantangan sosial, Fahruddin Faiz memperingatkan tentang fenomena fragmentasi sosial di mana masyarakat semakin mudah terpecah-pecah. Meskipun teknologi komunikasi semakin canggih, ironisnya manusia sering kali merasa terasing di tengah konektivitas yang ada. Kita duduk bersama secara fisik, namun pikiran dan hati kita berada di tempat lain, terhubung dengan dunia maya namun terputus dari realitas sosial di depan mata.
Tantangan budaya pun tak kalah berat, terutama dengan menjamurnya budaya instan. Banyak orang kehilangan akar identitasnya karena ingin segalanya serba cepat dan dangkal. Nilai-nilai luhur dan tradisi mulai dianggap sebagai beban yang tidak efektif. Jika hal ini dibiarkan, manusia akan kehilangan kompas moral dan karakter kuat yang biasanya dibentuk melalui proses budaya yang panjang dan mendalam.
Dalam ranah politik dan ekonomi, narasumber menyoroti krisis kepercayaan (low trust) yang melanda masyarakat. Manipulasi emosi melalui algoritma media sosial sering kali membuat kita menjadi pion dalam kepentingan politik tertentu tanpa kita sadari. Secara ekonomi, ketidakpastian masa depan dan ketimpangan digital menambah beban kecemasan individu yang merasa harus selalu produktif untuk mendapatkan validasi dari lingkungan sekitarnya.
Fahruddin Faiz juga memberikan peringatan keras mengenai kondisi kesehatan mental yang sering terabaikan. Beliau menjelaskan rute berbahaya menuju kelelahan ekstrem atau burnout. Dimulai dari ambisi yang berlebihan (overdrive), manusia perlahan masuk ke fase stres, frustasi, hingga mengalami depersonalisasi atau mati rasa. Jika tidak segera diatasi dengan “melambatkan” tempo hidup, kondisi ini bisa berakhir pada depresi berat yang fatal.
Lebih jauh, fenomena spiritual bypass dalam beragama menjadi catatan penting. Sering kali agama dijadikan pelarian singkat dari tanggung jawab hidup dengan dalih takdir atau kepasrahan semu. Padahal, spiritualitas yang sehat seharusnya memperkuat daya tahan manusia dalam menghadapi realitas, bukan justru membuatnya lari dari tugas-tugas kemanusiaan yang harus diselesaikan di dunia nyata.
Sebagai penutup, kajian ini mengajak kita untuk berani melakukan reset ulang jika merasa telah salah melangkah. Tahun 2026 harus dihadapi dengan kesadaran penuh akan kesehatan mental dan kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta. Dengan menata kembali konstitusi diri—dari fisik hingga ruh—kita diharapkan mampu bertahan dan tetap utuh di tengah badai perubahan zaman yang semakin tak terduga.
Sumber: Ngaji Filsafat Masjid Jendral Sudirman Yogyakarta Bersama Dr Fahruddin Faiz dengan tema “Muhasabah Menuju 2026”