KabarMajid.id, Surabaya – Hati merupakan poros utama kehidupan seorang mukmin yang menentukan kualitas seluruh perbuatannya, sehingga menjaganya dari noda batin adalah sebuah keniscayaan. Kesadaran spiritual inilah yang melandasi pelaksanaan kajian rutin kitab Nashaihul Ibad yang diselenggarakan pada Senin, 8 Desember 2025 di Masjid Nasional Al Akbar Surabaya. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. Saiful Jazil, M.Ag. hadir sebagai narasumber untuk membedah urgensi menjaga kesehatan batin dari berbagai penyakit hati yang sering kali tidak disadari oleh manusia.
Kajian ini memfokuskan pembahasan pada nasihat ulama besar Syekh Hasan Al-Bashri mengenai enam perkara yang dapat merusak hati manusia. Prof. Saiful Jazil mengingatkan bahwa jika segumpal daging bernama hati ini rusak, maka seluruh anggota tubuh dan perilaku seseorang akan ikut rusak. Sebaliknya, hati yang sehat akan memancarkan cahaya kebaikan dalam setiap gerak-gerik pemiliknya.
Perkara pertama yang merusak hati adalah kebiasaan seseorang yang sengaja melakukan dosa namun tetap berharap tobatnya akan diterima di kemudian hari. Prof. Saiful menjelaskan bahwa perilaku ini merupakan bentuk sikap meremehkan atau “mengejek” aturan Allah SWT. Menunda tobat dengan alasan masih ada waktu adalah tipu daya yang sangat berbahaya karena kematian bisa datang tanpa memberikan kesempatan untuk berucap kata maaf.
Beliau kemudian mengutip pesan Sayid Zainal Abidin tentang kemurkaan Allah yang dirahasiakan dalam setiap kemaksiatan. Umat diingatkan untuk tidak memandang remeh dosa sekecil apa pun, karena bisa jadi di balik dosa kecil itulah terletak kemurkaan Allah yang besar. Hati yang terbiasa menoleransi dosa kecil lama-kelamaan akan menjadi keras dan sulit menerima hidayah.
Sebagai ilustrasi, Prof. Saiful menceritakan kisah tragis Syekh Barseso, seorang ahli ibadah yang memiliki ribuan santri namun berakhir dalam kondisi suul khatimah. Barseso terjerumus mulai dari meminum khamar yang dianggapnya dosa kecil, hingga akhirnya melakukan zina, pembunuhan, dan kemusyrikan. Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa kesalehan lahiriah tidak menjamin keselamatan jika hati tidak dijaga dengan penuh kewaspadaan.
Penyebab kerusakan hati yang kedua adalah semangat dalam mencari ilmu, namun malas dalam mengamalkannya. Prof. Saiful menekankan bahwa ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah, hanya menjadi beban bagi pemiliknya di akhirat nanti. Ilmu seharusnya menjadi alat untuk memperbaiki diri, bukan sekadar koleksi wawasan untuk diperdebatkan.
Ketiga, hati akan rusak jika seseorang mengamalkan ilmu namun kehilangan rasa ikhlas dalam melakukannya. Segala amal ibadah yang dicampuri dengan rasa riya atau ingin dipuji manusia akan kehilangan esensinya di hadapan Allah. Keikhlasan adalah ruh dari setiap perbuatan, dan tanpa itu, amal tersebut hanyalah raga kosong yang tidak memberikan ketenangan pada batin.
Selanjutnya, perkara keempat adalah kebiasaan menikmati rezeki Allah tanpa disertai rasa syukur. Prof. Saiful mengajak jamaah untuk belajar mensyukuri hal-hal kecil agar mampu mensyukuri nikmat yang besar. Beliau mengilustrasikan syukur melalui kisah seorang penjual Al-Qur’an yang tetap merasa beruntung meski dagangannya tidak laku karena hujan, sebab ia mendapat kesempatan untuk membaca ayat-ayat suci.
Poin kelima yang disoroti adalah sifat tidak rida terhadap pembagian atau ketentuan yang telah ditetapkan Allah. Sifat ini sering kali muncul dalam bentuk ketidakpuasan terhadap materi atau jabatan yang dimiliki. Orang yang tidak memiliki sifat qanaah akan selalu merasa kurang, sehingga hatinya dipenuhi dengan kedengkian dan ambisi yang tidak berujung.
Prof. Saiful memberikan perspektif menarik mengenai bagaimana ilmu dapat mengubah cara pandang terhadap rezeki dan muamalah, seperti dalam kasus bunga bank atau jual beli barang najis untuk manfaat tertentu. Dengan ilmu yang benar, seseorang dapat menata niat dan akad sehingga aktivitas dunianya tetap berada dalam koridor yang diridai Allah dan menenangkan hati.
Perkara keenam atau yang terakhir sebagai perusak hati adalah kebiasaan menguburkan jenazah namun tidak mengambil pelajaran darinya. Sering kali manusia hadir di pemakaman hanya sebagai rutinitas sosial tanpa menyadari bahwa suatu saat mereka akan berada di posisi yang sama. Hati yang mati adalah hati yang tidak lagi bergetar melihat kematian di depan matanya.
Mengakhiri kajiannya, Prof. Saiful Jazil mengutip hadis Rasulullah SAW tentang definisi orang mukmin yang cerdas. Orang yang paling cerdas bukanlah mereka yang bergelar tinggi, melainkan mereka yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik persiapannya menuju kehidupan setelah mati. Mengingat mati adalah obat paling mujarab untuk menghidupkan kembali hati yang mulai redup.
Sumber: KAJIAN KITAB NASHOIHUL IBAD edisi 8 Desember 2025 oleh Prof. Dr. H.Saiful Jazil, M.Ag di Masjid Al Akbar Surabaya