Rahasia Silaturahmi: Benarkah Bisa Memperpanjang Umur dan Melapangkan Rezeki?

Kajian Kitab At-Targhib wa At-Tarhib oleh Kiai M. Shubhan di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo
Kajian Kitab At-Targhib wa At-Tarhib oleh Kiai M. Shubhan di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Solo – Masjid Raya Sheikh Zayed Solo kembali menjadi pusat pencerahan spiritual bagi umat Islam. Pada Selasa, 17 Desember 2025, Kyai M. Shubhan memimpin kajian kitab At-Targhib wa At-Tarhib yang dihadiri oleh jamaah baik secara langsung maupun daring. Dalam tausiyahnya yang menyejukkan, beliau menekankan pentingnya menjaga konsistensi dalam ibadah-ibadah sederhana namun memiliki dampak luar biasa bagi kehidupan dunia dan akhirat, terutama di tengah tantangan zaman digital yang kian kompleks.

Kyai M. Shubhan membuka kajian dengan memaparkan konsep empat “Mudawamah” atau amal yang dilakukan secara terus-menerus sebagai sumber kebaikan utama. Amalan pertama adalah Mudawamatul Wudu, yaitu senantiasa menjaga kondisi tubuh dalam keadaan suci. Beliau merujuk pada kisah sahabat Bilal bin Rabah yang memiliki karamah luar biasa karena tidak pernah membiarkan dirinya batal wudu, yang juga berdampak pada kesehatan suara dan fisiknya selama menjadi muazin Rasulullah.

Amalan kedua yang ditekankan adalah Mudawamatus Shodaqoh, atau konsistensi dalam bersedekah tanpa melihat besar kecilnya nominal. Kyai M. Shubhan menggarisbawahi keutamaan sedekah di waktu subuh atau sebelum matahari terbit. Beliau menceritakan kisah inspiratif para pengusaha sukses yang memulai harinya dengan berbagi kepada orang yang membutuhkan di emperan jalan atau masjid sebelum azan berkumandang, sebagai bentuk “investasi” langit yang melancarkan rezeki.

Selanjutnya, amalan ketiga adalah Mudawamatul Birri, yakni bakti kepada orang tua yang dilakukan tanpa putus. Amalan ini disebut sebagai kunci pembuka pintu rahmat. Sementara amalan keempat adalah Mudawamatu Silaturahmi, sebuah praktik sosial-keagamaan yang menurut beliau mulai terkikis oleh kesibukan manusia dengan dunianya sendiri. Keempat amalan ini, jika dijaga secara istikamah, akan membentuk benteng spiritual yang kuat bagi seorang mukmin.

Menilik lebih dalam soal silaturahmi, Kyai M. Shubhan menjelaskan sepuluh keuntungan bagi mereka yang gemar menyambung tali persaudaraan. Manfaat pertama adalah sebagai sarana membagi kebahagiaan (idkhalus surur). Ketika kita mengunjungi saudara atau teman, kehadiran kita membawa keceriaan yang bernilai ibadah di sisi Allah. Manfaat kedua adalah meraih rida Allah, di mana malaikat diperintahkan untuk mengikuti dan mendoakan keselamatan bagi siapa saja yang melangkah untuk bersilaturahmi.

Manfaat ketiga dan keempat berkaitan dengan peran makhluk langit, di mana malaikat ikut merasa senang dan memohonkan ampunan bagi mereka yang menjaga kerukunan. Selain itu, silaturahmi juga menjadi sarana untuk saling memberi apresiasi dan pujian positif. Menurut Kyai M. Shubhan, manusia pada dasarnya senang dipuji, dan melalui pertemuan tatap muka, kita bisa memberikan energi positif yang membangun semangat hidup sesama Muslim.

Hal yang menarik, silaturahmi ternyata merupakan “musuh” bagi iblis. Manfaat kelima adalah membuat iblis susah karena hubungan antarmanusia yang harmonis akan memperkokoh iman seseorang. Manfaat keenam yang sering menjadi dambaan banyak orang adalah ziadatun fil umri atau tambahan umur. Namun, beliau meluruskan bahwa yang dimaksud bukanlah perubahan ajal, melainkan keberkahan usia di mana amal kebaikan seseorang terus mengalir dan namanya dikenang baik meskipun sudah wafat.

Keuntungan ketujuh adalah keberkahan rezeki. Kyai M. Shubhan menjelaskan bahwa silaturahmi membuka pintu-pintu peluang baru yang tak terduga. Tak jarang, pertemuan sederhana menghasilkan kolaborasi atau bantuan yang melancarkan urusan ekonomi. Sedangkan manfaat kedelapan adalah memberikan kebahagiaan bagi para leluhur yang sudah di alam kubur. Mereka merasa tenang melihat keturunan yang mereka tinggalkan tetap bersatu dan tidak saling bermusuhan.

Manfaat kesembilan adalah tumbuhnya rasa cinta kasih yang tulus antar sesama, sementara manfaat kesepuluh adalah tambahan pahala yang terus berlipat ganda setelah kematian. Kyai M. Shubhan mengingatkan bahwa di era digital ini, silaturahmi jangan hanya terbatas pada pesan singkat di layar ponsel. Pertemuan fisik atau setidaknya doa yang tulus tetap memiliki kualitas spiritual yang jauh lebih tinggi daripada sekadar interaksi virtual yang seringkali hampa.

Dalam kajian tersebut, Kyai M. Shubhan juga memberikan tips tentang adab bertamu. Beliau menekankan pentingnya menjaga lisan agar tidak menyinggung perasaan tuan rumah. Silaturahmi bukan sekadar berkunjung, tapi juga menghormati dan memuliakan orang yang dikunjungi. Beliau mengingatkan bahwa iman kepada Allah dan Hari Akhir salah satunya diukur dari sejauh mana seseorang memuliakan tamunya dan berkata-kata yang baik.

Bagi mereka yang orang tuanya telah wafat, bakti tidaklah berhenti. Kyai M. Shubhan menjelaskan bahwa anak masih bisa berbakti dengan cara menjaga hubungan baik dengan teman-teman atau saudara mendiang orang tuanya. Ini adalah salah satu bentuk birrul walidain yang sangat dianjurkan agar tali kekeluargaan yang telah dibangun orang tua semasa hidup tidak terputus begitu saja setelah mereka tiada.

Sebagai penutup bagian akhir kajian, Kyai M. Shubhan menegaskan bahwa silaturahmi dan sedekah adalah perisai dari kematian yang tragis atau suul khatimah. Orang yang rajin bersilaturahmi cenderung memiliki lingkungan yang mendukung secara spiritual, sehingga di akhir hayatnya ia seringkali didoakan oleh banyak orang. Ini adalah janji Rasulullah bahwa pintu keburukan akan tertutup bagi mereka yang gemar menyambung kasih sayang.

Kajian kitab At-Targhib wa At-Tarhib ini diakhiri dengan pesan bahwa menjadi orang baik tidaklah sulit jika kita memulai dari hal-hal kecil seperti menjaga wudu dan tidak memutus silaturahmi. Dengan menjaga empat sumber kebaikan tersebut, seorang Muslim tidak hanya akan merasakan ketenangan batin secara personal, tetapi juga berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang harmonis, penuh berkah, dan jauh dari malapetaka.

Sumber: Kajian Kitab At-Targhib wa At-Tarhib oleh Kiai M. Shubhan di Masjid Raya Sheikh Zayed Solo

E-Buletin