KabarMasjid.id, Malang – Umat Muslim dituntut untuk menyeimbangkan antara hubungan vertikal kepada Allah (Hablum Minallah) dan hubungan horizontal dengan sesama manusia (Hablum Minannas). Ternyata, kedua hubungan ini saling terkait erat, di mana kualitas ibadah seringkali tercermin dari kualitas interaksi kita sosial.
Wawasan mendalam mengenai keseimbangan ini diuraikan dalam Kajian Rutin Sabtu Ba’da Maghrib yang dilaksanakan di Masjid Agung Jami Malang Sabtu 29 November 2025. Kajian yang disampaikan oleh KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc, M.Hi ini memberikan pelajaran penting tentang etika bermuamalah dan esensi spiritual dalam beragama.
Inti ajaran Islam, sebagaimana disarikan dari Hadis Nabi, berpusat pada dua hal: bertutur kata yang baik (Thaibul Kalam) dan memberi makan (It’amut Tha’am). Hal ini menunjukkan bahwa perilaku sosial yang baik adalah pondasi utama keimanan yang sejati.
Salah satu bentuk pengamalan Hablum Minannas yang berlimpah pahala adalah perhatian terhadap golongan lemah. Nabi Muhammad SAW menyamakan orang yang menolong janda, orang miskin, dan anak yatim sebagai orang yang berjuang di jalan Allah (Mujahid fisabilillah).
Penyantunan kepada anak-anak yatim tidak boleh sebatas bantuan materi. Lebih dari itu, dibutuhkan bimbingan, kasih sayang, dan perhatian serius terhadap pendidikan mereka, baik akademik maupun non-akademik, untuk menggantikan peran bimbingan yang hilang dari sang ayah.
Bagi mereka yang menjalankan amanah ini, Rasulullah SAW memberikan kabar gembira yang luar biasa. Beliau mengisyaratkan bahwa kedudukan orang yang menanggung kebutuhan anak yatim akan sangat dekat dengannya di surga, ibarat jarak antara jari telunjuk dan jari tengah.
Prinsip berikutnya adalah menjaga lisan. Sebagaimana firman Allah SWT, Wa quulu lin-naasi husna (bertutur katalah yang baik kepada manusia), setiap Muslim diperintahkan untuk selektif dalam memilih kata, seperti memilih buah yang paling manis, agar tidak menyakiti hati orang lain.
Dalam konteks kekinian, bahaya lisan telah meluas menjadi bahaya tulisan atau jejak digital. KH. Faris Khoirul Anam menegaskan bahwa tulisan adalah salah satu dari dua lisan (liannal qolama ahadul lisanaini), di mana dampak negatif yang ditimbulkannya bisa lebih luas dan permanen daripada perkataan biasa.
Oleh karena itu, di era digital, setiap konten atau informasi yang kita sebar harus memenuhi dua kriteria filter: konten tersebut harus Benar (True) dan harus Bermanfaat (Beneficial). Jika salah satu unsur ini tidak terpenuhi, maka kita terancam jatuh ke dalam dosa.
Konten yang Benar tetapi Tidak Bermanfaat digolongkan sebagai Ghibah (gosip). Sebaliknya, konten yang dianggap Bermanfaat (asumtif) tetapi Tidak Benar (seperti berita bohong atau hoax) digolongkan sebagai Fitnah. Kedua kategori ini sama-sama mendatangkan dosa, bukan pahala dakwah.
Selain perhatian pada lisan, kajian ini juga menyoroti perintah Allah untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat (Wa aqimus shalaata wa aatuz zakaata). Penting dipahami bahwa ibadah memiliki dua dimensi ilmu: Fikih (hukum formalitas/syarat sah) dan Tasawuf (aspek spiritual, ikhlas, dan khusyuk).
Seorang Muslim tidak boleh berhenti pada level Formalis, yakni hanya menjalankan ibadah sebatas kewajiban hukum. Ia harus meningkatkan diri menjadi Religius, yaitu menghayati makna ibadah, misalnya meyakini bahwa salat adalah sarana yang mencegah dari perbuatan keji dan mungkar (Innas shalaata tanhaa ‘anil fahsyaa’i wal-munkar). Kita adalah Mukallaf (yang diberi tugas), bukan Muhashil (yang harus menghasilkan), sehingga tugas kita adalah berusaha keras, sementara hasil akhir bergantung pada rahmat Allah SWT.
Sumber: Kajian Rutin Sabtu Ba’da Maghrib oleh KH. DR. Faris Khoirul Anam, Lc,M.Hi, di Channel Youtube Masjid Agung Jami Malang.