Rahasia Ikhlas: Kunci Menerima Takdir Menurut Imam Al-Ghazali

Kajian Pagi Kitab Minhajul Abdidin oleh Ustadz Anshori Syukri di Masjid Jami' Assagaf
Kajian Pagi Kitab Minhajul Abdidin oleh Ustadz Anshori Syukri di Masjid Jami' Assagaf

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Jalan hidup manusia, dari perkara terkecil hingga takdir besar, telah diatur oleh Sang Pencipta dengan penuh hikmah. Pemahaman mendalam tentang konsep takdir, ibadah, dan jalan menuju rida Allah ini menjadi fokus utama dalam Kajian Pagi Kitab Minhajul Abdidin karya Imam Al-Ghazali. Kajian rutin ini disampaikan oleh Ust. Anshori Syukri di Masjid Jami’ Assegaf pada Senin 1 Desember 2025, dan memberikan pencerahan bahwa esensi ibadah terletak pada niat hati dan keikhlasan menerima ketetapan-Nya.

Dalam pembukaannya, Ust. Anshori Syukri menjelaskan bahwa Allah SWT adalah Fatoroh, yang artinya Dzat yang menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya, semata-mata dengan kekuasaan-Nya (biqudrotihi). Pemahaman akan sifat ini meletakkan pondasi keimanan, bahwa tidak ada satu pun ciptaan yang bisa menandingi keagungan dan kekuasaan Allah dalam menciptakan segala sesuatu dari ketiadaan.

Kekuasaan Allah tidak berhenti pada penciptaan, melainkan juga pada pengaturan segala urusan di dunia dan akhirat, yang dilakukan dengan kebijaksanaan-Nya (bihikmatihi). Kebijaksanaan ini terlihat dari keragaman takdir, seperti tidak semua manusia dijadikan pandai. Jika semua pandai, semua ingin mengatur dan tidak ada yang mau diatur. Jika semua bodoh, tidak akan ada yang mampu mengatur.

Hikmah Allah juga tampak dalam penciptaan kekayaan dan kemiskinan. Jika semua orang kaya, tidak akan ada yang mau menjadi buruh, petani, atau pekerja kasar lainnya. Termasuk pula adanya takdir sakit dan sehat, yang secara tidak langsung memberikan lapangan hidup bagi para dokter dan perawat. Segala perbedaan ini sengaja diatur untuk menampakkan keagungan dan kebijaksanaan-Nya yang luar biasa.

Inti dari penciptaan adalah pengabdian. Al-Ghazali menegaskan bahwa Allah tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi (ngawulo) kepada-Nya. Nilai sejati manusia terletak pada pengabdiannya kepada Allah, bukan pada posisi sosial atau kekayaan materi yang ia miliki.

Ibadah dalam pandangan ulama tasawuf bersifat luas, melampaui ibadah mahdoh seperti salat dan puasa. Segala aktivitas harian yang dilakukan sesuai perintah Allah dan memenuhi syarat-syarat-Nya bisa menjadi ibadah. Bahkan, tidur pun dapat bernilai ibadah, yaitu ketika tidur berfungsi sebagai upaya meninggalkan maksiat, sehingga ia tidak melakukan perbuatan dosa seperti mencuri atau mabuk.

Batasan antara urusan dunia dan akhirat terletak pada isi hati atau niat seseorang. Pekerjaan mencari uang, yang secara kasat mata adalah urusan dunia, dapat berubah menjadi urusan akhirat jika diniatkan untuk menafkahi keluarga, atau untuk membiayai anak agar dapat menuntut ilmu agama. Niat yang luruslah yang menentukan nilai spiritual suatu amalan, bukan bentuk amalnya.

Jalan menuju Allah disebut wadiun, yang berarti jelas, terang, dan mudah (gampang) bagi orang yang berkehendak (lil qosidin). Kesulitan dalam beribadah bukanlah terletak pada ibadahnya itu sendiri, melainkan pada keengganan seseorang untuk meninggalkan kesenangan dan hawa nafsu pribadinya. Sebagai contoh, salat malam itu mudah, yang sulit adalah meninggalkan kasur dan tidur.

Dalam konteks menerima takdir, Ust. Anshori Syukri menekankan pentingnya sikap ikhlas dan rida. Orang yang menerima takdirnya sebagai tukang becak atau tukang sapu dengan ikhlas akan diangkat menjadi pemimpin di akhirat. Sebaliknya, orang yang terus mengeluh dan tidak menerima keadaannya, meskipun terus bekerja, akan sulit menjadikan aktivitasnya sebagai ibadah. Rida menjadi kunci agar keadaan saat ini dapat menjadi modal melangkah lebih baik di masa depan.

Kajian ini juga menyoroti kekuasaan Allah untuk menyesatkan (yudillu) dan memberi petunjuk (yahdi). Saking kuatnya kuasa Allah, ibadah pun bisa dijadikan penutup (hijab) yang menjauhkan seseorang dari-Nya, seperti ketika seseorang menjadi sombong (ujub) karena amalnya. Namun, ada pula orang yang berada dalam maksiat, tetapi hatinya terus menangis dan merindukan Allah, yang sewaktu-waktu dapat disentuh hidayah dan menjadi lebih dekat kepada-Nya.

Oleh karena itu, bagi mereka yang merasa makam spiritualnya tinggi, diperlukan kehati-hatian yang ekstra. Seseorang harus berjuang agar keberhasilan, pujian, dan penghormatan tidak menjadikannya merasa bahwa semua itu adalah hasil jerih payah sendiri, melainkan anugerah dan rahmat dari Allah SWT.

Sebagai penutup, Ustadz Anshori Syukri menjelaskan makna selawat, yang terdiri dari selawat Allah (pemberian rahmat disertai takzim), selawat malaikat (memohon ampunan), dan selawat orang mukmin (memohon tambahan rahmat bagi Nabi). Selawat yang kita panjatkan sejatinya bukanlah kebutuhan Nabi, melainkan kebutuhan umat, agar rahmat yang dicurahkan kepada beliau meluber dan kembali kepada kita yang berselawat.

Sumber: Kajian Pagi Kitab Minhajul Abdidin oleh Ustadz Anshori Syukri di Masjid Jami’ Assegaf

E-Buletin