Sabar Kunci Sukses Sejati: Kupas Tuntas Konsep Ketangguhan Diri dari Kitab Idhotun Nasyi’in

Kajian Kitab Idhotun Nasyi'in oleh KH Ahmad Mujab Mutohar
Kajian Kitab Idhotun Nasyi'in oleh KH Ahmad Mujab Mutohar

Bagikan postingan :

KabarMasjid.id, Surabaya – Setiap orang mendambakan kesuksesan, namun tak jarang perjalanan menuju puncak diwarnai badai dan cobaan yang menggoyahkan mental. Lalu, apa bekal utama yang harus dimiliki agar visi hidup tidak kandas di tengah jalan? Hal ini dibahas tuntas dalam kajian kitab Idhotun Nasyi’in yang disampaikan oleh KH Ahmad Mujab Mutohar atau yang akrab di panggil Gus Mujab pada 15 November 2025, di Masjid Al Akbar Surabaya. Kajian ini mengupas tuntas bahwa kunci kesuksesan sejati terletak pada karakter tunggal: kesabaran atau ketangguhan pribadi.

Kajian ini merupakan sesi kedua, melanjutkan pembahasan sebelumnya tentang al-iqdam, yaitu konsep memiliki visi ke depan dan tekad kuat untuk terus tumbuh. Namun, Gus Mujab menegaskan, saat visi itu mulai dijalankan, tak mungkin rintangan tidak hadir. Oleh karena itu, seorang yang berpikir maju harus membekali diri dengan konsep ketangguhan yang diulas Syekh Mustofa Alghalayani.

Menurut Syekh Mustofa Alghalayani, seseorang yang tangguh (ar-rajul) adalah ia yang mampu bersabar ketika menghadapi problem besar (al-khutub). Tidak ada pemimpin atau orang besar yang lahir dari permasalahan sepele. Ketangguhan sejati teruji saat seseorang dihadapkan pada ujian di luar batas normal.

Lantas, bagaimana sikap mental orang yang tangguh saat badai datang? Pertama, ia akan menghadapi problem besar dengan ketenangan (robitol jaas), bukan dengan kegelisahan atau kebingungan. Mental baja tidak pernah gupuh dan tidak mudah penuh kebimbangan (masdudan).

Kedua, orang tangguh akan fokus pada dua hal: menguatkan diri agar tidak terlalu merasakan sakit akibat rintangan, dan yang terpenting, ia langsung fokus mencari solusi (tas’a hadiatan) untuk menyelesaikan masalah tersebut. Energi dan pikirannya dihabiskan untuk memecahkan persoalan, bukan untuk meratapi kesusahan.

Sikap ini sangat kontras dengan karakter jiwa yang bodoh (nafsul jahilah) atau mental lemah. Ketika menghadapi masalah, mereka langsung bingung (alti) dan galau. Bahkan, persoalan sepele pun terasa begitu besar dan memberatkan, menghabiskan seluruh daya pikir hanya untuk kecemasan.

Lebih parahnya, mental lemah sudah memiliki mindset negatif bahwa dirinya tidak akan bisa menyelesaikan masalah tersebut. Mereka merasa tidak punya kekuatan, tidak punya upaya, dan tidak mampu keluar dari kesulitan. Ini seperti mengibarkan bendera putih sebelum peperangan dimulai.

Inilah pembeda mendasar antara dua karakter manusia: satu selalu berpikir, “Apa yang bisa aku lakukan untuk menyelesaikannya?” sementara yang lain berpikir, “Aku tidak bisa melakukan apa-apa.” Pemimpin atau individu yang kuat akan selalu melihat sesuatu dari sisi positifnya (positive thinking) untuk mencari jalan keluar, bukan mundur karena melihat sisi negatif.

Untuk membangun karakter sabar yang tangguh, Syekh Mustofa Alghalayani berpesan agar membiasakan diri melakukan hal-hal positif dan menghindari hal-hal negatif. Tujuannya adalah menghiasi diri dengan sifat-sifat kebaikan dan tumbuh menjadi pribadi yang dewasa (tajjammul bihallir rujuliyah), yang tidak mudah merengek.

Penting juga untuk meningkatkan level diri dari karakter kebinatangan (hayawaniah)—yang hanya fokus pada urusan perut, makan, dan tidur—menuju karakter kemanusiaan (al-insaniyah). Artinya, seseorang harus mulai berpikir logis, menggunakan akal, dan menjadikan hidupnya bermanfaat untuk banyak orang, bukan sekadar memuaskan nafsu pribadi.

Terakhir, Gus Mujab menekankan bahwa kesabaran itu tidak selalu pasif. Ada tiga konsep sabar: sabar menghadapi musibah (ala al-mashoib), sabar istiqamah dalam kebaikan (ala ath-tha’ah), dan sabar untuk tidak terjerumus pada kemaksiatan (an al-ma’ashi). Kesabaran yang aktif inilah yang akan mengokohkan visi hidup.

Namun, semua sabar itu tidak ada artinya tanpa bekal spiritual utama, yaitu ketakwaan (wattaqullah). Sebagaimana firman Allah dalam QS Ali Imran: 200, “Bersabarlah, kuatkanlah kesabaran kalian, kuatkanlah diri kalian, dan bertakwalah kepada Allah, niscaya kalian menjadi orang-orang yang beruntung.” Dengan fokus pada Zat yang memberi ujian—bukan pada ujiannya—kita akan menikmati segalanya dan meraih pahala tak terhitung.

Sumber :  Kajian Kitab Idhotun Nasyi’in yang disampaikan oleh KH Ahmad Mujab Mutohar di Channel Youtube Majid Al Akbar TV

E-Buletin