KabarMasjid.id, Surabaya – Kehidupan sering kali diibaratkan sebagai ruang ujian raksasa di mana setiap napas adalah lembar jawaban yang sedang kita isi. Untuk membedah hakikat ujian ini, Masjid Al Falah Surabaya menyelenggarakan Kajian Sabtu Subuh pada 20 Desember 2025 yang menghadirkan Ustadz Adhan Sanusi, Lc, M.Ag sebagai narasumber. Dalam tausiyanya, beliau mengajak jamaah merenungkan sejauh mana kita telah mengoptimalkan modal yang diberikan Allah untuk meraih nilai terbaik di akhirat kelak.
Pada bagian awal, Ustadz Adhan mengingatkan kembali bahwa dalam ujian kehidupan ini, manusia tidak sendirian karena ada lima pengawas yang mencatat setiap gerak-gerik kita. Selain malaikat Raqib dan Atid, tubuh kita sendiri akan menjadi saksi yang melaporkan segala amal perbuatan di hadapan Allah. Selain itu, bumi yang kita pijak, manusia di sekitar kita—termasuk keluarga sebagai pengawas terdekat—serta Allah SWT sebagai saksi puncak, semuanya merekam jejak kehidupan kita tanpa celah.
Satu hal yang membuat ujian kehidupan ini sangat mendebarkan adalah ketidakpastian waktunya. Berbeda dengan ujian sekolah yang memiliki durasi tetap seperti 90 menit, waktu ujian manusia dirahasiakan oleh Sang Pencipta dan hanya dibocorkan kepada malaikat maut. Tanda bahwa waktu ujian telah berakhir sangatlah sederhana namun pasti, yaitu ketika “kertas ujian” atau nyawa kita diambil oleh pengawas kapan saja tanpa bisa ditunda.
Ketidakpastian waktu ini seharusnya melahirkan dua sikap utama pada diri seorang mukmin: pengerahan seluruh potensi dan pemanfaatan waktu yang efektif. Orang yang sadar bahwa kertas ujiannya bisa diambil sewaktu-waktu tidak akan sempat bersantai-santai atau bermain-main. Mereka akan fokus mengerjakan “soal-soal” amal saleh dengan penuh kesungguhan karena khawatir ajalnya tiba saat ia sedang dalam keadaan lalai.
Ustadz Adhan kemudian menjelaskan bahwa setiap manusia diberikan sarana ujian yang berbeda-beda oleh Allah. Sarana pertama dan yang paling dasar adalah jasad atau tubuh. Tubuh adalah modal utama untuk menjalankan ibadah badaniah seperti shalat, puasa, dan haji. Beliau menekankan pentingnya menjaga kesehatan jasad agar sarana ini bisa digunakan semaksimal mungkin untuk beramal sebelum fungsi fisiknya menurun atau hilang.
Menariknya, beliau menjelaskan bahwa musibah yang menimpa fisik atau harta seseorang tidak selalu merupakan hukuman atas dosa. Ada kalanya Allah memberikan ujian berupa sakit atau kehilangan harta karena seseorang telah ditetapkan memiliki derajat tinggi di surga, namun amal ibadahnya belum mencukupi untuk sampai ke sana. Melalui pintu kesabaran atas ujian fisik itulah, Allah mengangkat derajat sang hamba ke posisi yang semestinya.
Sarana ujian berikutnya adalah waktu, sebuah modal yang diberikan secara merata kepada setiap manusia namun sering kali berakhir dengan kerugian. Dalam perspektif Al-Qur’an, semua manusia berada dalam kerugian kecuali mereka yang mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Waktu yang telah berlalu tidak akan pernah kembali, sehingga setiap detiknya harus bernilai investasi akhirat.
Selain jasad dan waktu, Allah juga memberikan sarana tambahan berupa harta dan jabatan bagi sebagian orang. Ustadz Adhan mengingatkan agar kita tidak iri pada harta orang lain, melainkan iri pada kedermawanannya. Harta bukanlah tujuan, melainkan alat untuk mempermudah jalan menuju surga melalui sedekah dan bantuan kepada sesama, terutama bagi mereka yang memiliki kelebihan materi yang melimpah.
Terkait jabatan, beliau memberikan pesan kuat bahwa kekuasaan adalah sarana amal yang luar biasa luas jangkauannya. Seorang pemimpin yang jujur dan melayani rakyatnya bisa mendapatkan pahala yang jauh lebih besar daripada orang yang hanya fokus pada ibadah pribadi. Manfaat yang dirasakan oleh masyarakat luas melalui kebijakan yang adil akan menjadi saksi pemberat timbangan amal bagi sang pemegang amanah kepemimpinan.
Ustadz Adhan juga menyoroti pentingnya sarana berupa ilmu dan keahlian profesi. Seorang dokter, arsitek, atau pengacara diajak untuk tidak selalu menguangkan setiap keahlian yang dimilikinya. Sesekali, keahlian tersebut harus disedekahkan secara gratis kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini penting untuk menjaga “ketebalan hati” dan nurani agar tidak terjebak dalam arus materialisme yang hanya mementingkan keuntungan duniawi semata.
Lebih lanjut, , Ustadz Adhan menjelaskan bahwa setiap orang harus fokus pada “makam” atau posisi yang telah Allah tetapkan baginya. Jika seseorang ditakdirkan sebagai orang kaya, maka amal unggulannya adalah sedekah; jika ia seorang ulama, amalnya adalah mengajar. Jangan sampai seseorang mengabaikan amalan utamanya hanya untuk mengejar amalan orang lain, karena Allah membagi-bagi amal sebagaimana Allah membagi-bagi rezeki kepada hamba-Nya.
Sebagai penutup, , Ustadz Adhan memberikan pesan mendalam bahwa segala fasilitas hidup yang kita miliki saat ini adalah instrumen ujian yang akan dipertanggungjawabkan. Kesuksesan sejati bukan diukur dari seberapa banyak harta atau setinggi apa jabatan yang diraih, melainkan dari seberapa besar manfaat yang bisa diberikan melalui sarana-sarana tersebut. Mari kita kenali sarana unggulan kita masing-masing dan maksimalkan untuk meraih keridaan Allah SWT.
Sumber: Kajian Rabu Ba’da Maghrib Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Adhan Sanusi, Lc, M.Ag