KabarMasjid.id, Surabaya – Dunia yang kita tinggali tidak selalu ramah, dan tidak semua orang akan menyambut kehadiran kita dengan senyuman. Menyadari realitas sosial ini, Ustadz Prof. Dr. H. M. Ali Aziz, M.Ag. memberikan sebuah kajian mendalam yang mencerahkan di Masjid Al Falah Surabaya pada Kamis 11 Desember 2025. Dalam ceramah bertajuk “Tak Semua Orang Senang Kita”, beliau mengupas tuntas ayat-ayat dalam Surah Al-Falaq sebagai perisai diri dari energi negatif dan penyakit hati yang mungkin datang dari lingkungan sekitar.
Dalam paragraf awal kajiannya, Prof. Ali Aziz menekankan pentingnya memiliki mental “anti kaget” dalam berinteraksi sosial. Beliau mengingatkan jamaah agar tidak pernah berpikir bahwa semua orang di kantor, di kampung, atau di lingkungan mana pun akan menyukai kita. Prinsip ini sangat penting agar saat kita bertemu dengan orang yang sinis atau tidak suka, kesehatan mental dan ketenangan batin kita tidak langsung goyah karena sudah memiliki kesiapan mental sejak awal.
Landasan filosofis dari ketidaksukaan ini, menurut beliau, berakar pada Surah Yasin yang menyatakan bahwa segala sesuatu diciptakan berpasangan. Sebagaimana ada siang dan malam atau laki-laki dan perempuan, maka dalam kehidupan sosial pun akan selalu ada orang yang mendukung dan orang yang membenci. Ini adalah sunnatullah atau hukum alam yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun, bahkan oleh orang yang paling baik sekalipun di dunia ini.
Lebih dalam lagi, narasumber mengutip pemikiran Ibnu Taimiyah yang menyatakan bahwa setiap manusia sebenarnya memiliki bibit iri hati atau hasad di dalam dirinya. Namun, yang membedakan satu orang dengan yang lain adalah bagaimana mereka mengelola bibit tersebut. Ada yang iri hatinya hanya berupa lintasan pikiran sesaat yang tidak berbahaya, namun ada pula yang meneruskannya menjadi aksi nyata untuk menjatuhkan orang lain yang dianggap sebagai saingan.
Surah Al-Falaq hadir sebagai solusi untuk meminta perlindungan dari jenis iri hati yang kedua, yaitu idza hasad atau ketika rasa iri tersebut telah berubah menjadi tindakan. Prof. Ali Aziz menjelaskan bahwa hasad yang berbahaya adalah keinginan untuk menghancurkan nikmat orang lain. Beliau memberikan analogi modern seperti praktik framing jahat di media sosial atau penggunaan teknologi AI untuk menjatuhkan reputasi seseorang demi kepentingan kelompok tertentu.
Beliau juga menceritakan sejarah turunnya Surah Al-Falaq yang berkaitan dengan peristiwa sihir yang menimpa Rasulullah SAW. Meskipun para ulama berbeda pendapat mengenai dampaknya, Prof. Ali Aziz menjelaskan bahwa sihir tersebut hanya mengenai fisik Nabi sebagai manusia biasa, namun tidak sedikit pun membelokkan tauhid beliau. Hal ini memberikan pelajaran bahwa gangguan fisik dari orang yang tidak suka adalah ujian yang bahkan dialami oleh kekasih Allah.
Dalam kajian ini, jamaah diajak memahami bahwa gangguan tidak hanya datang dari manusia, tetapi juga dari energi negatif lain seperti Ain atau pandangan mata yang merusak. Mengutip Surah Al-Qalam, beliau menjelaskan bahwa pandangan mata orang kafir hampir saja menggelincirkan Nabi. Fenomena ini dalam konteks modern bisa disamakan dengan pengaruh hipnotis atau energi negatif yang ditransmisikan melalui fokus pikiran manusia.
Prof. Ali Aziz kemudian menekankan pentingnya kalimat “Qul” (Katakanlah) dalam Surah Al-Falaq. Berdoa bukan hanya sekadar membatin, tetapi harus diucapkan sebagai bentuk komunikasi aktif kepada Sang Pencipta. Beliau mengibaratkan komunikasi dalam rumah tangga; jika ada yang tidak suka atau ada masalah, harus dikomunikasikan dengan baik, bukan hanya dipendam yang akhirnya bisa menjadi bom waktu yang merusak hubungan.
Tujuan utama dari berdoa dan meminta perlindungan, menurut beliau, adalah untuk menunjukkan sifat kehambaan (ubudiyah). Dengan berdoa, kita mengakui bahwa diri kita lemah dan Allah Maha Kuat. Beliau mengingatkan agar kita tidak memaksa Allah untuk selalu menuruti keinginan kita, karena Allah lebih tahu apa yang terbaik. Jika semua permintaan manusia dituruti, dunia bisa menjadi kacau karena ego manusia yang saling bertabrakan.
Cakupan perlindungan dalam Surah Al-Falaq sangat luas, meliputi perlindungan dari segala makhluk (min syarri ma khalaq). Ini mencakup gangguan jin, setan, hewan berbisa, hingga hal-hal mikro seperti virus dan penyakit dalam tubuh. Beliau berbagi tips spiritual untuk memohon kepada Allah agar virus atau potensi penyakit dalam tubuh “ditidurkan” sehingga tidak membawa dampak buruk bagi kesehatan kita.
Selain makhluk hidup, perlindungan ini juga mencakup fenomena alam dan kejadian tak terduga di jalan raya. Prof. Ali Aziz mengingatkan agar kita serius dalam meminta perlindungan setiap kali ingin memulai aktivitas. Seringkali manusia baru berteriak memanggil nama Allah saat musibah sudah terjadi, padahal pencegahan melalui doa di awal waktu adalah kunci keselamatan yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Sebagai penutup, kajian ini memberikan simpulan bahwa Surah Al-Falaq dan An-Nas adalah dua “mantra” perlindungan terbaik yang mencukupi bagi setiap muslim. Dengan konsisten membacanya, kita tidak hanya terlindungi dari sihir dan kejahatan malam, tetapi juga memiliki keteguhan hati dalam menghadapi dinamika sosial yang penuh dengan rasa iri. Ustadz Ali Aziz berharap jamaah dapat menjalani hidup dengan lebih tenang karena telah bersandar sepenuhnya pada perlindungan Allah SWT.
Sumber: Kajian Maghrib Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Prof Dr. H. M. Ali Aziz, M.Ag dnegan tema “TAK SEMUA ORANG SENANG KITA” Intisari QS.AL FALAQ