Membangun Fondasi Bisnis Melalui SDM Unggul: Belajar dari Perjalanan Kebab Turki Baba Rafi

Hendy Setiono, Founder Kebab Turki Baba Rafi
Hendy Setiono, Founder Kebab Turki Baba Rafi

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Dalam dunia kewirausahaan yang penuh dengan ketidakpastian, banyak pelaku usaha yang sering kali terjebak pada fokus pencarian modal besar atau pengembangan produk semata. Padahal, ada satu aset yang jauh lebih krusial dan menjadi penentu keberlanjutan sebuah bisnis dalam jangka panjang, yaitu kualitas manusia di dalamnya. Melalui kajian “Ngaji Entrepreneur”, kita diajak menyelami bagaimana membangun sumber daya manusia (SDM) yang tidak hanya kompeten secara teknis, tetapi juga kuat secara karakter.

Kajian edukatif ini diselenggarakan pada Jum’at 26 Desember 2025 di Masjid Al Akbar Surabaya dengan menghadirkan, Hendy Setiono. Beliau adalah sosok di balik kesuksesan global Kebab Turki Baba Rafi yang telah merintis usaha sejak usia 19 tahun. Dalam sesi episode ke-21 tersebut, Hendy membagikan perjalanan jatuh bangunnya serta strategi mendalam dalam mengelola ribuan karyawan yang kini tersebar di 10 negara.

Hendy menekankan bahwa seorang pengusaha harus mengubah pola pikir dari menjadi “Superman” menjadi pembangun “Super Tim”. Pada awal merintis, seorang pemilik usaha mungkin melakukan segala hal sendirian—mulai dari belanja bahan hingga mencatat keuangan. Namun, untuk bisa melakukan ekspansi dan bertahan selama puluhan tahun, kemampuan mendelegasikan tugas kepada tim yang solid adalah kunci utama yang tidak bisa ditawar.

Salah satu poin fundamental yang disampaikan adalah pentingnya mengombinasikan sifat amanah dengan sistem manajemen yang kuat. SDM yang unggul harus memiliki karakter jujur dan dapat dipercaya, namun kejujuran saja tidak cukup jika tidak didukung oleh Standard Operational Procedure (SOP) yang jelas. Menurut Hendy, perpaduan antara integritas pribadi dan sistem yang rapi akan menciptakan operasional bisnis yang stabil dan profesional.

Lebih lanjut, Hendy memperkenalkan konsep “1% Rule” dalam pengembangan SDM. Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap anggota tim harus berusaha menjadi satu persen lebih baik setiap harinya dibandingkan hari kemarin. Dengan melakukan perbaikan kecil secara konsisten atau continuous improvement, sebuah organisasi tanpa sadar akan mencapai kemajuan yang luar biasa saat mereka menoleh ke belakang setelah satu tahun berjalan.

Aspek spiritual juga menjadi landasan penting dalam membangun loyalitas dan etos kerja. Di Baba Rafi, bekerja tidak hanya dilihat sebagai upaya mengejar materi atau gaji bulanan yang sekadar “numpang lewat”. Hendy menanamkan mindset bahwa bekerja adalah bagian dari ibadah dan pelayanan kepada sesama, sehingga setiap anggota tim memiliki semangat untuk memberikan yang terbaik sebagai bentuk pengabdian kepada Tuhan.

Tantangan di era digital juga menuntut SDM untuk memiliki mentalitas “gelas kosong” yang selalu siap belajar. Hendy menceritakan bagaimana tren bisnis bergeser drastis dari penjualan offline konvensional ke platform media sosial seperti TikTok dan marketplace. Tanpa kemauan untuk terus meng-upgrade skill dan beradaptasi dengan teknologi, sebuah bisnis dan manusianya akan sangat mudah tergilas oleh perubahan zaman yang begitu cepat.

Dalam hal kepemimpinan, Hendy menegaskan bahwa tugas seorang leader adalah memberi contoh, bukan sekadar memberi perintah. Pemimpin harus menjadi orang pertama yang menunjukkan kedisiplinan dan kerja keras sebelum menuntut hal yang sama dari bawahannya. Budaya saling menghargai dan mendengarkan masukan dari tim lapangan juga sangat penting, karena sering kali ide-ide inovatif justru muncul dari mereka yang bersentuhan langsung dengan pelanggan.

Menariknya, Hendy juga menyoroti fenomena “Generasi Z” yang sering dianggap mudah menyerah atau “baper”. Baginya, ini adalah tantangan bagi para pemimpin untuk membina mereka dengan cara yang tepat agar memiliki mental pejuang. Kecepatan belajar generasi muda harus dikombinasikan dengan arahan dari senior yang berpengalaman agar tercipta sinergi yang harmonis di dalam perusahaan.

Kajian ini juga menyentuh sisi kemanusiaan dalam memanusiakan karyawan. Hendy percaya bahwa jika perusahaan menjaga dan mempedulikan SDM-nya dengan baik, maka SDM tersebutlah yang akan menjaga bisnis kita. Investasi pada pelatihan dan kesejahteraan karyawan bukanlah biaya yang sia-sia, melainkan strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan bisnis agar tidak goyah saat badai datang.

Hendy juga berbagi kisah inspiratif saat bisnisnya dihantam pandemi COVID-19, di mana banyak gerai di mall harus ditutup total. Namun, berkat ketangguhan SDM yang mau beradaptasi dan beralih ke sistem online delivery, bisnisnya mampu bertahan. Hal ini membuktikan bahwa SDM yang unggul adalah mereka yang tidak patah semangat saat menghadapi kegagalan dan mampu melihat peluang di balik setiap kesulitan.

Sebagai penutup, pesan utama dari kajian ini adalah bahwa kesuksesan tidak pernah datang secara instan, melainkan melalui proses panjang dan konsistensi. Membangun SDM unggul adalah investasi yang paling berharga bagi setiap entrepreneur. Dengan memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, meningkatkan skill secara terus-menerus, dan menjaga integritas, siapa pun bisa membangun imperium bisnis yang bermanfaat bagi banyak orang.

Sumber: Ngaji Enterpreneur Masjid Al Akbar Surabaya Episode 21 Bersama Hendy Setiono dengan tema “Tips Membangun Sumber Daya Manusia Unggul”

E-Buletin