KabarMajid.id, Surabaya – Dunia yang kita pijak hari ini tak lepas dari rangkaian peristiwa yang menguji keteguhan iman, mulai dari bencana alam hingga persoalan hidup yang datang silih berganti. Pada pelaksanaan salat Jumat di Masjid Al Falah Surabaya, 12 Desember 2025, Ustadz Agung Cahyono menyampaikan sebuah pesan mendalam bertajuk “Menghadapi Musibah dengan Ihsan”. Beliau mengingatkan bahwa musibah bukanlah sekadar derita, melainkan momentum bagi seorang hamba untuk menunjukkan kualitas terbaiknya di hadapan Sang Pencipta melalui sikap yang tepat.
Dalam paragraf awal pembahasannya, Ustadz Agung menekankan bahwa Indonesia belakangan ini kerap dirundung berbagai cobaan, mulai dari bencana air hingga tanah longsor. Namun, sebagai orang beriman, fenomena ini tidak boleh disikapi dengan keputusasaan yang justru menjauhkan diri dari Allah. Sebaliknya, musibah harus menjadi jembatan untuk “berihsan”, yaitu memilih langkah-langkah terbaik yang telah diajarkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah agar ujian tersebut berbuah manis di akhirat kelak.
Poin pertama yang ditekankan adalah pentingnya memupuk kesabaran tanpa batas. Beliau mengutip Surah Az-Zumar ayat 10 yang menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang-orang yang bersabar. Kesabaran sejati, menurut beliau, bukanlah sikap pasif setelah segalanya berlalu, melainkan keteguhan hati yang dimunculkan tepat saat benturan pertama musibah itu terjadi. Tanpa kesabaran yang “paripurna”, seorang hamba akan mudah kehilangan arah di tengah badai ujian yang menerpa.
Selanjutnya, langkah ihsan yang kedua adalah memperbanyak zikir dan istigfar melalui kalimat-kalimat yang baik. Kalimat Innalillahi wa inna ilaihi rojiun bukan sekadar ucapan duka, melainkan sebuah pengakuan jujur bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan pasti akan kembali kepada-Nya. Dengan lisan yang basah oleh zikir, hati seseorang akan lebih tenang karena menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia ini yang bersifat kekal atau benar-benar menjadi milik pribadi.
Sikap ketiga yang tidak kalah penting adalah ikhtisab, yaitu kemampuan untuk menggantungkan harapan dan permohonan pahala hanya kepada Allah. Beliau mengisahkan tentang Ummu Salamah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW untuk berdoa agar diberi pahala atas musibahnya dan diberikan ganti yang lebih baik. Berharap kepada Allah di tengah kesulitan adalah bentuk tauhid yang nyata, yang memastikan bahwa setiap tetes air mata dan rasa sakit tidak akan terbuang sia-sia tanpa balasan.
Keempat, seorang Muslim dituntut untuk rida terhadap segala garis takdir yang telah ditetapkan. Ustadz Agung menjelaskan bahwa kehendak Allah berada di atas segalanya dan tidak ada yang bisa mengubah apa yang sudah menjadi keputusan-Nya. Dengan menyerahkan diri sepenuhnya (rida), musibah tersebut secara otomatis akan menjadi pengangkat derajat dan penghapus dosa-dosa masa lalu yang mungkin pernah dilakukan oleh seorang hamba selama hidupnya.
Hal yang paling menarik dan mungkin terasa berat bagi sebagian besar orang adalah poin kelima: bersyukur di tengah musibah. Ini adalah level ihsan tertinggi yang biasanya hanya dicapai oleh para nabi dan hamba-hamba pilihan. Bersyukur dalam konteks ini berarti menyadari bahwa ujian yang menimpa belum seberapa dibanding ujian umat terdahulu, dan yang terpenting, ujian tersebut tidak menimpa urusan agama maupun keimanan kita.
Ustadz Agung mengingatkan bahwa musibah terbesar bukanlah kehilangan harta atau orang tercinta, melainkan ketika agama dan iman seseorang mulai memudar. Selama kita masih bisa bersujud dan memegang teguh akidah, maka alasan untuk bersyukur tetaplah ada. Beliau mengutip ajaran Nabi untuk tetap mengucap Alhamdulillah ala kulli hal dalam setiap kondisi, baik itu menyenangkan maupun menyedihkan, sebagai bentuk ketundukan mutlak.
Dalam bagian akhir khutbahnya, beliau juga menyentuh sisi kemanusiaan dengan mengajak jamaah untuk tidak abai terhadap penderitaan sesama. Kepedulian terhadap korban bencana adalah wujud nyata dari keimanan. Dukungan yang diberikan tidak harus selalu berupa materi yang besar, namun bisa berupa doa-doa tulus yang dipanjatkan di waktu-waktu mustajab agar Allah segera mengangkat bala yang sedang menimpa negeri ini.
Beliau menegaskan bahwa Allah adalah Zat yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, termasuk memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan. Tidak ada musibah yang abadi, dan tidak ada ujian yang melampaui batas kemampuan hamba-Nya jika dihadapi dengan cara yang benar. Keyakinan inilah yang harus ditanamkan kuat-kuat dalam sanubari setiap Muslim agar tetap tangguh berdiri meski di tengah guncangan cobaan.
Menutup khutbahnya, Ustadz Agung Cahyono mengajak jamaah untuk bermunajat agar Indonesia selalu dalam lindungan-Nya. Beliau berharap agar setiap ujian yang datang dapat membawa perubahan positif bagi karakter bangsa, menjadikan masyarakatnya lebih bertakwa dan lebih dekat kepada nilai-nilai agama. Kekuatan doa dianggap sebagai senjata utama yang mampu mengubah takdir buruk menjadi kebaikan yang tak terduga.
Sumber: Khutbah Ju’mat Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Agung Cahyono dengan tema “MENGHADAPI MUSIBAH DENGAN IHSAN”