KabarMasjid.id, Surabaya – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Akbar Surabaya pada Sabtu malam, 13 Desember 2025, saat para jemaah berkumpul untuk mendalami mutiara hikmah dalam kajian kitab Idhotun Nasyi’in. Kajian yang disampaikan oleh H. Ahmad Mujab Muthohar ini membedah tema krusial bagi kehidupan manusia modern, yakni tentang bahaya keputusasaan (Al-Yasu) dan bagaimana cara membangkitkan harapan di tengah badai ujian hidup.
Dalam pembukaannya, Gus Mujab menekankan bahwa keputusasaan bukan sekadar perasaan sedih biasa, melainkan penyakit hati yang mampu melumpuhkan potensi seseorang. Mengutip Syekh Mustofa Al-Ghalayani, beliau menjelaskan bahwa jika keputusasaan telah menjangkiti suatu bangsa atau individu, maka hancurlah segala cita-cita besar yang sedang dibangun.
Lebih dalam lagi, kajian ini mengungkap bahwa luka akibat putus asa jauh lebih pedih daripada penyakit fisik mana pun. Rasa sesak di dada dan hilangnya semangat hidup digambarkan lebih buruk daripada goresan pedang yang tajam, karena ia menyerang relung hati yang paling dalam dan meninggalkan kelemahan yang nyata bagi pelakunya.
Gus Mujab juga memberikan peringatan keras mengenai hilangnya martabat manusia akibat putus asa. Orang yang menyerah pada keadaan diibaratkan seperti binatang yang kehilangan arah, di mana pikirannya hanya tertuju pada kebutuhan fisik dasar seperti makan dan minum, tanpa memiliki visi atau kontribusi bagi lingkungan sekitarnya.
Sisi spiritual dari keputusasaan pun dibedah dengan merujuk pada Al-Qur’an Surah Yusuf ayat 87. Di sana disebutkan bahwa tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir, yang menunjukkan betapa bahayanya sikap ini karena dapat mengikis landasan iman dan kepercayaan kita kepada kekuasaan Tuhan.
Akibat dari sikap ini pun tidak main-main, karena kerugiannya mencakup kehidupan dunia maupun akhirat. Di dunia, orang yang putus asa akan sulit berkembang dan selalu merasa beban hidupnya paling berat, sementara di akhirat ia merugi karena telah kehilangan harapan akan rahmat Allah yang luas.
Bagi mereka yang sedang berjuang dalam pendidikan atau kepemimpinan, putus asa adalah musuh utama yang menghancurkan sendi-sendi perjuangan. Orang yang pesimis cenderung mencari “kambing hitam” atas kegagalannya, alih-alih bangkit mencari solusi kreatif untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi.
Untuk mengatasi hal tersebut, Gus Mujab menawarkan tiga solusi praktis, yang pertama adalah Taaluqul Qolbi Billah. Ini adalah prinsip menggantungkan hati sepenuhnya hanya kepada Allah, sehingga ketika manusia atau keadaan mengecewakan, pondasi batin kita tetap kokoh dan tidak mudah goyah.
Solusi kedua adalah Al-Ahdu bil Asbab, atau menyikapi dunia dengan hukum sebab-akibat. Kita harus memiliki kesadaran bahwa kesuksesan memerlukan usaha nyata; tidak ada orang pintar tanpa belajar, dan tidak ada kemudahan tanpa melewati kesulitan terlebih dahulu sebagai bagian dari sunnatullah.
Langkah ketiga yang tidak kalah penting adalah menjaga optimisme atau Attafaul wal Amal. Meskipun cahaya harapan hanya terlihat sekecil percikan, kita harus tetap menggenggamnya dan terus melangkah maju, karena di situlah letak kunci masa depan dan kesuksesan seorang hamba.
Ustadz Mujab kemudian memberikan penyemangat melalui kisah Nabi Ibrahim AS yang tetap optimis meski sudah berusia senja dan belum memiliki keturunan. Allah menunjukkan bahwa bagi-Nya tidak ada yang mustahil, asalkan hamba-Nya tidak menjadi orang yang qonithin atau berputus asa dari kehendak-Nya.
Sebagai bekal praktis bagi jemaah, diajarkan pula sebuah doa yang pernah diberikan Rasulullah SAW kepada sahabat Abu Umamah yang terlilit utang dan kesedihan. Doa ini menjadi senjata spiritual untuk memohon perlindungan dari kebingungan, sifat pengecut, kemalasan, hingga tekanan beban utang yang menghimpit.
Kajian ditutup dengan pesan kuat bahwa setiap kesulitan pasti dibersamai dengan kemudahan, sebagaimana janji Allah dalam Surah Al-Insyirah. Dengan menjaga optimisme dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta, keputusasaan akan sirna dan berganti dengan kekuatan untuk terus berkontribusi bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Sumber: Ngaji Kitab Idhotun Nasyi’in oleh H. Ahmad Mujab Muthohar di Masjid Al Akbar Surabaya