Mengintip Jendela Akhirat: Memahami Hakikat Hidup Setelah Mati

Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Kh. Kasuwi Saiban
Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Kh. Kasuwi Saiban

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pintu gerbang menuju fase kehidupan yang lebih kekal. Bagi banyak orang, topik mengenai apa yang terjadi setelah napas terakhir berhembus selalu menyisakan misteri sekaligus rasa getir. Namun, dalam kacamata spiritualitas Islam, memahami kematian justru menjadi kunci untuk menjalani hidup di dunia dengan lebih bermakna dan terarah.

Penjelasan mendalam mengenai hal ini dikupas tuntas dalam Khutbah Jum’at berlangsung pada Jumat, 26 Desember 2025, bertempat di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Menghadirkan Prof. Dr. KH. Kasuwi Saiban, MA, dengan mengambil tema “Mengungkap Hidup Setelah Mati” . pada khutbahnya Prof. Kasuwi mengajak jamaah untuk menyelami lapisan-lapisan alam barzakh melalui pendekatan syariat dan hakikat.

Prof. Kasuwi menekankan bahwa eksistensi manusia tidak hanya terbatas pada raga yang kasat mata. Beliau menjelaskan bahwa jasad hanyalah “kendaraan” sementara, sedangkan pengemudi utamanya adalah ruh yang bersifat abadi. Ketika maut menjemput, hubungan antara ruh dan jasad terputus secara biologis, namun kesadaran manusia tetap berlanjut di dimensi yang berbeda.

Beliau menjelaskan bahwa persiapan menghadapi kematian seharusnya tidak dipenuhi dengan ketakutan yang melumpuhkan, melainkan dengan peningkatan kualitas ketakwaan. Hidup di dunia diibaratkan sebagai masa menanam, di mana setiap benih perbuatan—baik maupun buruk—akan dipanen hasilnya saat seseorang memasuki alam kubur. Alam barzakh menjadi terminal pertama yang menentukan nasib seseorang selanjutnya.

Lebih lanjut, Prof. Kasuwi menguraikan bahwa di alam setelah mati, waktu tidak lagi berjalan seperti di dunia. Seseorang yang meninggal dunia akan merasakan “penantian” yang sangat berbeda tergantung pada amal ibadahnya. Bagi hamba yang saleh, penantian menuju hari kiamat terasa singkat dan menyejukkan, sementara bagi yang lalai, setiap detik menjadi siksaan yang panjang.

Salah satu poin penting yang ditekankan adalah mengenai konsep “bekal” yang sesungguhnya. Dalam kajian tersebut, dijelaskan bahwa harta, tahta, dan hubungan duniawi akan terputus, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh. Ketiga hal inilah yang akan menjadi cahaya penolong di tengah kegelapan alam kubur.

Prof. Kasuwi juga menyinggung tentang pentingnya menjaga kejernihan hati selama masih bernapas. Penyakit hati seperti sombong, dengki, dan cinta dunia yang berlebihan seringkali menjadi beban berat bagi ruh saat harus menghadap Sang Pencipta. Oleh karena itu, tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa menjadi agenda wajib bagi setiap muslim.

Kajian ini juga memberikan perspektif bahwa mengingat kematian (dzikrul maut) adalah cara terbaik untuk mengontrol ambisi duniawi yang liar. Dengan menyadari bahwa setiap harta yang dikumpulkan akan ditinggalkan, seseorang akan lebih bijak dalam memanfaatkan nikmat Tuhan untuk kepentingan kemaslahatan umat daripada sekadar kepuasan pribadi.

Memasuki pertengahan ceramah, suasana menjadi lebih hening saat narasumber menggambarkan bagaimana ruh-ruh orang beriman akan saling menyapa di alam barzakh. Kehidupan setelah mati bukanlah kesepian yang hampa bagi mereka yang menjalin hubungan baik dengan Allah selama di dunia, melainkan awal dari istirahat panjang yang indah.

Namun, Prof. Kasuwi juga memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi dari kezaliman terhadap sesama manusia. Hutang piutang dan hak-hak orang lain yang belum tertunaikan di dunia seringkali menjadi penghalang bagi ruh untuk mendapatkan ketenangan, meskipun orang tersebut rajin menjalankan ibadah ritual secara pribadi.

Sebagai penutup, beliau mengajak seluruh jamaah untuk senantiasa memperbaharui tobat setiap hari. Kita tidak pernah tahu kapan “undangan” kembali itu datang, maka kesiapan mental dan spiritual harus selalu berada pada level tertinggi. Kematian adalah sebuah kepastian yang harus dihadapi dengan persiapan yang matang, bukan dihindari dengan angan-angan kosong.

Sumber: Khutbah Jum’at oleh Prof. Dr. Kh. Kasuwi Saiban dengan tema “Mengungkap Hidup Setelah Mati” di Masjid Al Akbar Surabaya

E-Buletin