KabarMasjid.id, Solo – Setiap hari adalah peluang untuk menimba ilmu dan berinteraksi. Namun, sudahkah kita tahu cara terbaik menyikapi ragam orang yang kita temui? Dalam sebuah “Kajian Akhir Pekan” yang diselenggarakan oleh Masjid Raya Sheikh Zayed Solo pada Sabtu 29 Nov 2025, KH. Abdul Karim Alhafidz, memaparkan secara mendalam tentang keutamaan ilmu serta kiat-kiat bergaul dengan empat tipe manusia yang berbeda tingkat pengetahuannya. Kajian ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim bahwa ilmu adalah kebutuhan vital, bukan sekadar pelengkap hidup.
Ilmu menjadi pondasi utama dalam kehidupan seorang Mukmin. KH. Abdul Karim mengutip sabda Rasulullah SAW yang memberikan panduan tegas mengenai peran kita di dunia ini. Nabi Muhammad SAW berpesan, kita harus menjadi salah satu dari empat golongan manusia yang memiliki hubungan positif dengan ilmu, dan harus menjauhi golongan kelima.
Tipe pertama yang paling utama adalah Kun Aliman (Jadilah orang yang berilmu dan mengajar). Peran ini menempatkan seseorang sebagai pemberi manfaat, yang tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga bersedia mengajarkannya kepada orang lain. Mengajar adalah bentuk syiar terpenting, sebuah proses “nularke ilmunya” (menyebarkan ilmunya) demi kemaslahatan umat.
Jika tidak mampu mengajar, Rasulullah SAW menganjurkan kita menjadi Muta’aliman (orang yang belajar/murid). Apabila kondisi belum memungkinkan untuk belajar secara formal, kita bisa menjadi Mustami’an (pendengar setia), yakni mereka yang suka mendengarkan majelis ilmu. Jalan keempat adalah menjadi Muhibban (pecinta ilmu), yaitu mereka yang mencintai dan mendukung orang yang mengajar, belajar, atau mendengarkan.
Pesan tegas Rasulullah SAW berikutnya adalah, “Wala takunil khamis fatuhlik” (Jangan sampai kamu menjadi yang kelima, maka kamu akan celaka). Golongan kelima ini adalah mereka yang membenci atau memusuhi orang yang mengajar dan belajar. Setelah membahas peran-peran ideal tersebut, KH. Abdul Karim melanjutkan kajian dengan memaparkan hikmah dari Imam Al-Khalil Ibnu Ahmad tentang empat jenis interaksi yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Imam Al-Khalil Ibnu Ahmad, seorang ulama besar, berujar, “Ayyami arbaun,” (Hari-hariku ada empat). Kalimat ini merujuk pada empat watak atau profil manusia yang kita temui, dan setiap pertemuan tersebut membawa konsekuensi tindakan yang berbeda. Pemahaman ini mengajarkan kita untuk menyikapi setiap orang dengan bijaksana, bukan sekadar bertemu.
Pertama, Yaumun alqo fihi man hua a’lamu minni (Hari ketika aku bertemu dengan orang yang lebih pandai dariku). Jika ini terjadi—saat bertemu kiai, ulama, atau guru—tindakan yang dianjurkan adalah Faata’allamu minhu (belajarlah darinya). Hari tersebut dikatakan sebagai Yaumu Faidati wa Gonimati (hari yang penuh faedah dan keberuntungan), sebab kita mendapatkan mutiara ilmu.
Kedua, waaumun alqo fihi man a’lamu minhu (Hari ketika aku bertemu dengan orang yang aku lebih pandai darinya). Dalam situasi ini, tugas kita adalah mengajar, meluruskan, dan memberikan ilmu kepada mereka yang bodoh atau kurang berilmu dengan penuh keikhlasan. Contohnya adalah mengingatkan orang yang salah wudu atau berjual beli riba, namun dengan cara yang santun, bukan kasar.
Ketiga, Yaumun alqo fihi man hua mli (Hari ketika aku bertemu dengan orang yang kadar ilmunya setara denganku). Langkah terbaik saat bertemu dengan orang yang sebanding adalah mengajak mereka musyawarah, muzakarah, atau mubahasah (diskusi). Tujuannya adalah saling mengadu argumentasi berbasis ilmu (dalil) untuk mencari solusi terbaik yang bisa diterima bersama, bukan untuk menjatuhkan atau mencari prestise pribadi.
Kiai Abdul Karim mengingatkan bahwa musyawarah haruslah menghindari “debat supir” yang hanya bertujuan melemahkan lawan. Beliau mengutip kisah Sayidina Ali bin Abi Thalib yang sering diuji dengan pertanyaan sulit oleh para sahabat yang cemburu. Ali menjawab pertanyaan-pertanyaan itu dengan logika cerdas, menunjukkan bahwa ilmu harus digunakan untuk pencerahan, bukan untuk menipu atau mencari kelemahan seseorang.
Keempat adalah tipe yang paling berat: wahu fau ya wumun alqo fihi man hua duni wahua yaro annahu fauqi (Hari ketika aku bertemu dengan orang yang bodoh, tetapi merasa pintar/jahil murakab). Karena sulit dinasihati, Imam Al-Khalil menyarankan Fala ukallimuhu (lebih baik tidak usah berbicara). Beliau bahkan menganggap hari itu sebagai Yauma Rohati (hari istirahat), karena tidak perlu menghabiskan energi untuk berdebat dengan orang yang tertutup hatinya.
Melalui kajian ini, KH. Abdul Karim mengajarkan bahwa ilmu tidak hanya tentang apa yang kita tahu, tetapi juga tentang bagaimana kita berinteraksi. Dengan memegang teguh pesan Rasulullah SAW dan hikmah Imam Al-Khalil, kita diharapkan dapat memaksimalkan setiap pertemuan untuk menuai manfaat, pahala, atau setidaknya ketenangan batin, serta dijauhkan dari kerugian akibat sikap membenci atau berdebat tanpa tujuan.
Sumber: Kajian Akhir Pekan oleh KH. Abdul Karim, Alhafidz, yang diselenggarakan oleh channel Masjid Raya Sheikh Zayed Solo Official.