Penting! Inilah 6 Jenis Ilmu yang Wajib Dipelajari Muslim agar Selamat Dunia Akhirat

Ustadz H. Achmad Sulton Rofii,
Ustadz H. Achmad Sulton Rofii,

Bagikan postingan :

KabarMajid.id, Malang – Masjid Agung Jami Malang kembali menyelenggarakan kegiatan spiritual yang menyejukkan hati melalui Pengajian Rutin Ba’da Maghrib pada Selasa malam, 10 Desember 2025. Kajian yang dihadiri oleh ratusan jemaah ini menghadirkan Ustadz H. Achmad Sulton Rofii, yang membedah kitab klasik mengenai adab dan pembersihan jiwa. Sebagai pembuka, Ustadz Sulton mengajak jemaah untuk senantiasa memperbarui niat dalam menuntut ilmu agar setiap langkah menuju masjid dicatat sebagai amal jariyah yang tak terputus.

Dalam pemaparannya, beliau menekankan pentingnya bagi setiap Muslim untuk memiliki “ilmu yang bermanfaat”. Menurut beliau, ilmu yang bermanfaat bukan sekadar teori yang dihafal, melainkan pengetahuan yang mampu menambah rasa takut kepada Allah SWT dan memperkuat keyakinan akan keagungan-Nya. Ilmu jenis ini merupakan tingkatan tertinggi karena menjadi fondasi utama dalam setiap ibadah yang dijalankan oleh seorang hamba.

Lebih lanjut, Ustadz Sulton menjelaskan bahwa memahami syariat Islam adalah kewajiban fardu ain. Setiap Muslim harus mengetahui tata cara ibadah yang sah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW serta memahami larangan-larangan agama yang harus dijauhi. Tanpa pemahaman syariat yang benar, amal ibadah seseorang dikhawatirkan akan sia-sia karena tidak memenuhi syarat dan rukun yang telah ditetapkan.

Salah satu poin penting yang ditekankan dalam kajian ini adalah sikap zuhud atau membatasi kecintaan terhadap dunia. Beliau menjelaskan bahwa ilmu yang bermanfaat akan membuat seseorang lebih fokus mengejar kebahagiaan akhirat daripada sekadar mengejar kemewahan duniawi yang fana. Semakin bertambah ilmu seseorang, seharusnya semakin bertambah pula kerinduannya kepada rida Allah SWT.

Ustadz Sulton juga mengingatkan pentingnya introspeksi diri untuk mengenali cacat atau kekurangan pribadi. Dengan menyadari kekurangan diri, seorang Muslim tidak akan merasa lebih baik atau lebih mulia dibandingkan orang lain. Sikap rendah hati ini merupakan benteng utama agar seseorang terhindar dari penyakit hati yang mematikan, yakni kesombongan.

Terkait keberlangsungan amal, narasumber menjelaskan adanya ilmu untuk mengetahui “cacat amal”. Banyak orang yang rajin beribadah namun tidak menyadari bahwa amalannya ditolak karena adanya penyakit hati seperti riya (pamer) atau ingin dipuji manusia. Oleh karena itu, menjaga keikhlasan dalam setiap sujud dan sedekah menjadi sangat krusial agar pahala tetap terjaga di sisi Allah.

Kajian kemudian beralih membahas musuh nyata manusia, yaitu iblis dan bala tentaranya. Ustadz Sulton menjelaskan bahwa setan memiliki sepuluh pintu masuk untuk merusak manusia, di antaranya adalah su’udzon (buruk sangka) dan tulul amal (merasa hidup masih lama). Perasaan merasa hidup masih lama inilah yang sering membuat manusia menunda-nunda tobat dan amal saleh hingga ajal menjemput secara tiba-tiba.

Penyakit hati lainnya yang dibahas secara mendalam adalah hasad atau iri dengki. Beliau memperingatkan bahwa hasad dapat memakan pahala amal kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar. Sifat ini muncul ketika seseorang tidak rida dengan ketetapan Allah yang memberikan nikmat kepada orang lain, sehingga setan sangat mudah masuk melalui celah ketidaksyukuran tersebut.

Selanjutnya, Ustadz Sulton membedah masalah kebakhilan atau sifat pelit. Setan selalu membisikkan rasa takut akan kemiskinan jika seseorang bersedekah, padahal Allah menjanjikan ganti yang berlipat ganda. Orang yang bakhil disebut jauh dari Allah, jauh dari manusia, dan jauh dari surga, namun sangat dekat dengan api neraka.

Kajian ini juga mengungkap dialog antara Nabi Muhammad SAW dengan Iblis mengenai golongan manusia yang paling dibenci oleh setan. Salah satunya adalah pemimpin yang adil. Pemimpin yang adil menjadi musuh besar iblis karena kebijakan-kebijakannya mampu membawa kemaslahatan bagi rakyat luas dan menutup celah-celah kemaksiatan di suatu negeri.

Golongan lain yang dibenci setan adalah pedagang yang jujur. Ustadz Sulton menjelaskan bahwa pedagang yang tidak mengurangi timbangan dan tidak berbohong dalam transaksinya akan dikumpulkan bersama para nabi dan syuhada di akhirat kelak. Hal ini dikarenakan kejujuran dalam mencari rezeki yang halal merupakan bentuk ibadah yang sangat berat tantangannya.

Selain itu, orang yang senantiasa menjaga kesucian atau dawamul wudhu juga menjadi target kebencian iblis. Menurut penjelasan dalam video, seseorang yang memiliki wudu akan senantiasa dijaga oleh malaikat dan sulit bagi setan untuk membisikkan godaan-godaan jahat ke dalam hatinya. Kebiasaan menjaga wudu mencerminkan kesiapan hati untuk selalu menghadap Sang Pencipta kapan saja.

Sebagai penutup kajian, Ustadz H. Achmad Sulton Rofii memimpin doa bersama memohon agar seluruh jemaah diberikan istikamah dalam ketaatan. Beliau berharap ilmu yang dibagikan dapat menjadi pelita dalam kehidupan sehari-hari dan memohon kepada Allah SWT agar setiap jemaah diwafatkan dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik). Pengajian pun diakhiri dengan pembacaan Surat Al-Fatihah yang khidmat.

Sumber: Pengajian Rutin Ba’da Maghrib Hari Selasa Masjid Jami’ Malang bersama Ustadz. H. Achmad Sulton Rofii

E-Buletin