Kabarmasjid.id, Surabaya – Di tengah dinamika kehidupan modern yang sering kali individualistis, menjaga keharmonisan antar sesama menjadi tantangan tersendiri. Keakraban bukan sekadar tegur sapa biasa, melainkan sebuah ikatan batin yang mendalam. Video kajian ini mengupas tuntas bagaimana Islam memandang pentingnya persatuan hati sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat yang damai.
Kajian rutin Ba’da Shubuh ini dilaksanakan di Masjid Al Falah Surabaya pada tanggal 3 Januari 2026, dengan menghadirkan narasumber Ustadz Jufri Ubaid, S.Ag. Beliau mengangkat tema utama mengenai “Bab Keakraban” atau Al-Ulfah, yang merujuk pada pentingnya membangun kerukunan dan kasih sayang di antara sesama muslim berdasarkan tuntunan kitab hadis dan Al-Qur’an.
Ustadz Jufri mengawali kajian dengan menjelaskan bahwa keimanan seseorang bukan hanya sebatas pengakuan di lisan, melainkan harus tercermin dalam getaran hati saat mendengar nama Allah. Mengutip Surah Al-Anfal, beliau menekankan bahwa mukmin sejati adalah mereka yang hatinya terpaut pada hukum-hukum Allah dan selalu berusaha meningkatkan kualitas ibadahnya setiap kali ayat-ayat suci dibacakan.
Salah satu poin menarik yang disampaikan adalah tentang hakikat roh orang beriman yang akan selalu merasa nyambung atau memiliki frekuensi yang sama. Beliau menjelaskan bahwa secara spiritual, roh-roh mukmin itu saling mengenal dan akan merasa nyaman saat bertemu, meskipun secara fisik mungkin belum pernah berjumpa sebelumnya. Sebaliknya, ketidakcocokan batin biasanya terjadi jika salah satu pihak tidak memiliki landasan iman yang serupa.
Dalam pandangan Islam, keakraban batin ini disebut sebagai Al-Ulfah, yang menjadi cikal bakal terbentuknya ukhuwah atau persaudaraan. Ustadz Jufri mengingatkan bahwa ukhuwah yang hakiki tidak akan pernah bisa tegak jika hanya didasarkan pada kepentingan materi atau keduniaan. Jika materi menjadi pengikatnya, maka saat keuntungan duniawi itu hilang, berakhir pula persaudaraan tersebut.
Lebih lanjut, beliau mengutip Surah Ali Imran ayat 103 untuk mengingatkan jamaah akan nikmat persatuan. Beliau menceritakan bagaimana bangsa Arab pada zaman jahiliah hidup dalam pertikaian antar suku yang berkepanjangan, namun kemudian dipersatukan oleh Allah melalui nikmat Islam. Hal ini menjadi bukti sejarah bahwa hanya agama yang mampu meleburkan ego dan kasta manusia.
Ustadz Jufri juga menekankan ayat dari Surah Al-Anfal yang menegaskan bahwa kekayaan seluruh bumi sekalipun tidak akan mampu menyatukan hati manusia jika Allah tidak berkehendak. Hati adalah wilayah otoritas Allah, sehingga untuk mendapatkan keakraban yang tulus, seseorang harus terlebih dahulu mendekatkan diri kepada Sang Pemilik Hati melalui ketakwaan.
Dalam kehidupan sosial, beliau menyoroti nasihat dari sahabat Abdullah bin Abbas mengenai tiga hal yang merusak tatanan masyarakat, yaitu pengingkaran terhadap nikmat, pemutusan tali silaturahim, dan hilangnya kedekatan hati. Ketiga hal ini saling berkaitan dan sering kali dipicu oleh sifat sombong atau terlalu mencintai dunia secara berlebihan.
Terkait hubungan kekeluargaan, beliau memberikan pesan mendalam tentang pentingnya saling menghargai jasa pasangan, orang tua, maupun anak. Ustadz Jufri mengingatkan agar kita jangan pernah melupakan kebaikan orang lain sekecil apa pun (Wala tansaul fadla bainakum). Sikap tahu berterima kasih dan saling mendoakan adalah kunci utama rumah tangga yang sakinah.
Beliau juga memberikan contoh nyata melalui kisah Rasulullah yang sangat menghargai bantuan para sahabatnya. Rasulullah mengajarkan bahwa apresiasi terhadap kebaikan orang lain, meski hanya sekadar ucapan terima kasih atau doa kebaikan, akan mempererat ikatan batin dan menumbuhkan rasa kasih sayang yang tulus di tengah komunitas.
Menjelang akhir kajian, Ustadz Jufri mengajak para jamaah untuk merawat persatuan mulai dari unit terkecil, yaitu keluarga. Beliau berbagi pengalaman pribadinya tentang keindahan melihat harmoni antara generasi tua yang menyayangi yang muda, serta generasi muda yang menghormati yang tua. Keseimbangan ini akan menciptakan lingkungan yang penuh dengan senyum dan kedamaian.
Sebagai penutup, kajian ini memberikan refleksi bahwa keakraban adalah nikmat yang sangat mahal harganya. Dengan menguatkan iman dan menjaga lisan dari sifat kufur nikmat, kita dapat membangun masyarakat yang lebih solid. Persatuan hati bukan hanya soal hidup bersama, tetapi tentang bagaimana hati kita saling mendoakan dan mendukung dalam ketaatan kepada Allah.
Sumber: Kajian Muslimah Masjid Al Falah Surabaya Bersama Ustadz Jufri Ubaid, S.Ag dengan tema utama mengenai “Bab Keakraban” atau Al-Ulfah