KabarMasjid.id, Surabaya – Setiap manusia mendambakan kehidupan yang tenang, damai, dan berjalan lurus sesuai rencana. Namun, faktanya, dunia fana ini tidak pernah diciptakan untuk menjadi tempat istirahat yang sempurna. Hal ini menjadi inti pembahasan dalam Kajian Madani yang disampaikan oleh Ustadz Marzuki Imron pada Sabtu 29 November 2024 Masjid Al Falah Surabaya Official. Dalam kajian tersebut, Ustadz Marzuki dengan tegas mengingatkan bahwa ketenangan sejati tidak bisa didapatkan dari dunia, melainkan hanya dari Allah SWT. Lantas, bagaimana cara melepaskan ketergantungan hati dari dunia agar kita tidak gampang sakit hati?
Ustaz Marzuki Imron menekankan bahwa jika seseorang menaruh harapan yang terlalu besar pada dunia, dia harus siap menanggung kekecewaan dan luka. Dunia (termasuk harta, pekerjaan, bahkan orang-orang terdekat) memiliki tabiat yang akan membuat kita kecewa jika harapan tidak tercapai, atau membuat kita sombong jika mendapatkan lebih.
Contoh nyata yang sering terjadi adalah kegagalan rencana. Seseorang mungkin sudah merencanakan lulus kuliah tepat waktu dalam empat tahun, namun takdir Allah menentukan ia harus lulus dalam tujuh tahun. Kita hanya bisa merencanakan, tetapi kepastian dan jalannya tetap berada di tangan-Nya.
Ketergantungan pada benda juga dapat memicu sakit hati. Seorang mahasiswa semester akhir yang bergantung pada laptop atau printer-nya untuk mengerjakan skripsi, akan merasa hancur ketika alat tersebut tiba-tiba mengalami kerusakan. Demikian pula dengan ketergantungan pada gaji, yang membuat seseorang bahagia pada tanggal 25 (gajian) dan menderita pada tanggal 10. Kondisi ini menjadi ciri hilangnya tawakal.
Harapan pada sesama manusia, bahkan pasangan, juga menjadi sumber kekecewaan. Seorang istri yang berharap dipuji kecantikannya setelah berdandan atau dimasakkannya makanan terenak oleh suami, harus siap kecewa jika pujian itu tak kunjung datang. Begitu juga suami yang berharap istri tidak cerewet setelah memberikan nafkah berlimpah; hal itu mustahil karena cerewet adalah fitrah wanita. Maka, niatkanlah setiap kebaikan hanya lillahi ta’ala.
Untuk mencapai hati yang lapang dan tidak mudah kecewa, Ustaz Marzuki Imron mengajukan lima poin penting. Poin pertama adalah Siap dengan yang Cocok dan Tidak Cocok. Setiap rencana harus dibarengi dengan kesiapan terhadap dua kemungkinan: sukses atau gagal, untung atau rugi. Kesiapan ini menghindarkan kita dari menyalahkan takdir Allah ketika kenyataan tidak sejalan dengan keinginan. Prinsip ini selaras dengan firman Allah dalam QS Al-Baqarah: 216, bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu padahal itu baik, dan menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita.
Poin kedua adalah Rida (Menerima) Setelah Kejadian. Ketika musibah sudah terjadi, segera terima dengan lapang dada. Menolak kenyataan hanya akan menambah luka dan sakit hati. Orang yang patah hati akan semakin sakit bukan saat ia dipatahkan, melainkan saat ia tidak menerima kenyataan bahwa ia patah hati. Menerima setiap takdir dengan rida adalah ibadah hati yang paling sulit dan bernilai.
Ketiga, Evaluasi Diri (Muhasabah). Rida saja tidak cukup. Setelah menerima musibah, kita wajib mengevaluasi diri. Mengapa masalah yang sama terus berulang? Apakah karena ada kesalahan yang tidak diperbaiki? Misalnya, jika terus-menerus ditolak dalam taaruf, perlu muhasabah apakah standar diri terlalu tinggi atau adakah perilaku yang tidak sesuai. Muhasabah berarti fokus pada kesalahan diri, bukan menyalahkan keadaan atau orang lain.
Keempat, Jangan Berlebihan atau Mendramatisir. Ketika tertimpa masalah, fokuslah pada porsi masalah itu sendiri dan jangan melebih-lebihkannya. Berpikir berlebihan atau mendramatisir hanya akan menghabiskan energi untuk hal yang di luar kapasitas kita. Jika kaki terluka, fokuslah pada luka kaki; jangan sampai hati dan kepala ikut pusing karena terlalu banyak berasumsi negatif.
Terakhir, poin kelima yang paling fundamental adalah meyakini Cukuplah Allah Sebagai Penolong. Dengan melazimkan zikir “Hasbunallah wa nikmal wakil, nikmal maula wa nikman nasir”, hati akan mantap bahwa Allah adalah satu-satunya penolong yang dibutuhkan. Semudah apapun urusan, tanpa izin Allah akan sulit. Namun, sesulit apapun urusan, jika Allah yang mengaturnya, semuanya akan menjadi mudah. Inilah kunci ketenangan hati yang sejati.
Tentu, bukan berarti di dunia ini tidak ada kebahagiaan, sebab jika isinya hanya penderitaan, itu adalah neraka. Namun, dunia ini adalah tempat cobaan, bukan surga. Dengan menerapkan lima prinsip ini, seorang hamba akan siap menerima yang cocok dan yang tidak cocok, tidak mudah mengeluh, dan hatinya akan selalu berbaik sangka atas setiap takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT..
Sumber: Kajian Madani Masjid Al Falah Surabaya oleh Ustadz Marzuki Imron dengan Tema “Dunia Nggak Bisa Tenangin Kamu, Tapi Allah Bisa”