Bukan Harta, Inilah Rahasia Kekayaan Sejati Menurut Kitab Nashoihul Ibad

Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz
Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern yang seringkali menuntut pencapaian materi tanpa batas, banyak individu mulai kehilangan arah dan ketenangan batin. Menanggapi fenomena tersebut, sebuah kajian mendalam hadir untuk memberikan oase spiritual bagi umat yang mendambakan kebahagiaan sejati baik di dunia maupun di akhirat. Kajian Kitab Nashoihul Ibad kali ini membedah nasihat-nasihat fundamental yang tertulis dalam sejarah kenabian sebagai panduan hidup sehari-hari.

Kajian rutin ini dilaksanakan pada hari Senin, 22 Desember 2025, bertempat di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya. Menghadirkan Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz, materi yang disampaikan berfokus pada bab Khumasi atau nasihat-nasihat yang terdiri dari lima perkara. Beliau membedah maqalah ke-10 yang bersumber dari Hasan Al-Bashri mengenai lima rahasia kehidupan yang termaktub dalam kitab Taurat.

Ustadz Ahmad Muzakki mengawali pembahasannya dengan menekankan bahwa kekayaan sejati tidak diukur dari angka di rekening bank, melainkan dari sifat qanaah. Beliau menjelaskan bahwa qanaah adalah kemampuan hati untuk merasa cukup atas nafkah dan pembagian yang telah ditentukan oleh Allah. Tanpa rasa syukur, manusia akan tetap merasa miskin meskipun seluruh harta dunia telah berada di tangannya.

Lebih lanjut, beliau memberikan ilustrasi nyata bahwa orang yang qanaah akan selalu tenang dalam segala kondisi, baik saat memiliki kendaraan mewah maupun saat hanya bisa berjalan kaki. Menurutnya, dunia ini hanyalah sarana yang tidak perlu disikapi secara berlebihan atau terlalu serius. Selama seseorang sudah berusaha secara maksimal, maka hasil akhirnya adalah ketetapan Allah yang harus diterima dengan lapang dada.

Poin kedua yang dibahas dalam kajian tersebut adalah tentang keselamatan lisan yang terletak pada uzlah atau upaya menyendiri dari keramaian yang tidak bermanfaat. Ustadz Muzakki mengingatkan bahwa bahaya lisan seperti ghibah dan fitnah seringkali muncul saat kita terlalu banyak berkumpul tanpa tujuan yang jelas. Dengan membatasi pergaulan yang negatif, seseorang secara otomatis akan menjaga kehormatan dirinya dan orang lain.

Namun, beliau memberikan catatan penting bahwa uzlah bukan berarti memutus silaturahmi secara total. Interaksi sosial tetap harus dijalankan seperlunya, seperti saat tetangga membutuhkan bantuan atau kegiatan kemasyarakatan yang positif. Intinya adalah menjaga jarak dari pembicaraan yang dapat merusak hati dan menimbulkan dosa yang tidak disadari.

Memasuki poin ketiga, kajian ini menyoroti tentang kemuliaan seseorang yang diraih melalui kemampuannya dalam mengekang syahwat. Menahan keinginan hawa nafsu digambarkan seperti mengelola amarah atau keinginan mengonsumsi sesuatu secara berlebihan. Ustaz Muzakki menegaskan bahwa orang yang paling mulia adalah mereka yang mampu menjadi tuan bagi nafsunya sendiri, bukan menjadi budak darinya.

Beliau juga memberikan tips praktis dalam mengelola amarah, yaitu dengan cara menahannya sejak awal meskipun terasa sangat berat. Jika amarah selalu dilampiaskan, maka sifat tersebut akan menjadi karakter yang sulit dihilangkan hingga usia tua. Sebaliknya, membiasakan diri bersabar akan membentuk kepribadian yang tenang dan dicintai oleh Allah serta sesama manusia.

Dalam paragraf selanjutnya, narasumber menjelaskan bahwa kesenangan yang sejati dan sempurna bukanlah di dunia, melainkan di hari-hari yang panjang di akhirat kelak. Segala bentuk kenikmatan yang ditahan di dunia karena ketaatan, akan digantikan oleh Allah dengan kenikmatan yang jauh lebih besar di surga. Hal ini menjadi motivasi bagi jamaah agar tidak mudah tergiur dengan kenikmatan duniawi yang bersifat sementara.

Menariknya, Ustadz Muzakki juga menyinggung tentang kesabaran dalam menghadapi perintah dan larangan Allah yang hanya berlangsung selama “hari-hari yang pendek”. Hidup di dunia ini sangat singkat jika dibandingkan dengan keabadian di masa depan. Oleh karena itu, lelahnya beribadah dan beratnya menjauhi maksiat seharusnya dipandang sebagai investasi jangka panjang yang sangat menguntungkan.

Pada sesi tanya jawab, beliau memberikan penjelasan mengenai konsep zuhud yang sering disalahpahami sebagai hidup miskin. Beliau menegaskan bahwa orang kaya pun bisa menjadi ahli zuhud asalkan harta tersebut hanya berada di tangan dan tidak merasuk ke dalam hati. Indikasinya adalah ketika kehilangan harta, hatinya tetap tenang dan ketika ada panggilan ibadah, harta tersebut tidak menghalanginya.

Terkait momentum bulan Rajab yang sedang berlangsung, beliau mengajak jamaah untuk memperbanyak istigfar dan puasa sunah sebagai bentuk latihan fisik maupun spiritual. Persiapan ini sangat krusial agar saat memasuki bulan Ramadan nanti, tubuh dan batin sudah terbiasa dengan ritme ibadah yang tinggi. Beliau mengingatkan agar jangan sampai kita baru mulai beribadah saat Ramadan tiba tanpa ada pemanasan sebelumnya.

Kajian ditutup dengan doa bersama dan pesan agar seluruh jemaah terus konsisten dalam menuntut ilmu agama. Pemahaman yang benar terhadap kitab Nashoihul Ibad diharapkan dapat menjadi benteng bagi umat Islam di Surabaya dan sekitarnya dalam menghadapi fitnah zaman. Dengan menerapkan lima nasihat tersebut, kehidupan yang berkah dan penuh ketenangan bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang bisa dirasakan setiap hari.

Sumber: Kajian Kitab Nashoihul Ibad oleh Ustadz H. Ahmad Muzakki Alhafidz di Masjid Nasional Al-Akbar

Bukan Harta, Inilah Rahasia Kekayaan Sejati Menurut Kitab Nashoihul Ibad

E-Buletin