Hati-hati! Ini 4 Hal yang Bisa Merusak Amal Saleh dan Menghapus Pahala Anda

Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M. Ag
Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M. Ag

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk perayaan pergantian tahun yang identik dengan pesta dan hura-hura, suasana berbeda tampak di jantung Kota Surabaya. Ribuan jemaah memilih untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta melalui untaian ilmu yang menenangkan jiwa. Sebuah pesan mendalam tentang menjaga “harta karun” spiritual dalam diri manusia menjadi sorotan utama dalam pertemuan penuh berkah tersebut.

Kajian rutin Rabu malam ini diselenggarakan di Masjid Al Akbar Surabaya pada Rabu 31 Desember 2025, menghadirkan narasumber Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M. Ag. Dalam kesempatan tersebut, beliau membedah kitab legendaris Riyadus Shalihin karya Imam An-Nawawi. Fokus pembahasan kali ini adalah mengenai empat permata berharga yang dianugerahkan Allah kepada setiap manusia, namun rentan sirna jika tidak dijaga dengan hati-hati.

Prof. Saiful Jazil mengawali paparannya dengan mengutip sebuah hadis yang menyebutkan bahwa ada empat permata dalam jasad anak cucu Adam. Permata ini bukan berupa perhiasan fisik, melainkan kualitas batiniah yang menentukan kemuliaan seseorang di hadapan Allah dan sesama manusia. Keempatnya adalah akal, agama, rasa malu, dan amal saleh.

Permata pertama yang dibahas adalah akal. Beliau mendefinisikan akal sebagai instrumen rohani yang memungkinkan manusia membedakan antara yang hak dan yang batil, serta yang bermanfaat dan yang mudarat. Akal adalah pemandu utama dalam kehidupan duniawi yang membuat manusia memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan makhluk lainnya.

Namun, permata akal ini bisa hilang seketika akibat satu sifat buruk, yaitu amarah (ghadab). Prof. Saiful menjelaskan bahwa kemarahan yang meluap-luap dapat menutup logika sehingga seseorang bertindak tanpa kendali. Beliau bahkan memberi contoh dalam hukum fikih, di mana kemarahan yang sangat hebat bisa membuat seseorang “gelap mata” hingga ucapannya tidak lagi disadari secara penuh.

Permata kedua adalah agama. Agama hadir sebagai pelengkap bagi akal, karena akal manusia memiliki keterbatasan dalam menjangkau hal-hal gaib dan spiritual. Tanpa agama, akal tidak akan mampu memahami hakikat kehidupan setelah mati atau rincian syariat yang diturunkan melalui para nabi sebagai petunjuk keselamatan.

Sayangnya, permata agama ini terancam sirna oleh sifat hasud atau iri dengki. Prof. Saiful memperingatkan bahwa sifat hasud dapat menghanguskan agama dan pahala seseorang sebagaimana api melahap kayu bakar hingga tak bersisa. Orang yang memiliki penyakit hati ini tidak akan merasa tenang melihat kenikmatan orang lain, dan hal inilah yang merusak tatanan keimanannya.

Selanjutnya, permata ketiga adalah rasa malu (al-haya’). Rasa malu bukan sekadar tentang penampilan fisik, melainkan benteng iman yang mencegah seseorang melakukan kemaksiatan karena merasa selalu diawasi oleh Allah. Malu adalah ciri khas manusia yang bermartabat, yang membedakannya dengan makhluk yang tidak memiliki nalar moral.

Permata rasa malu ini dapat terkikis bahkan hilang karena sifat rakus atau loba terhadap dunia. Ketika seseorang sudah dikuasai oleh ketamakan, ia cenderung menghalalkan segala cara dan tidak lagi peduli pada norma atau harga diri. Keserakahan membuat seseorang kehilangan rasa malunya demi memuaskan ambisi sesaat yang tidak pernah ada habisnya.

Permata terakhir yang sangat krusial adalah amal saleh. Amal saleh merupakan investasi jangka panjang bagi setiap muslim untuk bekal di akhirat. Namun, Prof. Saiful memberikan peringatan keras bahwa tumpukan amal saleh yang kita bangun bertahun-tahun bisa lenyap seketika akibat perbuatan ghibah atau menggunjing orang lain.

Beliau menjelaskan konsep “orang yang bangkrut” di akhirat, yaitu mereka yang datang dengan membawa banyak pahala shalat dan puasa, namun pahala tersebut habis dibagi-bagikan kepada orang-orang yang pernah dizalimi atau dighibahi semasa hidup. Ghibah adalah pencuri amal yang paling nyata dan seringkali tidak disadari oleh banyak orang dalam pergaulan sehari-hari.

Sebagai penutup, Prof. Saiful Jazil mengajak jemaah untuk merefleksikan diri di penghujung tahun agar lebih waspada terhadap penyakit hati yang merusak. Beliau menekankan pentingnya bimbingan ulama agar akal tetap terjaga dan amal saleh tidak terbuang percuma. Dengan menjaga empat permata ini, diharapkan manusia dapat menjalani kehidupan yang lebih berkualitas dan penuh berkah di masa mendatang.

Sumber: Kajian Rabu Malam Masjid Al Akbar Surabaya Bersama Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M. Ag

Hati-hati! Ini 4 Hal yang Bisa Merusak Amal Saleh dan Menghapus Pahala Anda

E-Buletin