KabarMasjid.id, Surabaya – Masalah kesehatan mental dan tantangan akhlak anak di era modern ini semakin kompleks, menuntut peran orang tua yang strategis. Menjawab tantangan tersebut, Masjid Al Akbar Surabaya bekerja sama dengan Rumah Sakit Umum Dr. Sutomo menggelar kajian “Ngaji Sehat Episode 15” pada 13 November 2025. Kajian ini menghadirkan narasumber Dr. Izzatul Fitriah, seorang spesialis ilmu kedokteran jiwa dan konsultan, yang memaparkan secara rinci mengenai “Parenting Orang Tua untuk Kesehatan Mental dan Akhlak yang Baik.” Kajian ini menegaskan kembali bahwa pengasuhan bukan hanya soal pemenuhan kebutuhan fisik, melainkan penanaman fondasi mental dan etika yang kuat.
Dalam paparannya, Dr. Izzatul menggarisbawahi urgensi pendidikan karakter sebagai prioritas utama. Mengutip Hadis Riwayat Tirmidzi, beliau mengingatkan bahwa tidak ada pemberian seorang ayah yang lebih utama bagi anaknya selain pendidikan dan tata krama (adab) yang baik. Bahkan, mendidik anak dinilai lebih baik daripada bersedekah setiap hari. Pesan ini menekankan bahwa fokus orang tua tidak boleh bergeser hanya pada prestasi akademik semata, melainkan pada pembentukan karakter dan etika dasar.
Untuk mencapai hasil parenting yang optimal, pengasuhan harus disesuaikan dengan tahap perkembangan psikologis anak. Tahap pertama, usia 0-18 bulan (Basic Trust vs. Mistrust), adalah masa krusial untuk menanamkan rasa bahwa dunia adalah tempat yang aman. Orang tua wajib memberikan respons cepat dan tanggap (ideal di bawah 1 menit) terhadap tangisan dan kebutuhan bayi. Respons yang lambat dapat berakibat fatal, memunculkan rasa cemas, khawatir berlebihan, dan ketidakpercayaan diri pada anak di masa depan.
Memasuki usia 1-3 tahun (Otonomi), anak mulai belajar kemandirian, seperti mencoba makan sendiri atau toilet training. Pada fase ini, orang tua diimbau untuk tidak terlalu mengekang atau melarang anak bereksperimen. Melarang secara berlebihan dapat menyebabkan anak tumbuh menjadi pribadi yang malu, ragu-ragu, dan memiliki rasa rendah diri. Kemudian, di usia 3-6 tahun (Inisiatif), anak perlu diizinkan berkreasi dan memilih, seperti memilih pakaian atau alat gambar, untuk melatih kemampuan mengambil keputusan.
Pada usia sekolah dasar (Industri vs. Inferiority), anak berinteraksi dengan tugas dan lingkungan sosial yang lebih luas. Orang tua dianjurkan untuk memberikan panduan yang baik dan apresiasi sewajarnya atas usaha anak dalam menyelesaikan tugas. Hindari kritik yang berlebihan karena hal tersebut dapat memunculkan sikap rendah diri (inferiority). Sementara itu, masa remaja (12-18 tahun, Identitas) menuntut orang tua untuk berperan sebagai teman sekaligus mentor, membuka jalur komunikasi yang baik di tengah gejolak hormonal dan pencarian jati diri.
Dr. Izzatul merangkum kunci pengasuhan yang baik dalam tiga pilar: “Let Them Grow”, “Love”, dan “Limitation”. Pilar “Let Them Grow” berarti memberikan fasilitasi dan ruang bagi anak untuk berkreasi dan berinovasi. “Love” adalah pemberian kasih sayang yang tulus, bahkan saat menghadapi mood anak yang sedang buruk. Namun, kasih sayang harus diimbangi dengan “Limitation” atau batasan-batasan yang jelas, dan yang terpenting, selalu jelaskan alasan di balik batasan tersebut kepada anak.
Sistem pengasuhan dalam Islam dibagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama, usia 0-7 tahun, anak diperlakukan “seperti raja”. Fokusnya adalah pada kenyamanan, eksplorasi, dan membangun ikatan emosional. Orang tua wajib melayani anak dengan sepenuh hati dan tulus, serta meluangkan waktu minimal 15-30 menit sehari untuk bermain bersama. Anak juga harus diajarkan kata-kata sopan seperti “tolong,” “maaf,” dan “terima kasih.”
Pada tahap 0-7 tahun, anak sangat rentan meniru. Oleh karena itu, orang tua wajib memberikan contoh keteladanan yang baik. Jika anak sering melihat orang tua berbicara kasar, berdebat, atau kurang berempati, perilaku tersebut akan ditiru. Orang tua juga harus belajar menahan emosi, seperti menarik napas dan berhitung saat anak melakukan kesalahan yang membuat kesal, alih-alih langsung marah. Pendekatan ini akan membentuk anak menjadi pribadi yang ceria dan bertanggung jawab.
Tahap kedua, usia 7-14 tahun, adalah masa penanaman adab, etika, dan tanggung jawab. Di usia ini, kewajiban-kewajiban agama, seperti salat, mulai ditekankan. Anak harus dilibatkan dalam rutinitas keluarga (misalnya jadwal mencuci piring) dan didorong untuk memecahkan masalah-masalah sederhana sendiri, alih-alih selalu disiapkan oleh orang tua. Pemberian apresiasi atas pencapaian rutin, seperti khatam satu juz Al-Qur’an, juga dianjurkan.
Tahap terakhir, usia 15-21 tahun, adalah masa remaja hingga kuliah. Fokus utama bergeser menjadi komunikasi terbuka dan peran orang tua sebagai mentor atau teman diskusi. Hal ini penting untuk membimbing anak dalam menentukan pilihan hidup, seperti rencana kuliah, serta menanggapi masalah pertemanan atau ketertarikan pada lawan jenis. Menjadi teman diskusi membantu mengarahkan anak tanpa memicu pertentangan.
Dalam sesi tanya jawab, Dr. Izzatul turut membahas tantangan praktis, seperti kasus anak 10 tahun yang ngotot ingin mondok ke luar negeri. Solusinya adalah menunjukkan aturan yang berlaku dan mengarahkan anak untuk berlatih di pondok lokal. Beliau juga memperingatkan bahwa kritik berlebihan, terutama sejak usia TK, harus diganti dengan apresiasi dan masukan yang konstruktif. Inti dari seluruh proses ini adalah memahami motivasi di balik perilaku anak dan memberikan solusi yang berorientasi pada aturan dan kebaikan.
Pada Akhir Kajian Dr. Izzatul menyimpulkan bahwa pengasuhan yang ideal membutuhkan kombinasi ilmu psikologi perkembangan dan nilai-nilai agama. Dengan melalui tiga fase pengasuhan (Raja, Pelayan, dan Teman Diskusi), serta menerapkan tiga prinsip kunci (Grow, Love, Limitation), orang tua dapat menciptakan anak yang tidak hanya berakhlak mulia tetapi juga memiliki kesehatan mental yang prima dan rasa percaya diri yang tinggi. Mengasuh adalah tugas bersama ayah dan ibu, bukan hanya kewajiban salah satu pihak.
Sumber : NGAJI SEHAT – Episode 15 di Masjid Al Akbar TV oleh Dr. Izzatul Fitriah dengan tema “Parenting Orang Tua untuk Kesehatan Mental dan Akhlak yang Baik.”